Mencari Alina
“Aku mau mencari Alina!”
“Alina?”
“Ya. Alina.”
“Alina siapa?”
“Alina…. Bukankah waktu kita di Bandung dulu selalu mengistilahkan pacar dengan sebutan Alina? Itu, tokoh perempuan dalam karya-karya Seno Gumira.”
“Hahaha!!”
“Aku akan ikut kamu pulang ke Bandung.”
“Hanya untuk mencari pacar?”
“Mencari Alina!”
“Hayah, kalau hanya pacar, di Padang juga banyak atuh, Ma…”
“Alina hanya ada di Bandung.”
“Duh! Terserah kamulah, Ma.”
Tama memang bujang asli Padang. Satu lagi bachelor berusia 31 tahun. Setamat dari Sastra Inggris Universitas Negeri Padang, ia mengambil S2 Ilmu Komunikasi Unpad, Bandung. Di situlah kami bertemu. Lantas menjalin pertemanan yang begitu mesra bersama Awan, yang tak menyelesaikan S2-nya karena kepentok biaya, dan tetap memilih menjadi wartawan.
Dulu kita selalu melewatkan akhir Minggu bertiga. Kalau tidak ke acara pembacaan puisi, menikmati senja di sebuah kedai kopi, nongkrong di kosan Tama atau paling mujur mendekam di kantor Harian S.P. -tempat Awan bekerja karena di sana kita bisa menggunakan fasilitas kantor sepuas-puasnya saat weekend.
Bagi kita tak ada istilah malam Minggu musti dilewatkan dengan kencan bersama pacar. Mungkin hal itu boleh untuk orang lain. Tapi bagi kita: no way! Ya, setiap orang tentu pernah punya idealisme serta kesombongan masa muda yang selalu membuat kita tersenyum ketika mengenangnya. Tak apa. Itu membuat hidup menjadi sarat dan lebih bermakna. Asal tidak keterusan saja.
Terkadang kita kerap berkompetisi mengirimkan cerpen atau puisi di koran-koran besar. Karya siapa yang dimuat, dia wajib mentraktir makan. Tapi intinya adalah: memicu kita untuk bisa menembus harian-harian ternama yang selalu dijadikan barometer kepenulisan seseorang agar “sah” dianggap penulis. Ya, saat itu atmosfir sastra koran memang cukup kental. Dan dengan sadar kita pun terseret ke dalamnya.
Kalau ada salah seorang dari kita belum mampu menembus satu harian besar yang ternama, sementara lainnya sudah, ia akan “dikucilkan” habis-habisan. Maksud “dikucilkan” adalah: akan terus disinggung-singgung sampai bosan (kalau perlu sampai tersedu-sedu terkapar di lantai!), agar pada akhirnya tembus juga tulisannya di harian yang dimaksud.
Ambil contoh, ketika Awan dan aku sedang ngobrol di ruang tamu kantor S.P., sesuai perjanjian Tama pun datang di Sabtu sore yang cerah.
“Seru bener ngobrolnya…” sapa Tama ngeloyor masuk. “Ngobrol apaan sih?”
“Ups. Sorry ya. Ini obrolan khusus untuk orang yang cerpennya sudah masuk Kompas. Maaf ya.” tetak Awan dengan mimik serius. “Nanti kalau cerpenmu sudah dimuat di Kompas, baru boleh ikut obrolan yang ini.”
Tentu Tama misuh-misuh sewot. Aku hanya ngakak mendengarnya. Dan Tama paling akan ngeloyor ke dapur, membikin kopi sambil berseru: “Iya-iya… rese’ bener sih!”
Dan tawa kita pun meledak di ruang tamu.
Tapi jika salah seorang dari kita sudah berhasil menembus harian yang dimaksud, kita akan memeluknya sambil berkata: “Welcome to the club, guy…“. sambil tertawa-tawa. Kemudian kita mencari harian lain lagi sebagai ajang kompetisi. Sebagai ajang menjajal tulisan. Dimuat nggak dimuat, itu soal lain. Namun dari sana kita selalu tertantang untuk selalu produktif. Untuk selalu berkarya.
Kalau tak ada ide, terkadang kita membuat satu cerpen secara bersama. Bergantian dalam satu komputer. Aku di paragraf pertama, Tama di paragraf kedua, Awan melanjutkan di paragraf ketiga. Terus seperti itu bergiliran sampai sebuah cerpen selesai dibuat. Hasilnya tentu membuat kita tertawa-tawa. Karena karakter tokoh serta jalan ceritanya bisa berubah-ubah menurut selera yang mendapat giliran menulis. Tentu saja ini sekadar iseng belaka. Namun membuat persahabatan kita makin terasa.
Kita bukan tak pernah berselisih. Kalau Awan sibuk liputan karena deadline korannya yang harian, sementara aku yang kerja 9 to 5 di sebuah majalah kerap pulang malam, tinggal Tama yang kuliah berdasarkan beasiswa, memang tak ada kerjaan lain selain kuliah. Ia sering sewot karena kami jadi sulit ditemui.
Atau kalau ada salah seorang dari kita mencoba melewatkan malam Minggu dengan seorang gadis manis, kita akan menyebutnya: pengkhianat! Hahaha! Kita akan menetaknya dengan kalimat: “Sebegitu pentingnyakah kencan dengan seorang perempuan hingga mampu meninggalkan jadwal rutin kita?!”
