Serendipity* or Kekuatan Pikiran?
Setiap orang sudah pasti pernah mengalami suatu peristiwa kebetulan. Namun pernahkah Anda mengalami kebetulan demi kebetulan secara beruntun? Berulang-ulang? dan terus-menerus? Kalau pernah, apa yang Anda lakukan?
Sejak mengalami peristiwa kebetulan yang beruntun, berulang, dan terus-menerus, aku mulai tidak percaya dengan apa yang disebut ketidaksengajaan. Sejak itu setiap peristiwa dengan konstruksi sama selalu kupetakan. Akhirnya aku sampai pada titik di mana sebuah kebetulan bukanlah peristitwa ketidaksengajaan.
Ada kekuatan yang membuat kebetulan adalah sebuah peristiwa yang sebetulnya bisa kita rasakan sebelumnya. Ada sinyal yang tanpa sadar kita kirimkan, atau orang lain kirimkan, sehingga terjadilah peristiwa, yang karena kita tidak menyadari atas kekuatan itu, sehingga kita menyebutnya: kebetulan.
Pasti kita pernah mengalami suatu kejadian di mana ketika kita sedang memikirkan seseorang, orang yang kita maksud tiba-tiba menelpon kita atau menghubungi kita. Atau saat kita menginginkan sesuatu, tiba-tiba apa yang kita inginkan itu disodorkan jalannya oleh seseorang yang tidak pernah kita kira samasekali. Barangkali contoh sederhananya seperti itu. Hingga ketika sudah mulai menggunakan pola itu, aku tidak lagi melihat kebetulan sebagai peristiwa ketidaksengajaan belaka.
Sebetulnya, tanpa kita sadari, kita telah memberikan sinyal pada orang atau sesuatu yang kita maksud melalui pikiran dan hati kita. Sehingga orang atau sesuatu yang kita maksud menerima sinyal yang kita kirimkan. Maka tak aneh bila orang atau sesuatu yang kita maksud memberikan reaksi atas aksi kita itu. Itu pun masih lagi dikatakan sinyal yang kita kirim tanpa kita sadari. Bagaimana kalau kita dengan sengaja mengirim sinyal tersebut melalui kekuatan pikiran atau hati kita? Jadinya adalah sebuah komunikasi yang luar biasa.
Untuk mencobanya, praktekanlah hal sederhana ini pada orang-orang di lingkaran dalam dulu. Seperti orangtua, kakak, adik, sahabat atau pacar. Karena orang-orang di lingkaran dalam ini biasanya, selain kita hampir selalu memberikan energi kepada mereka di setiap harinya atau mereka yang memberikan energi pada diri kita, bisaanya kita memang kerap meminjam energi mereka dalam rutinitas sehari-hari.
Kalau sudah terbiasa di lingkaran dalam, dan terjalin sebuah komunikasi tanpa bicara, cobalah dengan orang-orang di lingkaran luar seperti kawan-kawan, teman seprofesi, atau orang lain yang tak kita kenal samasekali.
Cara mengetesnya sebetulnya mudah saja. Kalau kebetulan jalan di sebuah mall atau katakanlah di sebuah tempat yang ramai, panggil seseorang yang kita inginkan dalam hati, tanpa kita musti menoleh/melihat ke arahnya. Panggil saja melalui pikiran kita. Buka pikiran dan hati kita. Kalau kita tulus, sudah dapat dipastikan orang yang kita maksud akan menoleh ke arah kita. Aneh? Tentu tidak. Karena pada dasarnya kita telah memberikan sinyal pada orang yang kita maksud untuk menoleh ke arah kita. Dan orang tersebut menangkap sinyal yang kita maksud. Maka menolehlah dia.
Lakukanlah komunikasi jarak jauh dengan orangtua, kakak, adik, sahabat atau pacar. Jika sudah terbiasa, dan saling memberikan energi timbal balik, tanpa menelpon atau bertemu, kita dapat mengetahui apa yang sedang dirasakan atau sedang dipikirkan oleh orang-orang terdekat kita itu. Sedang di mana mereka dan apa yang sedang mereka lakukan. Bukankah hal itu dapat saling mendekatkan diri kita pada orang-orang yang kita cintai? Bukankah hal tersebut positif saja toh?
Jika kita mengabaikan kekuatan-kekuatan seperti itu, memang tak ada ruginya. Tak ada pula yang lantas menyalahkan. Hanya bedanya, jika ada sebuah kejadian atau peristiwa yang berlangsung secara kebetulan tak terduga, kita akan tetap menyebutnya: ketidaksengajaan. Padahal kalau saja kita mau mengasah ketajaman pikiran kita, menggunakan sensitifitas yang ada pada diri kita, semua memiliki energi di mana pada dasarnya kita dituntun pada sebuah arah, tempat, peristiwa, atau pemikiran tertentu.
