Archive for December, 2006

(Di Stasiun Tawang)

 

selain tak ada gairah, memang masih lagi pagi
kota ini masih saja sama dan sunyi
kalau bukan sekadar melepas lelah sejenak
tak perlu rasanya turun di kota tua ini
tetapi tiba-tiba, melintas seorang reporter sebuah tv
jalannya kukuh, mantap dengan wajah manis berisi
olala, alangkah lezatnya menu sarapan pembukaku kali ini
berupa senyum telur mata sapi
ditaburi geligi putih rapi
seolah menyadarkanku:
hidupku yang belum seberapa ini tak perlu diratapi!
aku pun bergairah lagi
 

Stasiun Semarang Tawang, 31 Desember 2006, 05.15 wib

(Santap Malam)

 

santap malam kita sekadar gurame kekar bertabur irisan mangga
bergelas bir bintang dan
ditutup durian lezat yang menantang
maka sisa tahun ini tinggal satu jam lagi
lalu apa yang membekas selama 12 purnama terakhir?
 

Narita, Surabaya, 31 Desember 2006, 22.58 wib

l’spirit de corps

 

beramai kalian lepas perjalananku
malam ini betapa lega aku meninggalkan yang kutinggalkan
kelakar dan kehangatanmu menguatkan aku:
bahwa aku masih lagi ada dan berarti
memang demikianlah yang dibutuhkan manusia berjiwa
mengolah sepi menjadi sesuatu yang berarti
ah, betapa benderang kalian di mataku
aku pergi
memburu matahari terbit

 

Gambir, Jakarta, 30 Desember 2006, 22.18 wib

 

Bersekutu

 

pagi ini kita bersekutu lagi
meluruh, merindu, juga meragu
dan di bawah ritme hujan yang tak sebentar
masih juga kita dendangkan alunan tembang yang melambat
demikian polos telanjang terketam keadaan
karena pamrih boleh pergi tanpa permisi
siapa nyana bertumpuk kado telah lagi menungguku
berupa senyum hangat dan pelukan rapat dari setiap tamu
begitulah aku dimanusiakan lagi
karena memang demikianlah tugas dari setiap manusia:
menjadi manusia!
jika namamu terdengar di sini
karena kurasakan memang tetaplah hadir di sini
kupunguti kebahagiaan ini dalam hati seorang diri
: namun sudah sebagai manusia.

 

TIM-Depok-Ciracas, Jakarta, 30 Desember 2006, 02.00 wib.

 

l’historie serepete

 

aku melihat orang berjalan membawa obor di tangan kiri
disenangi ia akan nyala apinya
ia memang lembut, santun, tak kurang berwibawa
namun tak pernah ia ragu mengumandangkan kobar obornya
sejauh dapat kukenal, ia termasuk manusia optimis
tak pernah kudengar dari mulutnya kata-kata ragu, takut, apalagi pesimis
tapi justru karena itu ia mengaku banyak diburu
ya, mula-mula aku memang percaya dan salut
karena bagaimana pun ia penyeru yang dihormati dengan obor tersulut
gayanya memang tekun, mendalam, lagi berisi
penampilannya sederhana, longgar senyum, serta simpati
cara bicara dan pandang matanya menyiratkan pribadi yang cerdas dan berpadi
maka aku pun sudi jatuh hati
namun lambat-laun aku jadi ragu dan ngungun:
kalau memang ia banyak diburu,
mengapa justru ia yang sibuk mengaku-ngaku sebagai sasaran buru
agar orang berdekat dan berharu biru?
aku menjadi semakin ragu ketika ia pergi tanpa permisi
meninggalkan arena pergunjingan
orang-orang teriak, koran pagi basa-basi, dan mailing-list caci-puji
maka di sebuah senja di kantor polisi,
aku terbata-bata mendapati daftar tak tau malu
berisi nama orang yang patut diburu
dan namaku tertera di situ
di situ!
lebih terbelalak lagi:
namanya memang tak pernah ada tercantum
jadi siapa sebetulnya dia…
dan rencana apa yang selama ini dikandungnya
adakah ia yang kerap lalu-lalang di kantor ini pula?
kalaulah memang karena obor di tangan kirinya ia mengaku patut diburu
mengapa tak secuil pun namanya tercantum dalam daftar buru?
ah, rupanya sejarah masih saja berupa pengulangan semata
aku memilih pergi, berjalan menyusul hari sembari memaki dan mulai berhati-hati
aku jadi sangsi melihat orang berjalan membawa obor di tangan kiri, dengan kobar begitu menyala!

 

Bandung, 27 Desember 2006, 00.10 wib