Cerpen Daniel Mahendra

Pengadilan Negeri Tingkat I kota K. mengeluarkan keputusan melarang Supriyanto untuk melanjutkan profesinya sebagai pengarang. Supriyanto tentu saja terhenyak. Ia menganggap keputusan hakim tak jelas serta tak beralasan samasekali. Ia beranggapan hakim samasekali tak paham soal profesi seorang pengarang. Melalui kuasa hukumnya Supriyanto berniat malakukan banding.

Ya, dalam beberapa tahun kebelakang ini Supriyanto memang tiba-tiba menjadi pengarang yang produktif, kaya dan terkenal. Buku-bukunya banyak diminati pembaca. Dicetak ulang berkali-kali, diangkat ke layar lebar, dijadikan serial TV, dan Suprianto kebanjiran permintaan wawancara dari banyak media.

Mengetahui karyanya banyak diminati masyarakat, Supriyanto tak lantas ongkang-ongkang kaki serta menikmati kepopuleran sebagai seorang pengarang. Ia sadar betul: hidup tak selamanya berkeadaan sama. Ungkapan usang bahwa hidup bagaikan roda ia pegang betul.

“Barangkali saat ini saya sedang di atas. Karya-karya saya dibaca, diminati, kaya, terkenal. Tapi tahukah Anda bagaimana kehidupan saya sebelumnya? Sangat-sangat memprihatinkan. Saya makan sekali sehari. Kemana-mana jalan kaki. Rokok pun tak bisa sering-sering beli. Kebetulan saja saat ini saya sedang dicoba. Dicoba sukses oleh Tuhan. Makanya saya tak mau hidup bermegah-megah dengan keadaan. Karena saya tau, ini hanya ujian. Siapa yang bisa mengira kehidupan kita di depan.” tutur Supriyanto dalam sebuah wawancara.

Karena sikapnya itu Supriyanto justru digemari banyak pembaca. Ia dianggap pengarang yang rendah hati, tak gila publikasi, menghindari popularitas, dan lebih sering berada di rumah. Dan di rumah Supriyanto memang tetap terus menulis. Memang, kini ia boleh bersenang mendapat hadiah seperangkat komputer plus printer dari penerbit bukunya. Dan Supriyanto mensyukuri itu semua.

Sebetulnya Supriyanto belum banyak menelurkan buku. Bukunya bahkan belum sampai 10 judul. Tapi dari yang sedikit itu justru yang paling banyak digemari pembaca dan dicetak berulang-ulang kali.

Dulu waktu belum sebuah buku pun berhasil ia terbitkan, ia hanyalah seorang penulis cerpen biasa yang hanya bisa menjual mimpi pada pembaca. Dulu kalau ada satu cerpennya saja yang dimuat oleh media besar, ia sudah bersyukur sekali. Honor 500 sampai 700 ribu perak dari menulis cerpen di koran atau majalah besar cukup ia syukuri untuk membiayai hidupnya dalam sebulan.

Tapi tak selamanya tulisan-tulisannya itu diminati koran. Terkadang dalam sebulan tak satu cerpen pun dilirik harian. Itu mengapa Supriyanto menganut hidup sangat-sangat sederhana. Kalau bulan ini ada cerpennya yang dimuat, ia sudah bercadang: siapa tau bulan depan tak ada yang berminat.

Maka tak heran jika ia sering ditegur orang tuanya:

Oalah Pri… Pri… mau jadi apa tho kamu itu. Sekolah sudah beres, mbok ya cari kerja yang tetap. Yang gajinya bisa diandalkan!” tetak bapaknya.

Juga tak heran jika setiap kali menjalin hubungan, pacar-pacar Supriyanto lebih memilih mundur ketimbang terus bertahan dengan Supriyanto. Apa mau dikata, pacar-pacar Supriyanto memang termasuk manusia normal yang menginginkan hidup normal pula.

Tak jarang orang tua sang pacar sering memperingatkan putrinya:

“Kamu itu, apa sih yang diharapkan dari pacarmu Supri? Yang suka ke kamu itu ndak sedikit dan keadaannya jauh lebih baik. Eh, kok malah milih pacaran dengan Supri yang ndak jelas masa depannya. Pengarang? Oalah Nduk…Nduk… Mbok ya melek tho…

Dan Supriyanto mahfum betul akan keadaannya. Sudah barang tentu ia tak bisa memaksakan pendapatnya. Argumen pacar-pacar Supriyanto sangat-sangat masuk akal. Manusia mana yang tak ingin hidup senang.

