dollarburn_1.jpg

Dulu waktu masih kuliah, Sukimin selalu turun ke jalan dan berdiri di barisan terdepan aksi-aksi yang banyak digelar oleh mahasiswa. Isunya tentu bisa macam-macam. Dari mulai demo kenaikan biaya kuliah, penertiban pedagang di trotoar kampus, kinerja walikota, korupsi gubernur sampai mentalitet anggota DPRD.

Sukimin tau, semua itu ia lakukan untuk melatih dirinya agar berani mengeluarkan pendapat, berhadapan dengan aparat, menyuarakan kalangan yang (dianggap) tertindas, memimpin barisan aksi sampai pemenuhan jam terbang turun ke jalan.

Hari-hari Sukimin banyak dihabiskan untuk rapat demi rapat, pertemuan demi pertemuan, mengatur strategi, mengelola isu dan kadang-kadang saja duduk di bangku kuliah. Kalau sudah seperti itu, tentu saja kawan-kawan mengenal Sukimin sebagai aktivis.

Sukimin memang pintar berteman. Organisasi kampus maupun non kampus ia masuki, ia akrabi, ia ceburi. Dari yang mulai kehijau-hijauan, hijau beneran, sampai yang paling merah sekalipun. Ia sudi berteman mesra dengan berbagai kalangan. Ia tak perlu khawatir dianggap kutu loncat organisasi, toh berbagai kalangan tau ia memang aktivis.

Maka tak aneh bila Sukimin pun sempat mencalonkan diri sebagai Ketua Senat Mahasiswa. Kepercayaan dirinya memang patut diacungi jempol. Dua kalau perlu. Meski program-programnya terkesan biasa saja, kalau tak mau disebut ketinggalan jaman, tapi kenekatan Sukimin mencalonkan diri sebagai Ketua Senat bukan tanpa keberanian.

Meski tak terpilih, namun fluktuasi nilai Sukimin terhadap keberadaannya di kampus menguat drastis di mata kawan-kawan serta beberapa kalangan. Mau tidak mau, sosok seorang Sukimin telah membuktikan bahwa ia: bukan sembarang aktivis yang bisa diremehkan begitu saja.

Akhirnya setelah tak menemukan orientasi kekuasaan lagi di teritori kampus, di masa akhir kuliah, Sukimin mulai bermain di luar pagar. Ia seperti menemukan lahan yang tak bakal habis untuk digarap: ia terjun ke pedagang-pedagang pasar di kota B.

Pasar? Ya.

Dulu ia memang pernah membela para pegadang di trotoar kampus agar tak digusur. Ia mendapat dukungan dari banyak pedagang. Ia membawa para pedagang itu ke kantor DPRD. Keluhan mereka pun didengar. Kalau sudah seperti itu, mau tak mau, pihak kampus tak bisa berbuat apa-apa. Para pedagang tetap diperbolehkan berjualan di sekitar kampus.

Buntutnya, nilai seorang Sukimin begitu berarti di mata para pedagang kampus. Kalau ia kebetulan lewat trotoar, nyaris semua pedagang berebut memintanya untuk sudi mampir ke tendanya. Entah itu ayam bakar, sate ayam, bubur ayam, lontong kari, es jeruk, sampai nasi goreng. Tukang rokok selalu menyelipkan sebungkus filter ke sakunya. Tukang kopi pun selalu tergopoh-gapah menjarang air kalau Sukimin datang. Ya, suara Sukimin memang berpengaruh dan begitu didengar.

Lewat jalinan pertemanan pedagang di sekitar kampuslah Sukimin berhasil berkenalan dengan banyak pedagang di pasar-pasar kota B. Entah itu pedagang di Psr Br, Crym, Astn Ayr, Smpg sampai Ccds.

Terkadang kawan-kawannya berpikir dan mengerutkan kening: sebetulnya apa sih yang dikerjakan Sukimin? Dari mana ia bisa membiayai hidupnya? Sementara kerjanya hanya aksi dan demo, mendatangi pedagang-pedagang di pasar serta memboyong mereka ke kantor DPRD.

Tentu saja Sukimin selalu berkata: “Rakyat kecil ya harus dibela. Kalau ada ketidakadilan, masa’ mau diam saja?” begitu Sukimin selalu bernada. Dan kawan-kawan tetap tidak mengerti: bagaimana Sukimin menghidupi dirinya.