Kita menjadi semakin peka terhadap segala hal. Kita dapat merasakan baik-buruknya sesuatu yang hendak kita lakukan. Kita menjadi lebih awas terhadap sesuatu yang hendak kita kerjakan. Membuat kita menjadi lebih berhati-hati, instropeksi diri, serta membuat kita lebih mendalam menjalani rutinitas sehari-hari.
Apa yang dituturkan di atas tadi hanyalah bentuk paling sederhana dari pola-pola kekuatan pikiran. Semua masih dilakukan di seputaran orang-orang atau manusia, yang kita tau, orang-orang atau manusia adalah materi yang bergerak, berperasaan. Kerap menggunakan kedok. Dalam arti, kita kerap mendapati kawan-kawan atau orang-orang terdekat kita sedang berusaha keras membahagiakan dirinya atau seolah ingin tampak bahagia, padahal dia sedang bersedih akan suatu hal, misalnya. Ini yang disebut berkedok. Sehingga manusia kerap bergerak, baik pikiran maupun perasaannya. Tidak statis.
Lain kali kita akan berbicara pola-pola penggunaan kekuatan pikiran pada materi yang baku, yang mencerap sesuatu secara pasti karena tidak memiliki pikiran, yaitu benda mati. Dari benda yang kita sebut mati itu sebetulnya merupakan materi yang sangat stabil mencerap segala hal.
Data yang kita dapatkan mendekati kepastian, karena benda mati tidak berkedok. Dia apa adanya. Dari handphone seseorang yang kita lihat secara sepintas, kita dapat mengetahui pendalaman pemiliknya. Lebih mudahnya, dari kendaraan seseorang, baik yang melintas maupun yang terparkir, kita bisa mengetahui bagaimana sifat, karakter serta pendalaman seseorang. Berlebih-lebihan? Tidak. Karena benda mati merupakan materi yang paling jujur mencerap keadaan serta kebiasaan pemiliknya.
Kali lain pula kita akan bicara tentang kekuatan pikiran untuk mencapai sesuatu.
Jadi, apakah semua data yang berserakan di sekitar kita merupakan sebuah kebetulan yang tidak sengaja? Masing-masing berhak menjawab serta punya jawabannya. Jangan biarkan data-data yang berserakan di sekitar kita, kita abaikan begitu saja.
Selasa, 16 Januari 2007, 03.00 wib.
*kesanggupan untuk menemukan sesuatu keterangan dengan tak disengaja waktu mencari sesuatu yang lain.


iLva on 03 Jul 2007 at 4:36 pm #
15/01/07.
19:10.
coinsidence.
:).
Posted by: - iLva - | January 17, 2007 10:49 PM
ayiek on 03 Jul 2007 at 4:37 pm #
yap … saya sangat percaya dengan kekuatan pikiran. karena saya sangat sering melakukan dan merasakan kebenarannya … banyak manfaat positif yg bisa diambil dari kebiasaan kita melakukan kekuatan pikiran dalam segala hal .. im believe it …
Posted by: ayiek | January 21, 2007 08:10 PM
Tapi kenapa kau tidak menangkap sinyal dr pikiranku.. ; ” Daniel, bawakan aku kripik tempe…”..:-))
Kau mesti lebih konsentrasi saat memikirkannya, Cak… Apalah arti Depok-Bandung. Tak tersekat dimensi ruang dan waktu. Huehehe!
akur kang!. seperti ada energi yang menggerakkan kita yg mengarah pada seseorang ya. hari ini aku berusaha konsentrasi goreng sale pisang.
konsentrasi….., konsentrasi….., kok kayak si dedy cobuzier yah…ha ha ha
Pertanyaan niel..: Kekuatan pikiran membuat kita bisa mewujudkan apa yang kita impikan/inginkan ATAU takdir/jalan hidup yang sudah tertulis “menarik” kita ke arah sana?
Menurutku bisa keduanya, Jul, apakah kita lebih percaya pada kemampuan diri kita atau pada takdir, itu kembali pada orangnya. Hanya soal cara pandang saja. Namun intinya sama. Bukankah Feng shui a la Ijul yang bisa membuatmu keliling dunia, eh?
Hidup memang sudah dibuat skenarionya, tapi ketika “action” mungkin gak sekali dapat adegan yang pas….., ada kalanya harus ‘take’ beberapa kali, dan itu tergantung diri kita, bisa kah mewujudkan skenario itu menjadi mahakarya, memang takdir sudah ditentukan, namun nasib suatu kaum bukankah dari kaum itu sendiri yg bisa merubahnya ?…..(kata tukul : kristalisasi keringat)
aku ketemu orang homeless. Terus berpikir: gimana ya rasanya kelaparan dalam cuaca sedingin ini. Terus aku balik ke “rumah”. Ternyata dapur dipake party sama temen sampai malem banget, sampe ketiduran, dan aku kelaparan ga bisa masak dan makan
ajaib ya.