RumahDunia.net, 24 Oktober 2006, 17.02

(Awalnya tulisan ini hanyalah merupakan respon terhadap posting email Gola Gong di milis RumahDunia. Oleh RumahDunia diposting ke website-nya: www.rumahduniat.net)

Oleh Daniel Mahendra

Ketika mamaku memutuskan berlebaran Senin 23 Oktober. Aku kaget. Tidak biasanya. Keluarga besarnya di Semarang memang Muhammadiyah dan berlebaran Senin 23 Oktober. Tapi seperti biasa jika ada perbedaan, mama selalu berkata, “Kita harus menghormati di mana kita tinggal. Tetangga-tetangga kita. Lingkungannya. Kita ikut yang mayoritas.” begitu selalu ia bertahan beberapa tahun lalu. Aku sendiri sejak kecil dididik tidak terlalu fanatik. Itu kenapa ketika dewasa aku lebih moderat terhadap agamaku dan keyakinanku.Tapi sejak Sabtu 21 Oktober kemarin pikiranku teramat diganggu dengan perbedaan ini. Lebih terganggu lagi karena tahun ini mamaku memutuskan berlebaran pada Senin 23 Oktober. Pada beberapa kawan kutumpahkan gerundelanku tentang perbedaan ini.

Sempat aku bertanya pada mama, kenapa memutuskan berlebaran hari Senin. Dan mamaku sudah siap dengan segala argumentasinya. Aku jadi berpikir: tidak lucu juga kalau aku tetap bertahan berlebaran hari Selasa 24 Oktober. Bukan karena aku NU atau apa. Di rumah hanya 3 orang: mamaku, adikku, dan aku. Kalau aku berlebaran hari Selasa semantara mama dan adikku berlebaran hari Senin, apa-apaan ini, pikirku. Satu rumah berbeda hari lebaran.

Akhirnya demi menghormati mama, aku memutuskan mengikutinya untuk berlebaran hari Senin tahun ini.

Minggu malam jarang kudengar takbiran. Bahkan di komplek rumah tak ada takbir dikumandangkan samasekali. Aku sempat memutari sebagian kota Bandung, sepi saja dari takbiran, meski memang ada di beberapa mesjid. Aku seperti tidak merasakan malam itu malam lebaran.

Akhirnya Senin pagi aku pergi ke lapangan Lodaya Bandung, untuk sholat Ied bersama mama dan adikku. Teramat sangat banyak orang yang sholat juga ternyata. Pulangnya, aku tidak merasakan samasekali bahwa ini hari lebaran. Tapi tak apa, meski pikiran ini masih saja terganggu. Hari Senin setelah makan, aku malah tidur pulas seharian penuh.

Senin malam banyak kawan sudah berkumpul dengan keluarga besar mereka (alangkah bahagianya!). Karena hendak menyambut lebaran Selasa. Takbir terdengar berkumandang di mana-mana. Terasa sekali ini malam lebaran. Dan aku hanya sendirian di kamar kerja, mendengarkan semua itu. Sendiri dan merasa kesepian sekali. Mama dan adikku sudah tidur di kamarnya. Setengah tiga pagi aku masih termenung-menung sendiri. Seperti biasa, setiap malam lebaran aku kesepian luar biasa. Iri mendengar banyak kawan berkumpul dengan keluarga besar mereka.

Akhirnya pada Senin pagi (05.00 wib) ketika aku membaca email mas Gola Gong (baca Gola Gong: Kisah Lebaran Hari Senin di Banten) ini, rasanya aku bisa memahami semuanya. Tulisanku ini bukan apa- apa. Hanya merasa tergugah, tidak merasa sendirian serta bisa memahami semua itu setelah membaca tulisan tersebut.

Kuucapkan terima kasih atas secuil pencerahan ini. Tapi berarti. Ah perbedaan itu!

Selamat berlebaran, maaf lahir batin…

Bandung, 24 Oktober 2006, 05.29 wib

Salam hangat,

Daniel Mahendra

* * *