Bertahun-tahun Sukimin bersahabat dengan para pedagang pasar. Kemana-mana naik angkutan kota. Ia tetap sederhana. Selalu memasukkan kemeja. Handphone-nya tergolong tua. Hidup Sukimin memang sangat bersahaja.

Ketika ada rencana penggusuran pedagang di sekitar Psr Br, Sukimin jelas turun tangan. Ia terjun langsung ke dalam. Mendengarkan keluhan. Mengelola isu. Menggalang suara serta mengatur strategi. Psr Br akan dibangun ulang oleh Pemerintah Kota. Tentu bekerja sama dengan pengembang.

Bukan Sukimin kalau tak bisa memboyong pedagang untuk melakukan aksi. Seperti yang sudah-sudah, mereka pun digiring ke kantor DPRD. Terjadilah dengar pendapat. Hasilnya: kelak pedagang di trotoar memiliki hak menempati lantai paling bawah yang akan disediakan oleh pengembang. Begitu pun padagang lama: harga cicilan kios tak boleh sampai mencekik leher.

Lagi-lagi nilai seorang Sukimin begitu memiliki arti di mata para pedagang. Kalau ada yang bermain curang sedikit saja, entah itu pihak pemkot atau pengembang, tak segan-segan Sukimin membawa ratusan pedagang turun ke jalan. Dan itu tidak hanya ia lakukan di Psr Br, tapi juga di Crym, Astn Ayr, Smpg juga Ccds.

Lama-lama baik pihak pemkot maupun pengembang mulai merasa gerah dan menaruh “perhatian” lebih pada Sukimin. Ia menjadi terkenal dan sangat mudah untuk diamat-amati. Gerak-geriknya, kegiatannya, aktivitasnya, lokasi rumahnya, siapa pacarnya dan apa sebetulnya pekerjaannya, selalu diperhatikan.

Guna melunakan hati Sukimin, agar tak melulu mengompori pedagang untuk demo turun ke jalan, oleh pihak pemkot tak sekali-dua Sukimin ditawari uang puluhan juta plus boleh memilih sebuah kios di lantai manapun ia suka. Tentu saja pihak pemkot maupun pengembang tak mau proyek-proyek mereka di kota B. terganggu hanya karena ulah seorang Sukimin yang tubuhnya tak sampai 165 cm itu. Pihak pengembang pun terkadang mendesak pemkot agar gangguan-gangguan kecil semacam itu bisa diredupkan.

Tapi Sukimin tak bergeming dan tetap membela kepentingan pedagang. Ia tak rela jika pedagang dijadikan obyek semata oleh pihak-pihak yang memiliki proyek dan melulu mengeruk keuntungan dari para pedagang. “Kalau bukan kita, siapa lagi yang musti membela rakyat kecil?” begitu tukas Sukimin selalu.

Meski kalau diperhatikan benar, pada dasarnya pedagang itu pun sebetulnya tak kecil-kecil amat untuk disebut rakyat. Bagaimana tidak, harga sebuah kios setelah dirombak bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta. Dan mereka sudah mengantri dari sejak jauh hari. Tak sedikit yang membeli dua. Jadi sebetulnya mereka golongan orang berada juga.

Namun Sukimin tetap membela mereka. Memang, resikonya bukan tak ada. Tak jarang ia musti berhadapan dengan organisasi masyarakat underbow pihak-pihak tertentu. Kalau sudah seperti itu, tak jarang mereka jadi berhadap-hadapan di jalanan. Fisik maupun nyawa bisa jadi taruhan. Sukimin membawa isu: bahwa para pedagang tak rela digusur. Sementara organisasi masyarakat yang berseragam, yang ditampangnya diseram-seramkan, yang rambutnya gondrong-godrong hitam, menyorong isu: pedagang rela digusur dengan ganti rugi yang sepadan. Tapi bukan Sukimin kalau menyerah begitu saja.

Begitulah Sukimin dari hari ke hari. Pasar manapun yang ada di kota B. nyaris pernah digarapnya. Penampilannya tetap sederhana, kemana-mana pakai angkutan kota, Handphone-nya masih tergolong tua, dan hidupnya sangat-sangat bersahaja.

Hingga suatu siang tiba-tiba ia datang ke kantor. Katanya:

“Aku titip mobil ya…” ujarnya setelah memarkir Suzuki APV.

“Wah, sudah bermobil kamu sekarang. Selamat ya…”

“Titip sebentar aja kok.”

“Kenapa musti titip sih? Memangnya mau kemana?”

