Karena Kerja Adalah Cinta Yang Mengejawantah
Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri.
(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, hal 34).
Merupakan kebiasaanku mengingat-ingat apa yang kulakukan seminggu lalu. Hari ini hari Sabtu (atau malam Minggu?). Dan aku betul-betul lupa apa yang kulakukan Sabtu malam seminggu lalu. Sehabis Maghrib aku melanjutkan kerjaan mengedit naskah Pram TG&S di kantor Malka. Didin menjaga toko. Ici sudah pulang sejak sebelum Maghrib. Doni sendiri keluar entah kemana. Perasaanku begitu tidak enak. Entah kenapa. Kucoba meraba-raba, masih juga belum terjawab. Akhirnya kubiarkan bersemayam kututupi kerja naskah.
Masih juga mengingat-ingat apa yang kulakukan Sabtu malam seminggu yang lalu pada jam segini. Tidak juga ketemu. Tiba-tiba dari pintu depan nongol anak kecil umur 3,5 tahun masuk ke ruang kerjaku begitu saja. Tidak kaget. Tapi mulai bertanya: gerangan siapa orangtuanya yang berjalan di belakangnya. Tidak mungkin ada anak kecil umur 3,5 tahun muncul begitu saja di kantor Malka.
Ternyata Yopi, kawan kuliah di Jurnalistik dulu. Ternyata ia tidak berdua, melainkan bertiga bersama Nur, Istrinya. Nur tampak terbelalak melihat aku. Entah sudah berapa tahun aku tidak bertemu Nur. Dulu waktu masih kuliah mereka berpacaran. Hingga pada akhirnya menikah. Hebat!
Yopi sudah beberapa kali ke Malka. Kadang sendiri, kadang dengan anaknya (yang ia beri nama Ardika), kadang dengan adik iparnya. Yopi teman kuliah di Jurnalistik, tapi tidak menyelesaikan kuliahnya. Awalnya ia memilih menjadi wartawan.
Sejak awal-awal kuliah Jurnalistik aku pun turut bergabung dan mendirikan tabloid GM yang dicetuskan Ayahnya Yopi, S-H, di Bandung. Itu untuk pertama kali aku bekerja di sebuah tabloid “umum”. Sementara di dalam kelas masih dijejali teori teknik wawancara atau belajar 5w+1H, aku sudah belepotan dengan kerja jurnalistik di jalanan.
Ayah Yopi, S-H, wartawan kepolisian (atau yang sering mangkal di Polwiltabes?). Jadi akses yang berhubungan dengan kepolisian sangatlah mudah didapat. Pernah suatu kali sepulang dari percetakan di Soekarno Hatta, pukul 03.00 pagi bersama Yopi, di daerah Kiaracondong ada razia polisi. Mobilku dihentikan seorang petugas. Aku baru ingat SIMku sudah almarhum. Kukeluarkan semua surat. Saat si petugas masih lagi memeriksa STNK, kukeluarkan kartu pers (sesuatu yang sebetulnya sebal kulakukan, tapi mengingat SIMku mati, kelakuanku jadi sama brengseknya!), ia menilik kartu persku. Ia melihat nama S-H sebagai bosku. Tanpa disangka si petugas minta maaf padaku karena telah menyetop dan mengganggu perjalananku. Surat-surat pun dikembalikan. Sableng! pikirku dalam hati. Aku pun ngeloyor pergi melanjutkan perjalanan menuju kantor redaksi.
Hal-hal yang berhubungan dengan kepolisian seperti itu sangat banyak sekali kalau untuk diceritakan. Semisal, suatu kali pernah mobil kru redaksi distop polisi yang bertugas di jalanan karena si supir kedapatan tak membawa SIM. Kru pun menelpon kantor redaksi. S-H pun datang ke tempat kejadian. Tanpa basa-basi S-H menempeleng petugas yang menilang kru redaksi. Edhan! Kelakuan brengsek memang bisa terjadi pada siapapun. Ah entahlah.
Aku lupa berapa lama kerja di tabloid GM, milik S-H ayah Yopi. Akhirnya aku resign. Yopi masih meneruskan kerja di sana, di perusahaan ayahnya itu. Lalu bertahun-tahun lamanya kami tak saling bertemu. Kudengar ia sudah ganti-ganti pekerjaan, juga berganti media. Ia sempat kerja di media hukum, ternak lele, atau entah apalagi.
