J.J.J. (Jesse “Jazz” Jessica)
Jesse muda, dinamis, dan disukai teman-temannya. Ia tak begitu cantik, jauh dari seksi, tapi untuk ukuran perempuan ia cukup sedap dipandang mata.
Namanya Jesse. Jesse namanya. Teman-teman memanggilnya Jazzy. Karena ia mudah terbius oleh musik jazz. Terkadang teman-temannya kerap berolok: Jazzy mengidap jazz akut. Bahkan sudah mencapai stadium 4. Karena Jazz bagi Jazzy adalah nadi, nafas, dan nalurinya. Setiap langkahnya selalu diiringi musik jazz. Intuisinya berdasarkan jazz. Cara berpikirnya sangat nge-jazz. Jazz baginya sudah seperti cara pandang dalam menjalani hidup. Semua boleh asyik sendiri-sendiri, namun tetap padu dalam kesatuan yang harmonis.
Ia tergila-gila pada Jamie Cullum. Dan kemana pun ia pergi, seluruh tembang Lee Ritenour berdengung-dengung di kepalanya. Maka tiket Java Jazz seharga 800 ribu perak seperti tak ada artinya. Semua demi jazz. Demi hidup itu sendiri.
Jazzy sederhana, banyak tersenyum, namun seorang yang cepat sekali cemas. Ia kuliah di jurusan Teknik Planologi sebuah Perguruan Tinggi Swasta. Namun Jazzy juga tercatat sebagai mahasiswa Hukum di sebuah PTN. Tahun berikutnya lagi-lagi ia mengambil bidang Ekonomi di PTN yang sama. Total Jazzy kuliah di tiga disiplin ilmu yang berbeda. Kecerdasan memang dimilikinya.
Selain mendengarkan jazz, hari-hari Jazzy habis untuk semata kuliah. Ia melesat dari satu kampus ke kampus lain. Mencelat dari satu mata kuliah ke mata kuliah lain. Ia bukan tak mau bergaul. Tapi tercatat sebagai mahasiswa di tiga jurusan yang berbeda, siapa pun akan berlaku seperti Jazzy.
Meski memiliki tiga kartu mahasiswa, teman Jazzy tak begitu banyak. Tapi dari yang tak banyak itu dapat diukur kadar kualitasnya. Mereka kawan-kawan kepercayaan yang tak perlu lagi diuji tingkat persahabatannya.
Jazzy anak pertama dari dua bersaudara. Adik lelakinya masih SMU. Ayahnya bukan orang terpandang untuk ukuran frame masyarakat (apa parameter terpandang?). Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa saja. Tapi tingkat ekonomi keluarga Jazzy bukan saja di atas rata-rata, tapi termasuk golongan yang sangat sedikit. Sedikit sekali.
Seperti apa golongan yang sangat sedikit itu?
Jazzy sangat-sangat tidak bisa mendiskripsikan apa itu kaya. Ia memang betul-betul tak bisa. Karena kaya baginya bukanlah sebuah tingkatan ukuran ekonomi. Jangankan Jazzy, ayah Jazzy pun saat lahir sudah menjadi orang yang menurut masyarakat: kaya. Jadi bagi mereka kaya bukanlah sesuatu yang dicapai. Tapi sudah demikian adanya.
Mereka bukan orang yang baru mencicipi kekayaan sepuluh atau duapuluh tahun kebelakang. Mereka memang sudah berkeadaan demikian sejak kakek Jazzy. Jadi hidup mereka tidak mewah, tidak semanak, juga tidak gemerlapan.
Orang-orang seperti mereka memang tak mudah ditemui di keseharian. Mereka tak begitu menarik perhatian. Kalau dibuat kategori, mereka termasuk golongan ketiga jika masuk ke dalam sebuah bank. Maksudnya?
Golongan pertama adalah nasabah bank dengan saldo tabungan di bawah Rp 100 juta. Penampilannya seperti kebanyakan orang. Barangkali ada yang sedikit genit pamer penampilan. Tapi umumnya mereka mudah ditebak. Golongan ini merupakan golongan yang prosentasenya paling banyak.
Golongan nasabah kedua, adalah mereka yang tabungannya di atas Rp 100 juta. Biasanya sangat menunjukkan sekali kalau mereka nasabah dengan tabungan ratusan juta. Dari pilihan mobil mereka, penampilan mereka, cara berpakaian mereka, cara jalan mereka, cara bicara mereka, bahkan cara mereka melemparkan pandangan mata akan sangat tampak.
