The Power of Fitnah
Adakah orang yang pernah lepas dari fitnah? Atau adakah orang yang tak pernah dibicarakan keburukannya? Rasanya hampir semua orang memiliki sisi buruk dalam hidupnya. Sulit membayangkan ada orang yang tak memiliki sisi buruk samasekali. Tetapi bila keburukan itu sengaja diciptakan, apa jadinya?
Siapa orang yang tak pernah difitnah? Rata-rata, hampir semua orang besar pernah mengalami apa itu difitnah. Rasul Muhammad yang begitu besar pengaruhnya sebagai sesama penurun agama monotheis pun pernah difitnah. Begitu pun Al Masih. Sepanjang ribuan tahun kalimat fitnah lebih kejam daripada pembunuhan barangkali masih lagi tepat didengungkan.
Orang yang dibunuh, hidupnya di dunia barangkali langsung selesai. Seperti Saddam Husein yang lehernya patah di tali gantung. Tapi orang yang difitnah, penderitaan yang dia pikul sepanjang sisa hidupnya bisa tak terkira. Itu pun jika dia seorang diri yang menanggungnya. Bagaimana dengan keluarganya?
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan Indonesia kaliber internasional itu pun tak lepas dari fitnah. Pada 1965 ia dipenjara dan dan dibuang ke Pulau Buru selama 14 tahun, tanpa melewati sebuah pengadilan, namun dituduh sebagai PKI. Pada Desember 1979 ia dilepas dengan dibekali secarik kertas: tidak terlibat G30S/PKI. Kertas itu menunjukkan bahwa Pram tidak ada keterlibatan dengan tragedi nasional itu. Tetapi, apa arti 14 tahun tanpa kejelasan status hukum, kerja paksa, disiksa, dinafikan kehormatannya hingga serendah-rendahnya, dan nasib keluarganya? Tak ada bercarik kertas yang dapat menerangkan hal itu.
Difitnah memang menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi tak memiliki kesempatan guna membuktikan kekeliruan dari fitnah itu. Kita seolah dipaksa menelan fitnahan itu lengkap dari appertizer hingga dessert tanpa kecuali.
Begitu pun dengan aku. Tanpa bermaksud mengkategorikan diri sebagai orang besar, namun sebagai manusia biasa, tentu aku pun tak lepas dari fitnah. Kalau diingat-ingat, rasanya belum pernah aku difitnah sebesar dan sekasar ini. Dan kalau pun mau mengingat-ingat lagi, rasanya belum pernah aku marah semarah saat ini.
Kalau mau jeli dan introspeksi, rasanya memang seperti bola salju. Awalnya hanya berupa gulungan yang menggelinding kecil. Namun makin membulat dan membesar serta hancur begitu tiba di dataran. Meledak seperti pesawat Adam Air. Ia tak berdiri sendiri. Ia bertautan dengan banyak hal yang saling berkorelasi.
Bisa jadi semua memang berpulang pada diri sendiri. Aku tidak awas dan tidak correct dan tidak hati-hati pada hal-hal yang setiap saat bisa mencelakakan diri sendiri. Apa yang sudah kurintis, bangun, dan rawat, hancur begitu saja. Tumpas. Padahal kalau saja jeli, sinyal-sinyal ke arah sana sebetulnya bisa dirasakan dan diantisipasi.
Betapa sulit menghilangkan kenangan itu. Begitu sulit. Sangat sulit. Terlampau manis. Terlampau indah. Terlampau menguatkan. Terlampau membanggakan. Melebihi seluruh pengalaman hidup selama 30 tahun lebih. Melebihi pertemanan paling akrab sekalipun. Melebih kisah percintaan yang paling sakral sekalipun. Melebihi cerita pernikahan paling membahagiakan sekalipun. Lebih dahsyat dari kematian paling mematikan sekalipun. Melebihi puncak Semeru. Tak bisa diukur dengan nominal berapa pun jumlahnya. Tak bisa ditukar dengan bendawi bagaimana pun bentuknya. Tapi kini semua telah tumpas dan hancur.
Yang terjadi, setiap mau tidur teringat hal itu. Begitu bangun tidur kembali teringat hal itu. Berangkat kerja selalu teringat hal itu. Saat bekerja terganggu hal itu. Pulang kerja terusik hal itu. Betepa hal itu sudah meng-coup d’etat keseharianku secara serampangan dan tanpa malu-malu dalam 3 hari terakhir ini.
Efeknya, aku jadi tergeragap jika mengingat sesuatu yang berhubungan dengan hal itu. Begitu besar efeknya hingga mempengaruhiku secara psikologis. Ada ketakutan tersendiri. Ada kengerian yang luar biasa. Padahal sesuatu itu begitu kujaga keberadaannya selama ini. Kini aku justru takut terhadap hal itu. Mengerikan sekali! Semoga kawan-kawanku tak perlu merasakan hal seperti itu.
Seorang kawan berbisik pelan: “Kau kan tau siapa yang melakukan itu? Kenapa tidak kau balas perlakuannya?” Olala. Tak terbayangkan jika kita musti membalas perlakuan jahat dengan kejahatan lagi. Bukankah dengan begitu kita sudah menyamakan diri kita dengan orang yang melakukan itu? Lalu apa bedanya kita dengan orang itu? Sama saja. Menjadi tak ada bedanya. Menjadi sama rendahnya.