Yang ditetak hanya tinggal terbengong menganga sembari dalam hati membatin sendu: ‘kapan aku punya pacar…’ Hahaha! Sableng memang. Tapi hidup tetap terasa begitu indahnya.
Waktu pun berjalan (sebetulnya waktu tak pernah berjalan, manusialah yang sebenarnya berjalan mengarungi waktu, hanya kita terlanjur menyebutnya demikian). Maka, ketika pada akhirnya Tama menyelesaikan tesis S2-nya dan musti kembali ke Padang karena posisi dosen sudah menunggu di sana, Awan pun akhirnya menemukan perempuan idaman dan memutuskan menikah serta tetap menggeluti dunia jurnalistiknya.
Sejak itu kami jadi jarang bertemu. Tak pernah lagi pergi ke acara pembacaan puisi bersama. Tak pernah lagi nongkrong menikmati senja di sebuah kedai kopi, juga tak pernah lagi membuat cerpen secara bergiliran seperti biasa. Ya, hidup memang musti tetap terus berlangsung. Realitas hidup terkadang menuntut kita realistis.
Tama yang mendapat beasiswa tentu musti kembali ke almamaternya. Awan yang sudah menikah dan sibuk dengan korannya, kalau punya waktu luang, tentu lebih memilih bersama istri dan anaknya.
Lama-lama kami jadi sungguh jarang berkontak. Hanya sesekali berSMS atau ber-email. Itu pun kalau memang sempat. Selebihnya, kita sibuk dengan dunia masing-masing.
* * *
Sudah berminggu-minggu Tama berada di Bandung. Numpang tinggal di kosan adiknya yang sedang skripsi di Unpad. Berminggu-minggu pula ia keluyuran, mencari Alina yang ia maksud. Betapa serius ia hendak mencari Alina sehingga rela cuti mengajar sebagai dosen muda.
Ia kitari mal-mal. Ia singgahi toko-toko buku. Ia tongkrongi kampus-kampus. Ia datangi kafe-kafe. Tapi selalu pulang dengan tangan hampa. Hingga habislah masa cutinya itu. Ia musti kembali ke Padang.
“Aku harus pulang.”
“Alinamu?”
“Tak kutemukan Alina di sini. Padahal aku sudah yakin sekali.”
“Juga di Padang?”
“Juga di Padang.”
“Jadi di mana gerangan Alinamu berada?”
“Entahlah.”
Aku hanya tersenyum melihat polah kawanku ini. Tapi aku salut padanya.
“Kawan, sesungguhnya kau takkan pernah menemukan Alinamu di mana pun kau mencarinya.”
“Maksudmu?” kaget juga dia.
“Alina yang kau maksud akan datang dengan sendirinya, Kawan. Tak perlu kau berpeluh seperti itu hanya untuk mencari seorang Alina.”
“Tapi kita kan tidak bisa termanggu menunggu bola begitu saja?”
“Betul. Tapi seorang Alina akan datang dengan sendirinya jika waktunya tiba, Kawan. Seperti halnya kebahagiaan. Orang yang terus-menerus mencari kebahagiaan, ia takkan pernah menemukannya. Karena kebahagiaan itu bukan dicari, tapi diciptakan.”
“Begitu pun seorang Alina?”
“Begitu pun seorang Alina.”
“Maka aku akan menjadi Sukab yang terus-menerus menunggu kedatangan Alina.”
“Hahaha! Tidak. Alina yang sesungguhnya itu akan datang kepadamu. Lewat cara yang tak kan pernah kau kira samasekali. Percayalah.”
Dan Tama meloncat ke atas bis jurusan Jakarta untuk terus melanjutkan perjalanan ke bandara Soekarno-Hatta.
Tapi dari balik pintu bis, seperti ada yang terlupa, ia berteriak:
“Hei, lalu bagaimana dengan Alinamu?”
Dan aku sudah ngeloyor pergi meninggalkan tempat parkir bis, pura-pura tak mendengar.
Manusia sibuk menggapai sinar bintang di langit, padahal cahaya itu ada di dalam hatinya.
Bandung, 13-14 Februari 2007


art on 03 Jul 2007 at 4:57 pm #
alina itu nama yang cantik ya… hampir aku jadikan nama anak (kelak). Sayangnya, nama itu sekaligus menyebalkan. kesebalan yang tidak berdasar (sebetulnya). hehe. Sorry nih, ngga nyambung banget commentnya. tapi tiba-tiba saja pengen komentar tentang nama alina ini. meski disini alina hanya dipakai sebagai istilah. Kalau dalam bahasa aku dan teman2. Istilah untuk alina itu kupakai dengan istilah terewtewtew. hahaha.
Posted by: art | March 5, 2007 03:16 AM
kebetulan saya juga sedang mencari kawan lama bernama sama, alina. ya, alina.
lengkapnya carolina erra chondro.
terakhir bertemu sewaktu menikah 18 tahun lalu dengan “lek man” sebutan si bule armand.
alina… memang nama yang indah
Lalu bagaimana dengan Alinamu, Sobat?
Sudahkan ia datang padamu?