Golongan ketiga adalah golongan seperti keluaga Jazzy. Mereka orang-orang yang simpanannya mencapai milyaran rupiah bahkan trilyun. Mereka tak terlihat samasekali. Bahkan samasekali tak mengesankan orang dengan simpanan bank milyaran rupiah. Karena kekayaan bagi mereka bukan sesuatu yang baru. Maka penampilan mereka cenderung biasa-biasa saja. Malah mereka risih kalau menjadi tampak berbeda di antara kebanyakan orang.
Tau berapa orang yang memiliki mobil Bentley di Indonesia? Tak sulit menghitungnya. Tapi dari yang tak sulit itu, sangat sulit mencari siapa saja. Karena orang yang bisa membeli mobil Bentley dapat dipastikan bukan orang sembarang. Bukan orang yang baru kaya sepuluh atau duapuluh tahun terakhir.
Penjualan mobil yang di Indonesia lesensinya dipegang oleh Grandauto itu pun tidak menggebu dalam berpromosi. Tidak pernah beriklan secara terang-terangan, apalagi mencari pelanggan. Konsumen yang langka itu akan datang dengan sendirinya. Tak seperti orang yang mampu membeli Jaguar.
Seorang pemilik Jaguar, dalam 2 hingga 3 tahun kedepan biasanya menjual Jaguarnya untuk membeli tipe terbaru keluaran terakhir. Jaguar second bukanlah hal aneh. Namun tak pernah terdengar ada Bentley second. Orang yang membeli Bentley akan menyimpan mobil itu untuk seumur hidupnya. Karena di situlah pretise sebuah Bentley.
Mobil seharga 1 juta US dollar itu memang sangat-sangat jarang kita lihat berseliweran di jalan-jalan kota dalam keseharian. Orang membeli Bentley bukan untuk fungsional. Pemiliknya hanya memakai untuk kondangan di hotel eksklusif, atau sesekali dipakai berangin-angin di jalan tol saat weekend. Sisanya: ditaruh di garasi untuk dipandangi atau diusap-usap. Begitulah keluarga Jazzy.
Kadang kawan-kawan Jazzy berpikir: apa yang kurang dari Jazzy? Semua ada dan serba sempurna. Bahkan kecerdasan pun dimilikinya. Jangan tanya Jazzy negara mana saja yang sudah ia kunjungi. Tapi tanyalah negara mana saja di dunia ini yang belum sempat ia datangi untuk berlibur. Jumlahnya jauh lebih sedikit ketimbang belahan bumi yang pernah ia singgahi. Demikianlah Jazzy.
Namun penampilan gadis berambut ekor-kuda itu samasekali tak menunjukkan seorang yang gila belanja. Selain sendal jepit kuning, sehari-hari Jazzy cukup mengenakan kaos Bali gombrang yang adem serta berbalut celana jins. Keduanya tak bernilai juta-juta. Handphonenya tergolong kuno, sudah berumur setahun –agak berbeda dengan gaya orang-orang berduit yang tiap minggu ganti handphone. Yang agak baru, mungkin iPod-nya: pakai video. Tapi berapalah sebuah iPod.
Ketika kawan-kawan Jazzy masih terus bertanya dalam hati secara sembunyi-sembunyi: apa yang kurang dari Jazzy, suatu hari ibu Jazzy jatuh sakit. Berbulan lamanya digerogoti kangker. Sang ibu pun meninggal. Seluruh anggota keluarga tentu saja berduka. Namun demikianlah hidup: tak ada satu pun keterikatan yang kekal.
Siapa nyana, satu tahun kemudian, ayah Jazzy pun jatuh sakit. Barangkali karena begitu besar rasa cinta sang ayah pada ibu Jazzy, sang ayah pun meninggal menyusul ibu Jazzy. Jadilah Jazzy yatim piatu bersama adiknya. Di usia semuda itu. Di suatu masa ketika kawan-kawan memandang keluarga Jazzy tampak begitu sempurna hidupnya.
Maka kini giliran kawan-kawan Jazzy yang terbelalak dan mulai menyadari: bahwa di dunia ini tak ada sesuatu yang sempurna, memang benar adanya. Mereka boleh saja bertanya dan terus bertanya: apa kurangnya Jazzy. Tapi inilah hidup. Jazzy kini bahkan tak lagi memilki orang tua samasekali.