“Lha, kau kan banyak menyimpan data, tapi tak pernah kau ungkapkan. Buat apa?” bisiknya pelan lagi. Aku hanya tersenyum. Kalau orang bisa bahagia dengan apa yang dilakukannya, kenapa pula kita musti mengungkapkan rahasia yang justru akan membuat orang berduka? Kenapa kita tidak membuat orang lain bahagia sebanyak-banyaknya.
“Tapi kini kau yang rugi! Sampai muncul fitnah seperti itu. Hancur sudah apa yang kau pelihara selama ini!” Lagi-lagi aku menjawab: siapa yang mengukur untung ruginya aku? Ai, hidup sesingkat ini, hanya keletihan belaka yang bakal kita temui jika kita terlampau fokus pada hal-hal yang merugikan secara duniawi.
Ya, akhirnya kusadari, betapa kekuatan fitnah memang luar biasa. Ia bisa menghancurkan hidup seseorang. Bahkan sebuah kaum sekalipun. Namun yang terpenting dari itu semua adalah: bukan bagaimana kita terus memikirkan fitnah itu sendiri. Melainkan bagaimana sikap kita terhadap apa yang telah dituduhkan orang pada kita.
Kalau kita membiarkan diri kita larut ke dalam apa yang telah dituduhkan orang pada kita, tak aneh bila kita akan terus masuk dan hancur bersama tuduhan itu sendiri. Semua kembali pada bagaimana sikap kita memandang persoalan. Masalah bukanlah masalah. Bukankah yang menjadi masalah adalah bagaimana sikap kita menyelesaikan masalah itu.
Kini aku hanya bisa ikhlas menerima itu semua. Di luar semua skenario manusia, ada yang lebih besar dari itu semua, yaitu skenario dari Yang Maha Penentu. Tidak tau dengan orang lain, tapi bagiku, ikhlas memang kekuatan yang begitu dahsyat dan luar biasa. Memang tak mudah menguasai ilmu ikhlas. Tapi jika kita bisa mencoba memeluknya dengan penuh kasih arti keikhlasan itu, kita bisa tersenyum dengan damai. Betapa dahsyatnya yang namanya ikhlas.
Yang Maha Penentu tau, setiap apa yang terjadi pada diri kita, tak mungkin tanpa alasan dan berhikmah. Dengan setiap cobaan yang dicobakan oleh Yang Maha Penentu, Ia justru ingin menunjukkan bahwa ada sesuatu yang ingin ia jelaskan dengan apa yang selama ini kita jalani dalam hidup kita. Bukankah semestinya kita bersyukur pada setiap cobaan yang mampir dalam diri kita?
Begitu menyatu dan memeluk pada Yang Maha Penentu, hidup memang rasanya begitu sederhana sekali. Kita tak begitu terperangah pada hal-hal yang bersifat duniawi. Rasanya apa yang telah kita lewati begitu kecil. Karena memang ada yang lebih besar. Lebih agung. Apalagi kalau bukan milik Yang Maha Penentu.
Mari kita bersama-sama mendoakan kebaikan, kebahagiaan, kelancaran, kemudahan, kesuksesan bagi hidup orang-orang yang telah memfitnah kita, menyakiti kita, menggunakan kita, menuduh kita atas hal-hal buruk. Agar hidup mereka baik, bahagia, lancar, mudah, dan tentu saja sukses serta gemilang.
Sabtu, 20 Januari 2007, 11.51 wib
and who gave you the right to hurt my baby?
and who gave you the right to shake my fabric tree?
and who gave you the right to take intrusion, to see me?you put a knife in my back, shot an arrow in me!
tell me are you the ghost of jealousy?!
a suckin’ ghost of jealousy!!


Endah on 03 Jul 2007 at 4:38 pm #
masih menyesali fitnah seseorang yg membuat gue ga bisa lagi kerja di dunia yg gue suka…
semoga mereka itu akan merasakan balasan yg lebih dahsyat.
Posted by: Endah | January 20, 2007 08:58 PM
Ayoen on 03 Jul 2007 at 4:41 pm #
kayaknya tau dech orangnya…
Posted by: Ayoen | January 24, 2007 08:45 PM
Rinurbad on 03 Jul 2007 at 4:42 pm #
Mau komentar apa ya aku..ya tidak ada salahnya mendoakan mereka yang tega berbuat keji, walaupun sulit untuk ikhlas dan masih sambil menggerutukkan gigi. Minimal mencoba untuk itu..
Kutipan dari film A Moment To Remember: “Memaafkan berarti memberikan satu ruang dalam hatimu untuk orang yang kaubenci. Namun jika kau masih membencinya, kau memberikan seluruh ruangan dalam hatimu pada kebencian itu sementara kau berada di luarnya..
Posted by: Rini | February 4, 2007 06:59 PM
apakah anak jenggawah itu termasuk dalam hal ini?
Ha? Anak Jenggawah? Gerangan siapa itu anak Jenggawah? Dan lagi apa hubungannya? Ini terjadi di abad ini.