Please dong, masa’ aku ke pasar pake mobil. Apa kata pedagang nanti.”

“Hah? Maksudnya?”

“Bentar.” potong Sukimin karena tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Ia pun segera menerima telpon. Tapi ternyata ia tak mengeluarkan handphone tuanya, melainkan Nokia terbaru seri N93i.

Tak lama kemudian ia pun melanjutkan sembari tetap menenteng handphone-nya. “Sampai mana tadi? Oh iya. Ah kamu ini, nggak cerdas banget sih! Aku ini dapet duit dari mana… Kalo datang ke pedagang pake mobil, apa kata mereka…”

“Ya sudah. Pergilah sana. Taruh saja mobil barumu itu di situ. Tarif parkirnya seratus ribu per jam!” ujarku ngakak. Dan Sukimin pun pergi jalan kaki.

Dua jam kemudian Sukimin telah datang kembali. Kusorongkan secangkir kopi.

“Gimana? Lancar?” tanyaku basa-basi.

“Ya gitulah…”

“Banyak yang berubah nih kayaknya.”

“Ah, biasa aja…” jawabnya mengeluarkan bungkus rokok filter. Aku hanya tersenyum.

“Pasar mana lagi yang sedang kamu garap?”

“Itu, yang di atas, mau dibangun baru. Yah, biasalah… mbela pedagang yang termarginalkan.”

“Aha! Termarginalkan. Lalu, mobil itu? Akhirnya kamu terima juga sogokan mereka?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Sembarangan kalo ngomong! Itu bukan sogokan. Aku tetap membela pedagang. Tapi kalo ada pihak yang ngasih sesuatu, ya kenapa ditolak… Toh nggak ada yang berubah.”

“Ow-ow-ow…”

“Hidup ini musti realistis.”

“Lalu?”

“Tuntutanku sebesar satu milyar nggak pernah mereka penuhi.”

“Besar sekali?”

“Ya ampun… betapa bodohnya sih kamu. Nominal segitu tuh kecil banget dibanding yang mereka dapatkan dari mega proyek-proyek di kota ini. Wajar dong kalo aku minta segitu.”

“Ke pihak pemkot atau pengembang?”

“Ya kamu nggak perlu taulah.”

“Ow, begitu ya… Memangnya kalau tuntutanmu dipenuhi, kamu akan berhenti aksi?”

“Kayaknya sih gitu.”

“Jadi, karena tuntutanmu yang satu milyar itu nggak mereka penuhi, kamu terima dalam bentuk kecil-kecil seperti mobil itu?” tanyaku menggoda.

“Kan aku udah bilang: hidup musti realistis. Toh aku tetap mbela pedagang kan…”

“Hmmm…”

“Ya selagi kita bisa menggunakan lahan yang bisa digarap, kenapa tidak.”

“Kalo urusan dengan satu pasar udah beres?”

“Ya cari pasar lain lagilah. Bego banget sih!”

“Terus seperti itu?”

“Ya kalo ada pasar yang masih bisa digarap, ya nggak lantas ditinggal gitu aja dong. Pasar itu kan perputaran uang paling nyata. Tapi kalo udah nggak bisa diapa-apain lagi, ya ditinggal. Cari pasar lain. Ngapain berlama-lama dengan satu pasar yang udah nggak menghasilkan apa-apa. Yang pasti aku musti dapat sesuatu dari setiap pasar yang kugarap.”

“Hmmm… gitu ternyata kerja kamu.”

“Ya iyalah… Emang kamu pikir bertahun-tahun aku mbela pedagang tanpa tujuan apa? Gila aja!”

Dari situ baru mulai terpetakan dari mana Sukimin hidup. Ternyata ia bisa bernegoisasi baik dengan pihak pemkot, pengembang maupun pedagang. Intinya, ia ingin pedagang tidak dijadikan obyek semata oleh pihak-pihak yang memiliki proyek dan melulu mengeruk keuntungan dari para pedagang.

Tentu saja ia pun musti ambil bagian dari lingkaran tersebut. Ia tetap berharap semua pihak diuntungkan. Pedagang tidak merasa dirugikan, rencana-rencana pemkot lancar, pengembang tetap ketiban proyek, dan ia cukup di sela-selanya saja. Namun Sukimin tetap selalu berkata: “Kalau bukan kita, siapa lagi yang musti membela rakyat kecil…”

Bandung, 22 Februari 2007, 00.11 am.

anything for money

would lie for you, would die for you

even sell my soul to the devil

you do anything for money…