Sejak kecil Amara selalu didongengi oleh papa. Baik menjelang tidur siang, tidur malam, maupun di sore hari sembari berangin-angin di teras rumah.

Amara sangat suka dengan dongeng papa. Karena ceritanya dapat membawa fantasi Amara mengembara ke negeri-negeri yang ada dalam dongeng itu.

Kalau papa pulang kerja, Amara sudah berlari menyambutnya di teras rumah sambil berteriak dan meloncat-loncat girang: “Ayo Pa… Cepat Pa… Dongengi Ara lagi, Pa…” Dan Papa hanya tersenyum senang mendapati putri cantiknya menyambut seperti itu.

Kalau sudah seperti itu mama cuma tersenyum-senyum cemburu melihat Amara mengejar-ngejar papanya. Sang papa hanya mengerling manja pada mama.

Ketika mulai masuk Taman Kanak-kanak, Amara selalu mengidolakan guru yang pintar mendongeng. Begitu pun saat mulai masuk Sekolah Dasar. Guru yang pintar mendongeng memiliki tempat tersendiri di mata Amara. Mereka menjadi idola dari seorang murid yang diam-diam mengagumi kelihaiannya berkisah.

Karena sejak kecil sudah terbiasa dengan berbagai dongengan, Amara menjadi pintar mendongeng pula. Ia suka bercerita. Tetapi bukan dengan lisan, melainkan tulisan. Ia senang bisa menceritakan kembali apa yang ia lihat, ia rasakan, melalui tulisan. Sejak SD buku hariannya sudah bertumpuk-tumpuk. Ia tak pernah absen menuliskan kesehariannya.

Apa saja ia tulis. Dari bermain bersama teman-teman, tingkah polah kawan-kawan, sifat guru-guru di sekolah, kejailan si kakak, atau ketika dimarahi mama. Semua ia curahkan lewat tulisan. Tak aneh jika Amara sudah akrab dengan buku bacaan sejak usia kanak.

Maka ketika di SMP anak-anak sekelas diberi tugas mengarang oleh guru Bahasa Indonesia, Amara tidak merawi cerita ‘Liburan Ke Rumah Nenek’ seperti kawan-kawan lainnya. Ia justru membuat sebuah cerita dengan judul ‘Papaku Seorang Pendongeng’.

Dari pilihan judulnya saja sang guru mau tak mau terbelalak. Bu guru manis itu seakan tak percaya mendapati muridnya justru bercerita tentang seorang gadis kecil yang bangga memiliki ayah yang pintar mendongeng. Ceritanya begitu lincah, diskriptif, dengan bahasa yang lembut, memesona serta jenaka. Sang guru yang tak pernah membuat cerita itu pun mau tak mau jatuh kagum pada Amara.

Ya, sejak itu Amara mulai menyadari kemampuannya dalam merawi tulisan. Ia mulai mengirimkan tulisan-tulisannya ke majalah-majalah anak muda. Meski tak ada yang dimuat, Amara tetap terus menulis. Karena menulis baginya seperti bernafas. Seperti makan. Bukan untuk dikirim ke majalah agar mendapat honor atau kejatuhan popularitas. Menulis adalah kebutuhan baginya.

Barulah ketika SMA, cerpen-cerpen Amara mulai dimuat di majalah maupun koran. Hal itu jelas membanggakan mama dan papa, juga kawan-kawan sekelasnya, maupun guru-guru di sekolahan. Meski namanya mulai melambung dan dikenal, Amara hanya tersenyum-senyum dan merasa biasa-biasa saja. Karena menulis baginya seperti minum teh manis di pagi hari. Sudah menjadi kebiasaan. Honornya pun sekadar ia pakai untuk mentraktir kawan-kawannya makan. Sisanya ia berikan pada mama untuk ditabung.

“Kalau sudah banyak mau kamu belikan apa, Ara?”

“Apa saja, Ma…”

“Lho, kau tak punya keinginan?”

“Tidak, Ma…”

“Bagaimana kalau suatu hari nanti dibelikan komputer saja. Agar kau makin rajin menulis…”

“Boleh, Ma…”

Begitulah Amara.

