Pertemuan Terakhir Malka*
Dalam hidup kita diajarkan dialektika. Ada siang ada malam. Ada terang ada gelap. Ada baik ada jahat. Ada rajin ada malas. Ada kaya ada miskin. Semua terdengar klise? Mungkin. Tapi itulah hidup di dunia. Selalu ada penyeimbang sebagai pasangannya.
Begitu pun dengan pertemuan. Ada perjumpaan tentu ada perpisahan. Terkadang kita begitu girang pada perjumpaan awal dengan seseorang. Begitu girangnya sehingga kita lupa, di balik pertemuan sudah barang tentu menyisakan perpisahan. Tak pelak di balik sembah serta puja-puji tersembunyi hujat dan cacimaki. Begitu pun dengan cinta, selalu terselip cerca di dalamnya.
Sabtu malam, kembali aku digerogoti resah. Entah kenapa. Mungkin soal Malka. Mungkin. Atau soal lain yang selalu saja datang dan sembunyi hingga malas untuk mengurainya, karena kerap datang tanpa permisi. Ya, ini adalah pertemuan terakhir. Terkadang kita tak pernah tau dengan apa yang bakal terjadi dengan diri kita. Ya, ini adalah pertemuan terakhir!
Kabar itu kami dengar mendadak. Tak mendadak benar kalau mau dikata. Sebetulnya sudah sejak jauh hari. Sejak beberapa bulan lalu. Tapi kepastiannya baru datang pada Jum’at 10 Maret lalu.
Sudah setahun Malka mendiami tempat Jalan PHH Mustopa 54 Bandung (Februari 2005). Sebelumnya bertempat di Jalan Ir.H.Juanda 386 (samping Hotel Sheraton Dago) Bandung (September 2004). Setelah kepindahan ke Mustopa, terasa sekali Malka menemukan karakternya. Menemukan hendak dibawa kemana. Independen secara total.
Tokonya tak begitu besar, tapi bisa menampung ribuan buku. Halamannya sangat luas. Di samping toko terdapat teras yang dapat digunakan berbagai acara serta pertemuan diskusi. Di samping toko terdapat ruangan yang diperuntukkan bagi perpustakaan, kelas penulisan cerpen, kantor penerbitan, gudang stok buku, mushola, serta kamar mandi.
Sudah setahun Malka di sana. Sudah puluhan acara digelar. Dari penulis-penulis tingkat lokal, nasional bahkan dari luar negeri. Malka mulai tampak secara warna serta bentuknya. Dari segi bisnis, nyatanya omset per bulan di Mustopa lipat kali dari omset per bulan saat masih di Dago. Begitu terasa. Publikasi pun tak kalah cantik. Profil serta acara Malka tidak saja dimuat di media-media lokal semata, tapi di media-media nasional.
Kami memang selalu bekerja dalam target. Tidak ada istilah bekerja mengalir bagaikan air. Kami selalu punya goal-goal baik kecil maupun besar. Tercapai atau tidak goal itu, itu bukan soal. Karena bukan itu tujuannya. Karena yang terpenting adalah bagaimana menumpahkan seluruh daya secara total saat menjalani goal tersebut.
Contohnya, kami selalu punya goal: profil Malka musti dimuat secara bertahap dari media lokal hingga nasional. Kalau dulu bisa di Pikiran Rakyat atau Metro Bandung (sekarang Tribun Jabar). Tentu tak puas jika hanya bermain di media Bandung semata. Hingga Republika, Kompas, Koran Tempo, Majalah Tempo, Gatra, atau Matabaca pun berangsur-angsur memuat profil Malka. Bekerja seperti itu tentu lebih sistematis serta punya tujuan.
Saat pertama kali pindah ke Mustopa, nyaris kami mengadakan 4 kali acara dalam setiap bulan. Berarti seminggu sekali selalu ada acara di Malka. Ini memang penting karena kami baru saja melakukan pindah tempat. Publikasi memang tak bisa dianggap enteng serta sembarangan. Dan Malka pun mulai didengar.