Akhir 2005 ia tiba-tiba muncul di Malka. Ceritanya ia kembali bekerja di GM, tabloid ayahnya itu yang kini telah berubah manjadi majalah. Aku selalu memandang tak ada yang hebat seseorang yang bekerja di perusahaan ayahnya. Entah kenapa. Mungkin ini pengalaman pribadi saja, yang belum tentu tepat kebenarannya. Sebagai pendapat pribadi sudah barang tentu belum tentu cocok diterapkan pada orang lain. Barangkali juga karena ayahku sendiri terlalu keras pada anak-anaknya dalam soal kemandirian.
Awal 2006 Yopi makin kerap ke Malka. Ia sudah tak bekerja di mana-mana lagi.
“Ada apa dengan GM?” tanyaku.
“Masih. Tapi entahlah…” keluhnya. “Aku ingin kerja sama kamu aja,”
“Di sini? Apa yang bisa kamu kerjakan…”
“Entahlah…” keluhnya lagi.Hmm, dia sendiri tidak tau apa yang bisa dikerjakan. Aku semakin bingung. Ya, kerap kali aku bingung jika musti menghadapi teman-teman lama. Pernah suatu kali saat aku diminta jadi pembicara di sebuah diklat jurnalistik, di Kampus 2 Unisba, seorang kawan yang sedang pesantren sarjana datang mendekati aku. Ia sudah hendak diwisuda.
Katanya, “Niel, carikan pekerjaan dong, anakku udah dua nih.”
Mendengar itu aku marah sekali. Sangat marah. Dia, umurnya jauh di bawah aku. Baru saja menyelesaikan sidang skripsi, dan sedang mengikuti (kewajiban) pesantren sarjana (bagi sarjana yang hendak diwisuda), sudah menikah, beranak dua tapi belum bekerja.
“Kamu!” tetakku, “Kamu sudah lulus jadi sarjana, sudah punya istri dan anak, kenapa minta kerja sama aku?! Bukankah kamu dulu yang mengatakan aku nggak becus kuliahnya dan lebih banyak kerja di luar ketimbang di kampus?!”Mendengar itu ia hanya tertunduk cengengesan. Tapi dengan cepat kusadari betapa kasarnya aku. Tapi aku tidak bisa membantu apa-apa. Beberapa tahun lama kemudian ia datang ke Malka, setelah aku mendirikan Malka, minta kerja di Malka. Akhirnya kerjalah ia di Malka, meski saat ini ia sudah keluar: tapi tetap dengan satu istri dan dua anak.
Kembali ke Yopi. Dengan menyesal aku tak bisa memberikan kerja apa-apa. Mengetahuannya tentang perbukuan pun begitu minim. Entah musti kupekerjakan sebagai apa kalau kuterima. Akhirnya cukup lama ia tak ke Malka. Hingga tiba-tiba Sabtu malam seminggu lalu ia datang kembali. Ia ingin meminjam buku-buku dari Malka dan mencoba menjajakannya di Gasibu di hari Minggu pagi. Di lapangan Gasibu Bandung setiap hari Minggu pagi memang selalu ada pasar kaget. Segala apa yang bisa kita sebutkan lewat mulut dijual di sana. Jangankan yang bisa disebutkan lewat mulut, yang baru sempat terpikirkan di dalam otak pun, dijual di sana. Dan Yopi hendak menjual buku.
“Selama ini aku sudah berjualan pakaian setiap hari Minggu. Siapa tau buku juga lumayan,” alasannya.Aku senang mendengar itu. Selama ini aku senang pada orang yang mau bekerja. Karena bekerja membentuk karakter. Membentuk kepribadian. Apalagi jika ditambah kemandirian, bertambah lipat apresiasiku terhadap seseorang.
Maka kedatangannya bersama Ardika, dan Nur Istrinya malam ini berhasil membuatku teringat apa yang kulakukan Sabtu malam seminggu lalu: Ya, seminggu lalu Yopi datang ingin meminjam buku untuk dijual. Aku senang bisa mengingatnya kembali. Malam ini ia datang lagi hendak melaporakan hasil penjualan. Anaknya Ardika sudah seliweran berlari-lari antara buku demi buku di ruang kerja. Yopi hanya mengikuti kemana anaknya berlari.
Nur duduk di tentangku. Ia mulai bercerita tentang penjualan buku di Gasibu. Dari ceritanya ternyata mereka berdua berjualan di lapak Gasibu.
“Lagi apa, Niel?”
“Ada naskah yang musti kuedit,” jawabku apa adanya.
“Nggak ngapel?” selidiknya tersenyum.Aku hanya membalasnya dengan senyum pula.