Tapi Supriyanto tetap terus menulis. Setiap hari ia menulis. Pagi hari menulis, siang hari menulis, sore hari menulis, hingga subuh menjelang ia masih duduk di depan mesin tulis. Ia jadi jarang makan. Tetapi ia jarang makan bukan karena tak tersedia makanan di rumah. Ia jarang makan hanya karena merasa tak enak kalau terus-terusan membebani orang tuanya. Aneh memang. Meski terkadang ibunya prihatin juga dengan keadaan Supriyanto. Beliau paham anaknya punya mimpi, tetapi beliau pun ingin agar Supriyanto realistis.

“Orang tua normal mana yang mengizinkan anaknya jadi pembalap? Resikonya terlalu besar. Entah bisa patah kakilah. Gegar otaklah. Wajar. Tapi selama si anak punya mimpi kuat, ia pasti berhasil juga pada akhirnya. Lalu ketika suatu hari si anak sudah berdiri di podium dan mengangkat piala kemenangan, pada akhirnya orang tuanya pun akan memeluknya bangga juga.” kenang Supriyanto menganalogikan kisah masa lalunya.

Kini hidup Supriyanto barangkali sudah tak susah lagi. Dari royalti buku-bukunya ia bisa membiayai hidupnya, punya tabungan, makan sehari tiga kali, merokok setiap hari, dan yang paling dianggapnya penting: ia bisa ikut membantu orang tuanya dari uang yang betul-betul hasil keringatnya sendiri.

“Ndak perlu, Pri… Ndak perlu kamu ngasih uang setiap bulan seperti ini… Liat kamu sudah berhasil saja, Ibu senangnya bukan main, Le… Ada yang bisa kamu andalkan… Ada yang bisa Ibu banggakan… Berarti doa Ibu setiap hari Gusti Allah kabulkan …” ujar ibunya.

Supriyanto hanya tersenyum. “Ya ndak pa-pa tho, Bu. Supri juga kan ya ingin membahagiakan Ibu sama Bapak.” Mata si ibu hanya berkaca-kaca mendengar penuturan anaknya.

Hingga datanglah kejadian itu.

Ceritanya, begitu nama Supriyanto terkenal dan diminati banyak pembaca, tak sedikit anak-anak muda yang mengaguminya. Supriyanto dianggap memberi inspirasi banyak orang. Baik melalui cerita-ceritanya maupun pribadi Supriyanto sendiri. Tak aneh bila banyak anak berobsesi ingin menjadi pengarang persis seperti Supriyanto.

Maka di kota K. yang kecil itu muncullah pengarang-pengarang muda, berbakat dan penuh inspirasi. Tak sedikit orang tua yang mengharapkan anak-anaknya menjadi pengarang dan bisa berhasil seperti Supriyanto.

Supriyanto sudah seperti selebritis. Disorot banyak media, terpampang di cover-cover majalah dan menjadi berita di banyak infotainment. Meski sejatinya Supriyanto tak menginginkan itu semua. Tapi apa mau dikata, Supriyanto telah dianggap tokoh. Seorang hero baru dalam jagad kepenulisan.

Tak hanya kota K., di kota Y., kota S., bahkan kota di G. tak sedikit anak muda yang keranjingan menulis dan terobsesi menjadi pengarang. Sejak itu menulis dianggap kegiatan yang trendy dan prestesius. Anak muda yang tidak menulis atau tak memiliki minat pada dunia tulis-menulis dianggap ketinggalan jaman.

Mesin-mesin tulis serta komputer menjadi barang yang paling banyak diburu. Bisnis ATK (alat tulis kantor) kebanjiran pembeli. Sebuah perusahaan kertas mengontrak Supriyanto sebagai ikon produknya. Kursus-kursus penulisan pun banyak dibuka. Penjualan kertas, pinsil, tinta printer, pita mesin tik, amplop, perangko, juga omset warnet-warnet melesat tinggi lipat kali dari biasanya. Semua berkat Supriyanto. Meski Supriyanto tak pernah merasa demikian.

