Archive for August, 2006

Ketika Pram Seratus Hari

 Seratus hari Pram salah satunya ditandai dengan diselenggarakannya acara “Pram Seratus Hari” pada Senin 7 Agustus 2006 di Goethe Haus, Jalan Sam Ratulangi Jakarta. Penyelenggaranya YPKP (Yayasan Penelitian Korban Peristiwa 1965, di mana Pram salah seorang pendirinya). 

Bagaimana acaranya sendiri barangkali sudah diceritakan oleh posting-posting email sebelumnya. Tentu banyak orang datang ke acara ini. Dari Utan Kayu kami berangkat dalam rombongan besar. Sekitar 3 mobil dan beberapa motor. Keluarga Pram dan kawan-kawan Marjinal. 

Continue Reading »

Pram dan Makam di Karet… di Karet…

pramfao.jpg

Sejak Pram dimakamkan pada 30 April 2006, tepat seratus hari kemudian baru aku mengunjungi lagi makam Pram di TPU Karet Bivak, Jakarta.

Seperti makam-makam lain, makam Pram tetap terbujur kaku. Rerumputan tampak sudah membalut rapat seluruh tanah yang masih lagi bernisan kayu itu. Ada seorang lelaki berbaring di dalamnya: Pramoedya Ananta Toer. Continue Reading »

Pram dan Peninggalan Perpustakaannya

Saat menghadiri acara “Pram Seratus Hari” yang diselenggarakan pada Senin 7 Agustus 2006 lalu di Goethe Haus, Jakarta, tentu saja aku bertemu banyak kawan. Salah satunya (atau salah dua?) aku bertemu dengan Agus dan Ratna.

Agus dan Ratna adalah mahasiswa FIB UI. Ratna sendiri sudah lulus dan bekerja. Agus kalau tak salah masih lagi skripsi. Aku mengenal mereka saat diundang jadi pembicara di UI 12 April 2005 tahun lalu bersama Pram, Martin Aleida, dan Richard Oh. Sejak itu kami memang jadi sering berkontak. Continue Reading »

Pram dan Rumah Bojonggede

Apa yang terjadi dengan kediaman Pram di Bojonggede sejak 100 hari sepeninggal Pram? Tidak terjadi apa-apa. Rumah itu tetap kukuh berdiri. Tetap 6 lantai tingginya. Tetap lapang halamannya. Tetap luas ladangnya. Tetap rindang pepohonannya. Tetap cerewet angsanya. Tetap berkecipak kolam ikannya. Sama saja. Tak ada yang beda. Bedanya: sudah tak ada Pramoedya Ananta Toer tinggal di sana.

Pada hari-hari biasa saat Pram masih lagi hidup, rumah ini dihuni oleh empat orang. Maemunah Thamrin, istri Pram. Astuti Ananta Toer, anak keempat Pram. Arina Ananta Toer, anak kelima Pram, dan Pram sendiri. Pram dan Ibu Maemunah menempati kamar di lantai 3. Astuti di lantai 2. Sementara Arina di lantai 4. Sejak Pram meninggal, Astuti berinisiatif menemani Ibu Maemunah di kamar lantai 3 lantas mengosongkan kamarnya di lantai 2. Sehingga kini praktis rumah berlantai 6 ini dihuni hanya oleh 3 orang perempuan.

Continue Reading »