Ketika pada akhirnya Jazzy menyelesaikan kuliahnya di Planologi, tak berapa lama ia pun diwisuda sebagai Sarjana Hukum. Tentu saja tanpa adanya orang tua yang menyaksikan. Demikianlah hidup musti tetap terus berjalan. Dan Jazzy pun masih harus menyelesaikan skripsi bidang Ekonominya. Satu tahun kemudian Jazzy mengantongi 3 gelar kesarjanaan sekaligus. Lantas apa yang hendak Jazzy lakukan?
Ia ingat pada sebuah amanat orang tuanya: bahwa mereka mengharapkan anak-anaknya mengenyam pendidikan di luar negeri. Demi amanat tersebut, Jazzy pun mulai mencari sekolah yang ia inginkan. Akhirnya pilihan jatuh pada sebuah sekolah teknik di London, Inggris.
Kuliah di Inggris tentu berbeda dengan kuliah di Asia atau Amerika. Biaya pendidikan serta hidup di Inggris jauh lebih mahal lipat kali mengambil kuliah di Amerika. Tapi demi amanat orang tua, Jazzy pun berangkat. Ia mengambil master bidang Tatakota.
Singkat cerita, Jazzy telah menyelesaikan masternya dan pulang ke Indonesia. Tak lupa membawa bertumpuk cakram jazz ketika berburu di Inggris. Ia kembali bertemu dengan kawan-kawan kuliahnya dulu yang rata-rata sudah bekerja. Kawan-kawan Jazzy senang Jazzy dapat kembali berkumpul bersama mereka lagi.
Tapi pelan-pelan, mulai ada rasa cemburu pada diri Jazzy terhadap kawan-kawannya. Kenapa? Bisa kamu bayangkan, kawan-kawan Jazzy yang rata-rata sudah bekerja atau ada yang bekerja sembari mengambil S2, mereka berpenghasilan. Bergaji. Ya, tidak bisa tidak, golongan masyarakat yang hidup dari gaji memang lebih banyak. Meski kawan-kawan Jazzy bergaji 2 sampai 3 juta per bulan (kalau beruntung ada yang mulai bergaji di atas 3 juta sebagai first graduate) tentu membuat Jazzy rendah diri. Mengapa bisa demikian?
Ia yang kuliah di 3 disiplin ilmu sekaligus, ditambah master di bidang teknik lulusan luar negeri, musti mencari kerja dengan gaji berapa sebagai first graduate? 2 juta? Barangkali itu pengeluaran pribadi Jazzy dalam sebulan. Yang kerap terjadi: perusahaan yang ia kirimi lamaran selalu bingung musti menggaji Jazzy berapa. Yang sudah-sudah: mereka sudah ketakutan duluan ketika baru membaca CV Jazzy. Apalagi Jazzy belum pernah punya pengalaman kerja samasekali.
Situasinya memang membingungkan serta menjadi serba sulit. Dan hal itu membuat Jazzy frustasi. Tapi hidup seperti itu terus pun membuat ia tak bahagia. Setelah sekian lama kembali berdomisili di Indonesia, Jazzy belum lagi bekerja.
Ketika ada seorang kawan yang mengirimkan pengajuan beasiswa ke sebuah sekolah di Amerika, ketimbang tak ada kerjaan, karena diajak, Jazzy pun turut mengajukan. Apa yang terjadi? Si kawan tak lolos. Jazzy malah mendapatkan beasiswa tersebut dan dipersilahkan terbang ke Amerika. Toefl-nya memang tak perlu diragukan.
Lagi-lagi kawan-kawan Jazzy bertanya: apa kurangnya dari Jazzy. Tapi Jazzy mengambil keputusan untuk tak mengambil beasiswa tersebut. Ia masih merasa tak bahagia. Kalau ia harus terus sekolah, kapan ia mulai merasakan dunia kerja, pikirnya.
Perlahan Jazzy yang terbiasa cepat cemas itu mulai merasa rendah diri di hadapan teman-temannya. Ia memang tak pernah kekurangan uang, tapi dibanding kawan-kawannya, ia satu-satunya yang tak berpenghasilan.