Namun ada yang menarik dari gadis Amara ini. Itu baru disadari oleh kawan-kawan Amara setelah bergaul cukup lama dengannya. Begitu pun mama dan papa, baru menyadari ketika Amara telah tumbuh dewasa sebagai anak SMA. Apa itu?

Amara ternyata seorang gadis yang tak pernah marah. Kenapa bisa begitu? Ya. Amara betul-betul sungguh tak pernah marah. Tak pernah sekalipun seorang kawannya pernah melihat Amara marah. Begitu pun dengan mama dan papa, tak pernah mendapati Amara marah karena suatu hal.

Waktu kecil, ketika rumah boneka kesayangannya terinjak kaki kakaknya yang sedang main perang-perangan, Amara tidak menangis atau marah atau mengadu pada mama. Ia malah tersenyum. Begitu pun ketika dibentak mamanya karena tak lekas mandi, ia hanya tersenyum atau paling banter nyengir, lantas ngeloyor ke kamar mandi.

Kawan-kawan Amara pun heran ketika di SMA pacar Amara jelas-jelas kedapatan bergandengan tangan dengan gadis lain di sebuah mal. Banyak mata kawannya menjadi saksi. Tapi Amara hanya senyum-senyum saja. Tak marah bahkan tak emosi samasekali. Justru kawan-kawannya yang protes tak terima.

“Kamu lihat sendiri kan Ara?!” seru kawan-kawan Amara emosi.

“Iya… terus kenapa…” jawab Amara kalem.

“Lho?! Kamu ini aneh!! Liat pacar selingkuh kok malah senyum-senyum!!” sembur Rina.

“Lalu aku harus bagaimana… Marah? Buat apa… Ya jelas-jelas dia selingkuh. Kalau aku marah, ya apa bedanya aku sama dia…”

Teman-teman Amara bertambah bingung. Mereka tak bisa mengerti bagaimana mungkin Amara membiarkan hal seperti itu terjadi di depan matanya.

“Kamu punya emosi nggak sih, Ra?!” protes Lita.

“Aku kan juga manusia, Ta… Masa’ nggak punya emosi…”

“Lho, terus kenapa nggak marah? Malah senyum-senyum lagi. Heran!”

Dan Amara betul memang hanya senyum-senyum sambil terus berjalan.

Lalu bagaimana Amara meluapkan emosi? Ternyata ia mencurahkan segala sesuatunya pada tulisan. Apa pun yang ia rasakan, selalu mengejawantah dalam bentuk tulisan. Buktinya, setelah kejadian di mal beberapa saat lalu, sebuah cerpennya muncul di koran. Giliran sang pacar, yang setelah kejadian itu telah menjadi mantan pacar, melabrak sewot.

“Apa sih maksud cerpen kamu di koran?!!”

“Lho, itu kan hanya cerpen, Krisna…”

“Iya tapi semua temen jadi tau kejadian di mal itu!!!”

“Itu hanya cerpen, Krisna…”

“Lebih baik kamu marah-marah atau nyaci-maki aku ketimbang nulis seperti itu di koran!!!” semprot Krisna mantan pacar Amara ngeloyor pergi.

Namun meski dibentak seperti itu, Amara tetap saja tersenyum-senyum ringan.

Amara bukan tak punya emosi. Ia bisa marah dan sering marah. Hanya saja ia mengungkapkannya dengan cara yang berbeda. Karena papanya selalu mengajarkan: “Orang yang sabar bukanlah orang yang tak bisa marah atau tak berani marah, Ara. Orang yang sabar tetap bisa dan berani marah, namun ia memilih untuk tak mengumbar amarahnya tersebut.”

Tak jarang Amara dikhianati kawan atau mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari gurunya yang pilih kasih terhadap muridnya. Tapi ia memilih tak membalasnya. Ia cukup tersenyum-senyum sembari menghapalkan lekuk wajah si guru lengkap dengan sifat-sifatnya.

Papanya selalu mendongengkan kisah-kisah yang banyak diulas dalam Qur’an maupun Injil. “Oleh sebab itu, jika kau dizalimi sekali oleh orang lain, maafkanlah orang tersebut sebanyak tujuh kali, Ara.” tukas papanya. “Karena orang yang mampu memaafkan orang lain, meski ia dizalimi, sesungguhnya ia lebih mulia dan lebih berani ketimbang seorang panglima perang yang berhasil menguasai kota taklukan.”