Tapi namanya juga sedang demam, siapa pun bisa tertulari wabahnya. Dunia kepenulisan betul-betul menggeliat. Banyak cerpen-cerpen baru bermunculan dari tangan penulis-penulis muda. Koran-koran serta majalah kebanjiran kiriman cerita. Para redaktur sastra seperti mendapat pekerjaan ekstra. Tumpukan amplop di meja respsionis media massa dan inbox email redaksi koran membludak saban hari. Buntutnya, perusahaan-perusahaan yang biasanya enggan beriklan di halaman sastra kini malah mengantri menyodorkan produknya tanpa diminta.

Jagad kepenulisan betul-betul sedang menggeliat. Supriyanto makin diburu banyak media. Beberapa majalah atau organisasi nirlaba sepakat mengangkatnya sebagai man of the year menurut versinya. Tak aneh bila penasehat presiden menganjurkan agar presiden mengundang Supriyanto ke Istana Negara. Sekadar bincang-bincang minum teh sembari diberi yah, katakanlah bintang jasalah…

Kalau sudah seperti itu, Gubernur, Walikota, Bupati, Camat sampai Lurah merasa malu jika tak mengundang Supriyanto sekadar makan malam di pendopo pemerintahan. Tapi dasar Supriyanto, ia tenang-tenang saja dengan itu semua. Ia tak lantas memenuhi semua undangan. Ia tak mau aji mumpung. Kalau saja mau, ia bisa menggunakan itu semua sebagai pemulus kariernya entah untuk apa saja. Kesempatan betul-betul di depan mata. Tapi Supriyanto tetap merasa seorang pengarang biasa yang hanya ingin dibaca karya-karyanya ketimbang diketahui seperti apa penulisnya.

Lama-lama anak muda yang bercita-cita menjadi pengarang lebih banyak ketimbang yang memilih menjadi dokter, pilot, pengacara atau bahkan pegawai negeri. Tak heran jika banyak anak muda yang lebih memilih menghabiskan waktunya dengan duduk di depan mesin ketik atau komputer. Obsesi pengarang begitu merasuki otak anak-anak muda.

Terkadang tak sedikit orang tua yang pelan-pelan menjadi sebal karena kini anak-anak mereka lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau ruang studi. Meski harus diakui, kriminalitas atau kenakalan remaja menjadi menurun grafiknya. Tetapi mendapati kenyataan bahwa kini anak-anak lebih banyak duduk ketimbang bermain-main, berolahraga atau berkegiatan normal seperti biasanya sungguh membuat para orang tua geleng-geleng kepala.

Bermingu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun anak-anak muda lebih banyak duduk ketimbang beraktifitas normal. Sementara buku-buku Supriyanto masih laris manis dan dielu-elukan. Tetapi para orang tua mulai menganggap hal ini sudah tak lagi wajar. Mereka mulai saling mengeluh serta membicarakan kegundahannya.

Yang terjadi, banyak anak muda yang mulai merasa sakit punggungnya. Mereka terlalu banyak duduk, sedikit tidur dan kurang mengkonsumsi air putih. Buntutnya ginjal mereka pun banyak yang terserang. Tak sedikit yang dilarikan ke rumah sakit. Rumah sakit penuh anak muda dengan keluhan gangguan ginjal.

Rumah-rumah sakit di kota K. merasa kewalahan karena menerima begitu banyak pasien disfungsi ginjal. Beberapa merujuk pasiennya ke rumah sakit ibukota karena tak sanggup lagi menangani. Tentu saja dengan cepat ini menjadi berita. Koran, majalah, radio dan tv berlomba-lomba memberitakannya. Ini bisa menjadi berita utama karena begitu banyak yang harus dilarikan ke rumah sakit. Tak ubahnya korban demam berdarah atau flu burung yang membuat penderitanya merenggang nyawa.