Tentu saja kami pun tak bisa melupakan kawan-kawan yang banyak mendukung serta membantu kami hingga Malka bisa berjalan sendiri seperti anak kecil yang baru mulai berjalan. Yah, ibarat anak kecil: lagi lucu-lucunya lah…
Selain penerbit dan pengisi acara, tak pelak banyak sekali sokongan dari kawan-kawan dalam ikut melatih Malka belajar berjalan, seperti Tarlen Handayani, Arifin Ciptadi, Erni Herlina, Vivi Maghvie, Supriyanto, Deny Riana, Deni Rachman, Wiku Baskoro, Pramita Gayatri, Shadan, Deasy Damayanti, Irawati, Ima Nurma, Dewi, Gunawan, Wing Andi Kusumah, Deni Sondari, Didin Tulus, Doni S Rayandi, Ichi, Yus R. Ismail, Eriyandi Budiman, Soni Farid Maulana, Abdul Hamid, juga kawan-kawan MembacaPramoedya, kawan-kawan Ultimus, kawan-kawan “eks Wabule”, kawan-kawan Mnemonic, kawan-kawan “Gank Sabuga”, kawan-kawan kelas penulisan cerpen (Komunitas Rumah Malka), juga kawan-kawan wartawan baik di Bandung maupun di Jakarta, atau banyak lagi yang sangat-sangat-sangat berperan pada Malka. Mereka memiliki tempat tersendiri dari mulai Malka dikandung, dilahirkan, disusui, ditimang-timang, dininabobokan, diajari berjalan, dimarahi, hingga kini mulai berlari-lari keci…
Belum, Toko Buku Malka belum dua tahun. Masih sebesar bayi mungil. Tapi untuk ukuran toko buku alternatif, bolehlah sedikit dapat diperhitungkan keberadaannya dari kawan-kawan toko buku sejenis yang lain. Kalau ada luang waktu ke Jakarta atau kota-kota lain, tak sedikit yang sudah lagi tau tentang Malka. Beberapa kawan yang tinggal di luar negeri pun tak sedikit yang membeli buku di Malka via email. Kalau mereka kebetulan datang ke Indonesia, tak pernah tak mampir ke Malka, baik yang di Eropa, Amerika, Australia atau New Zealand. Tentu itu mengongkosi semangat kami agar membuat kami lebih keras lagi dalam bekerja.
Saat Toko Buku Malka, Penerbit Malka, juga Kelas Penulisan Cerpen Malka berjalan dengan ajeg, tiba-tiba datang kabar itu. Kabar yang sempat hilang berbulan lamanya. Kini muncul dengan pastinya. Ya, kabar itu!
Kabar apa? Ceritanya, tempat dimana Malka berdomisili akan dijual! Si empunya rumah mematok harga 3 milyar untuk tanah dan bangunan seukuran… -bodohnya kami tak pernah menghitungnya! Sudah berbulan lamanya belum juga laku (atau tak pernah laku?). Kami para pengontrak di sini tentu tenang-tenang saja. Memutuskan kontrak tentu tak semudah begitu saja. Tapi tiba-tiba, Jum’at 10 Maret lalu, datanglah kabar itu: tempat ini laku dijual. Lalu? Kami dipersilahkan mengosongkan tempat dalam waktu satu bulan dengan ganti rugi serta uang kontrak kembali. Satu bulan?! Hanya satu bulan?! Sableng!!
Kalau saja kami punya uang barang 4 atau 5 milyar, tentu tanah serta bangunan ini kami beli saja. Punya uang 5 milyar kalo cuma nangkring di deposito bank tak bakal jadi apa-apa toh? Betapa hinanya hidup dari bunga deposito! Tidak produktif sama sekali! Ya, kalau saja punya uang segitu, mending kami beli saja. Kami ratakan dengan tanah. Lalu kami bangun komplek kesenian dimana di dalamnya meliputi toko buku, penerbit buku, kantor distribusi buku, perpustakaan, galeri pameran lukisan, ruang serba guna untuk berbagai pagelaran seni, pendopo untuk latihan tari, kelas untuk belajar menulis, teras untuk belajar melukis, kedai untuk menyeruput kopi sembari diskusi, wow! Indahnya yang namanya bermimpi. Namanya juga mimpi. Boleh saja toh? Justru ‘kan bahaya kalau kita tak punya mimpi! You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one, kata John Lennon.