Amara selalu terkesiap dan terpana jika mendengar menuturan papanya. “Apalagi jika kau mampu mendoakan kebaikan bagi orang yang telah menzalimi dirimu. Allah akan mengangkat derajatmu.” lanjut papa. Dan cerita-cerita tersebut sungguh merasuk dalam diri Amara.

Itulah mengapa Amara hanya mencurahkan segala apa yang ia rasakan melalui tulisan. Ia mengadu lewat tulisan. Ia mengungkapkan emosi lewat tulisan. Ia berkisah lewat tulisan. Dan itu cukup membahagiakan hati dan dirinya.

Seperti ketika ada seorang guru yang dengan tanpa santun kedapatan menggoda Amara, sang guru justru menanggung malu bukan alang kepalang karena perbuatannya justru menjadi cerpen di media. Atau seorang kawan yang menggosipkan Amara berbuat hal-hal negatif, kelakuannya malah muncul dalam bentuk cerpen.

Lama-lama jarang ada orang yang berani mengganggu Amara, atau menjaili Amara, atau marah-marah hingga membentak-bentak Amara. Karena mereka tau, kalau itu sampai terjadi, kisahnya akan termuat di koran atau majalah.

Mereka jadi tau, mereka tak bisa membuat Amara marah. Diperlakukan seperti apa pun, Amara takkan marah. Namun mereka ngeri jika Amara sudah melukiskannya dalam bentuk cerita. Padahal cerita-cerita Amara samasekali tak vulgar, tidak juga menelanjangi tokoh menjadi begitu tolol atau dengan sembarangan menyebut nama seseorang. Gaya penceritaannya justru lembut, santun juga sederhana. Tak kurang sangat diskriptif, hidup, nyata hingga mampu menohok sampai ke ulu hati orang yang dimaksud. Itulah Amara.

Hingga di suatu sore yang cerah, tiba-tiba kepala papa menyembul di balik pintu kamar Amara.

“Bagaimana komputer barumu, Ara…”

“Eh, Papah. Iya Pah, enak sekali nulis di komputer gini. Semua tulisan tersimpan dengan baik. Kalau ada kalimat yang nggak sreg, tinggal balik lagi ke atas, bisa diubah, diganti, nggak seperti mesin tik. Makasih ya, Pah…” ujar Amara tersenyum senang.

“Lho, kok terima kasih? Itu kan kamu beli dengan uangmu sendiri. Hasil dari tulisanmu.” seru papanya sambil duduk di tempat tidur Amara.

Lalu papa melanjutkan:

“Papa senang kamu menyenangi apa yang kamu geluti sekarang ini. Bukan hanya senang, tapi juga bangga. Anak Papa, penulis, namanya mulai dikenal…”

“Ah, Ara nggak ingin terkenal, Pah. Ara malah ingin orang tidak tau kalau semua cerita itu Ara yang nulis.”

“Lho, kenapa?”

“Ya biar orang menyenangi karya Ara aja, nggak perlu tau siapa orangnya.”

“Tapi sejak awal orang mengenal namamu Ara. Orang sudah mengenalmu sebagai penulis kini. Jangan nafikan kepercayaan mereka. Karyamu termuat di mana-mana dengan namamu tertulis sebagai pengarangnya. A-ma-ra. Ah, betapa indahnya nama itu tercetak di media.”

“Memangnya arti nama Amara apa sih, Pah?”

“Kau tidak tau?”

“Yee… emang Papah belum pernah cerita.”

“Tau kah kau, Ara, arti Amara adalah ‘tanpa marah’. A-Marah. Papa memang ingin anak Papa bukan orang yang doyan marah. Bukan ia tak bisa atau tak berani marah, tapi karena ia tau betul bagaimana marah yang baik itu.”

“Oya?”

“Iya… Itu kenapa Papa nggak setuju kalau kamu mengganti nama pena kamu dengan nama lain, hanya karena kamu tidak ingin dikenal sebagai pengarang cerita-ceritamu itu. Nama itu Papa berikan padamu memang seperti harapan Papa, Ara. A-Mara.”

“Terima kasih, Papah…” seru Amara langsung memeluk papanya.

Dan papa balas mendekap erat anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa itu.

Bandung, 15 Februari 2007, 23.15.