Ya, media mensinyalir anak-anak muda itu mengalami gangguan ginjal karena kurangnya minum, duduk terlampau lama serta melupakan jam tidur. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu di depan mesin ketik dan komputer, apalagi kalau bukan terobsesi ingin menjadi pengarang. Dan kemana lagi tuduhan musti dialamatkan jika tidak pada Supriyanto. Karena tokoh panutan mereka, tak bisa tidak: Supriyanto.

Lagi-lagi Supriyanto diburu media. Terutama infotainment. Karena ia dianggap telah merasuki otak anak-anak muda untuk menjadi seperti dirinya. Supriyanto kembali menjadi berita hangat yang menghiasi koran, majalah, radio pun televisi. Kali ini bukan jagad kepenulisan saja yang menggeliat, jagad media massa menjadikannya sorotan utama sepanjang hari. Namun kali ini dengan sajian tak mengenakkan: sebagai orang yang bertanggungjawab atas “wabah” yang menimbulkan bencana.

Dari segi jurnalistik memang telah terjadi trial by the press. Di mana media melakukan pendakwaan terhadap seseorang melalui berita. Tapi barangkali memang seperti itulah gaya jurnalisme materialistik masa kini. Lama-lama Supriyanto gerah juga. Ia merasa seperti menjadi bulan-bulanan media massa.

Karena blow-up media begitu gencar, masyarakat seperti di-brainwashing atas kasus Supriyanto. Lihatlah, belum apa-apa media sudah menamakan hal ini sebagai “Kasus Supriyanto”, bukan lagi disfungsi ginjal yang banyak diderita anak-anak muda dalam beberapa saat terakhir ini. Wacananya jadi bergeser.

Buntutnya, beberapa orang tua yang merasa terpukul karena anaknya menjadi korban akibat terpengaruh Supriyanto, mengadukan Supriyanto ke kepolisian. Supriyanto pun dipanggil untuk dimintai keterangan. Supriyanto pun manut. Ia datang ke kantor polisi memenuhi panggilan. Untungnya Lembaga Bantuan Hukum kota K. tak tinggal diam melihat keadaan ini. Mereka bersepakat mendampingi Supriyanto dan hendak membelanya.

Polisi pun mengumpulkan bukti-bukti. Rumah Supriyanto digeledah. Catatan-catatan dibongkari. File-file komputer diperiksa. Buku-buku karangan Supriyanto dianalisis. Penerbit buku-buku Supriyanto didatangi. Korban-korban disfungsi ginjal diwawancarai. Hasilnya: Supriyanto diajukan ke pengadilan. Supriyanto pun diminta menandatangani Berita Acara Pemeriksaan.

“Apa tuduhannya?!” tanya Supriyanto tak mengerti.

“Tenang. Jangan takut. Kami bersamamu!” ujar salah seorang dari LBH.

Akhirnya Supriyanto memang diajukan ke pengadilan. Sidang pun digelar. Para anak muda korban disfungsi ginjal dihadirkan. Saksi-saksi seperti orang tua para anak muda, para editor, pihak penerbit, penulis skenario yang mengadaptasi karya Supriyanto ke layar labar, sutradara film, produser, pihak televisi, juga orang tua Supriyanto didatangkan.

Pengadilan berjalan berlarut-larut, bertele-tele dan terus menghadirkan saksi demi saksi. Supriyanto tampak lelah. Tubuhnya terlihat kurus dan mukanya pucat. Ia merasa letih musti menghadapi sidang demi sidang yang melelahkan. Semua berputar dan mengarah pada tuduhan: sejauh mana pengaruh karya Supriyanto terhadap disfungsi ginjal yang belakangan diderita banyak anak muda.

Sebagai manusia biasa, tentu ia tak luput mengalami depresi juga. Bagaimana mungkin dirinya dituduh bertanggungjawab atas kasus ini. Ia tak habis pikir, bingung dan kehilangan orientasi.

Hingga Pengadilan Negeri Tingkat I kota K. mengeluarkan keputusan melarang Supriyanto untuk melanjutkan profesinya sebagai pengarang. Supriyanto tentu saja terhenyak. Ia menganggap keputusan hakim tak jelas serta tak beralasan samasekali. Ia beranggapan hakim samasekali tak paham soal profesi seorang pengarang. Melalui kuasa hukumnya Supriyanto berniat malakukan banding.

Bandung, 17 Februari 2007, 03.26 am.