Bagi kami ini kabar girang sekaligus menggetarkan. Kenapa girang, karena kami memang sudah ingin sekali pindah dari Mustopa. Kenapa menggetarkan? Tempo satu bulan yang membuat kami kelimpungan.
Mencari tempat bagi toko buku memang tak semudah mengontrak tempat untuk jualan duren. Barangkali masih lebih mudah mencari rumah mungil nan cantik untuk persiapan pernikahan. Karena toko buku menyangkut ruang, halaman, harga, suasana, serta tentu saja market. Secara geografis jadi pertimbangan pula.
Itulah yang terjadi saat ini dengan Malka. Malka musti pindah bagi kami tak soal. Karena kami pun memang sudah menginginkannya. Tak sedikit toko buku sejenis yang pindah-pindah tempat, karena pemilik lama tak lagi melanjutkan tempatnya untuk disewakan. Sebut saja Tobucil, Ultimus, atau Bambu. Bukankah di dunia ini tak ada yang tak “hijrah”?
8 April 2006 tempat dimana Malka berada musti kosong. Dan kami di pertengahan Maret ini belum lagi tau musti pindah kemana. Setiap pagi, siang, sore, atau di malam-malam yang sunyi kami kerap mengitari pojok-pojok kota Bandung untuk mencari calon tempat baru. Kami memang tidak pernah berhenti mencari. Tapi dunia juga masih belum berhenti.
Jadi, pertemuan terakhir? Ya. Ternyata acara hari Sabtu, 11 Maret lalu, saat diskusi buku Mite Harry Potter merupakan acara terakhir Malka di Mustopa. Kami tidak berniat lagi menggelar acara di Mustopa. The Last!
Saat banyak kawan menerima SMS tentang acara terakhir Malka, bertumpuk SMS balasan menanyakan keberadaan Malka. Tidak, tidak… Acara terakhir di Malka Mustopa memang ya. Tapi acara terakhir Malka? Tentu saja tidak. InsyaAllah Malka akan tetap ada. Kami tak sampai hati membunuhnya hingga mati muda. Betapa Malka dikandung serta dilahirkan dengan keringat, darah (saat menggergaji rak buku ‘kan sempat berdarah mungkin…) serta cucuran air mata tumpah di halaman-halaman serta dindingnya…
Malka akan tetap ada. Saat acara Sabtu 11 Maret banyak yang datang justru ingin menanyakan keberadaan (atau kelanjutan) Malka.
“Tapi Malka tetap akan ada ‘kan?” tanya Lenny Nurlina, seorang yang aktif di Komunitas Rumah Malka.
“Kalau boleh tau, memangnya kenapa?” tanya kami.
“Jangan, jangan sampai nggak ada. Malka banyak sekali mbuka mataku tentang dunia yang pada akhirnya kusukai. Dunia baca tulis juga perbukuan. Aku bakal sedih sekali kalo sampai Malka selesai. Aku belajar semua itu dari Malka.” terangnya.Atau ada lagi yang berujar,
“Tapi Malka memang bakal tetap dilanjutkan ‘kan?” tanya Dian Hartati, penulis muda yang cukup cemerlang, yang aktif di Mnemonic.
“Kalau boleh tau, memangnya kenapa?” tanya kami lagi dengan pertanyaan yang sama.
“Ya jangan sampai nggak ada atuh… Sayang. Udah seperti ini.” tuturnya.Jawaban-jawaban seperti itu membuat kami sadar: Malka bukan milik kami semata. Malka, tanpa kami sadari, ternyata juga milik orang lain juga. Orang lain merasa memilikinya. Mungkin. Tapi paling tidak tak sedikit orang yang rupanya punya hak untuk menginginkan Malka tetap ada. Kami jadi terenyuh sendiri.
Padahal kalau saja kami mau, bisa saja kami menutup Malka ini. Siapa yang bakal rugi? Tapi tentu saja kami tak berpikir seperti itu.
Jadi, pindah tempat?
Ya!
Di mana?
Entahlah…
Sampai bertemu di tempat baru yang entah di mana…
Never give up!
* arti Malka adalah = tempat bertemu.