“Hebatlah, mau nyaingin Pram ya?”
“Nyaingin? Wah… terlalu berlebihan ah. Dan kenapa Pram? Hanya ngedit biasa kok,” ucapku sembari cepat-cepat mencari rokok. Berbincang dengan istri teman (manis pula, ha!) selalu membuatku rikuh. Rokok biasanya bisa jadi alasan pengganti kesibukan.Ya, Nur memang manis. Sejak Yopi kuliah dulu aku tau betul mereka sudah pacaran. Hingga sekarang menikah dan punya anak 3,5 tahun, terbit rasa salut pada mereka.
“Ya baguslah. Daripada Yopi teu puguh (nggak jelas) mau kemana…”
Aku kaget mendengar penuturannya. “Hei, kok ngomong gitu?!” sergahku cepat.
“Ya jadi wartawan nggak jelas, jadi driver juga nggak jelas. Lieur (bingung)!”
“Ya jangan ngomong gitu dong…”
“Apalagi aku sudah nggak kerja, Niel.”
“Oya?”Nur tadinya memang bekerja di sebuah perusahaan terigu terbesar di Indonesia. Tentu saja anak perusahaan yang di Bandung. Malam itu ia bercerita keluhannya selama bekerja di sana. Editan naskah pun kuhentikan. Ia bercerita tentang kantornya, manajemennya, juga GMnya yang gajinya Rp 25 juta sebulan dengan mobil dinas volvo, entah tipe apa, tidak ia sebutkan. Mungkin 960. Akhirnya seluruh karyawan yang berjumlah 110 orang di-PHK. Entah ada persoalan apa. Ia banyak bercerita tapi tidak rinci.
“Jadi sekarang ya jualan pakaian aja di Gasibu…”
Duh! Ada rasa ngenes di perasaan. Tapi melihat mereka tampak gembira, aku sedikit bahagia. Hidup memang tidak boleh cepat menyerah toh?
Selama ini Yopi tinggal dan bergabung di rumah orangtua Nur. Tinggal bersama mertua di komplek perumahan “Mertua Indah”. Ai, alangkah indahnya, Kawan! Nur melanjutkan cerita. Aku hanya bisa mengepul-ngepulkan asap rokok. Satu lagi jalan cerita seseorang harus kutelan malam ini. Betapa jalan hidup seseorang memang tak ada yang bisa mengira. Hari ini kita makan seafood seharga Rp 200 ribu sepiring, siapa nyana besok kita tak jelas musti makan apa karena tak ada uang di kantong. Ya, hari ini bilang cinta, besok sudah mencerca. Ai, seperti tabloid infotainment saja. Tapi bukankah begitu dialektika hidup di dunia?
Jam delapan kurang mereka pamit pulang. Apalagi Ardika, anak mereka sudah merengek minta pulang.
“Mau kemana sih…” tahanku.
“Yuk-yuk…” ajak Nur, “Om Daniel mau ngapel!” ujarnya tersenyum.
“Daniel aja ngapel!” ledek Yopi.Aku hanya ngakak.
Mereka pun pamit. Bertiga mereka berjalan di pelataran Malka. Nur berkejar-kejaran dengan Ardika. Yopi berjalan mengiringi di belakangnya. Mereka tampak bahagia. Sejauh yang bisa kulihat dengan mata. Dalam hati mereka, entahlah. Semoga saja mereka bahagia luar dalam. Mereka orang-orang berani. Berani mengambil keputusan. Berani menempuh hidup. Bukankah dalam Bumi Manusia Pram menulis: “Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap, kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.” Ya, mereka tak menyerah pada hidup. Mereka terus menjawabnya setiap pertanyaan hidup mampir pada mereka. Orang-orang berani itu!
Dari teras Malka kulihat mereka makin menjauh. Tiba-tiba aku melihat diriku sendiri. Malam minggu begini seorang diri. Yang kulakukan setelah ini tak lain kembali menekuri editan naskah. Aku yang sesumbar ingin menjadi majikan atas diri sendiri, ternyata menjadi budak kerja dari pekerjaan yang kuciptakan sendiri. What have I done? Aku kalah berani dengan mereka. Mereka berani menikah dan berbiak pula. Meski musti kehilangan pekerjaan. Sementara angka 30 sudah terlewati dari umurku. Aku bukan apa-apa dibanding mereka. Aku tertunduk dibanding keberanian mereka.
What have you done, Niel? ujarku pelan sembari ngeloyor masuk kembali ke ruang kerja.
Bandung, Sabtu 4 Maret 2006.