Ia teringat nasehat orang tuanya: hidup mapan tanpa penghasilan bisa melenakan seseorang. Ya, di satu sisi ia samasekali tak kekurangan uang, tapi di sisi lain terkadang ia bingung: apa lagi yang musti ia lakukan. Melulu bersenang-senang pun tak pernah ada habisnya. Orang bisa sengsara dalam hidup seperti itu. Orang boleh punya kekayaan setinggi gunung, namun jika tak bekerja, ia akan cepat mati. Tak percaya? buktikan saja, begitu nasehat orang tua Jazzy dulu.
Akhirnya, ketimbang nganggur, Jazzy diajak seorang kawan bekeja di sebuah majalah bulanan. Jazzy hanya diminta membuat tulisan feature tentang restoran atau tempat wisata yang menarik. Berapa gaji Jazzy? 750 ribu perak. Jazzy setuju!
Kini Jazzy berpenghasilan. Jenis pekerjaannya, samasekali tak ada sangkut pautnya dengan disipilin ilmu yang pernah ditempuhnya. Tapi Jazzy bekerja. Dan Jazzy mulai menikmati pekerjaannya. Ia mendatangi restoran-restoran unik yang ada di kotanya. Ia makan di sana, sedikit bincang-bincang dengan pengelolanya, lalu pulang, membuat laporan.
Karena majalahnya bulanan, tak setiap hari Jazzy datang ke kantor. Sesekali saja ia datang dengan Mercy S600 (saat itu Honda Jazz belum nongol di Indonesia). Itu pun sekadar mengambil gaji yang Rp 750 ribu atau rapat redaksi untuk proyeksi content edisi depan. Sisanya, semua tulisan cukup ia kirim dari rumah via email.
Meski bergaji, lama-lama Jazzy bosan juga. Ia merasa seperti tak bekerja. Mengingat periodesitas majalahnya yang bulanan, semua toh Jazzy kerjakan di rumah. Ia mulai membutuhkan sesuatu yang lebih menantang. Lebih dinamis. Maka setelah berbulan lamanya ia pun pamitan dari kantor majalah tersebut. Jazzy kembali tak berpenghasilan.
Jazzy kembali depresi dan kembali merasa rendah diri. Lama ia menganggur. Dalam keadaan seperti itu, lagi seorang kawan menawarinya menjadi asisten dosen di sebuah sekolah teknik negeri di kotanya. Gajinya? Tak sampai 1 juta. Jazzy pun menyabetnya!
Maka tak aneh jika Jazzy menjadi satu-satunya pengajar yang memarkirkan Mercy S600-nya di kampus negeri yang rindang itu. Jazzy mulai mengajar.
Awalnya Jazzy tampak menikmati. Karena semua berhubungan dengan disiplin ilmunya yang Tatakota. Namun lama-kelamaan Jazzy mulai bosan. Terus-menerus menjadi asisten dosen ia rasa monoton dan minim tantangan. Jazzy mulai berpikir untuk kembali berhenti. Setelah berbulan lamanya mengajar, lagi-lagi Jazzy tak berpenghasilan.
Lama Jazzy hidup seperti itu. Ia tak bekerja, tak berpengasilan, hidup dari warisan orang tua yang jika dibelikan seratus rumah di daerah paling mahal di Jakarta sekalipun tak akan habis tandas. Hari-harinya dihabiskan dengan mendengarkan jazz, jalan-jalan, kumpul bersama teman-teman saat weekend, atau minum cognag sebagai pelengkap malam.
Hingga suatu malam, ketika aku sedang ingin menyeruput kopi di kedai N.D., kulihat seorang gadis dengan rambut ekor-kuda berkaos Bali gombrang duduk di pojokan. Berdua ia dengan laptopnya.
“Jazzy?!”
“Ya? Hei… Ya ampun…” ia nampak kaget.
“Kemana aja…” kami saling menyentuhkan kedua pipi.
“Ada kok…” ia tersenyum hangat.
“Tampak sibuk nih?”
“Ah enggak. Iseng aja, lagi nyoba hotspot di sini.”
“Sendiri?”
“He-eh. Kamu ada janji dengan seseorang?”
“Enggak.”
“Ya udah duduk di sini aja, Ra.”
“Oke.” aku duduk di tentangnya.
“Pesen sesuatu ya?”
Dan aku memesan cappucino.
“Masih seorang cappucino sejati tampaknya?”
“Untuk satu hal itu, tak bergeser sedikit pun.”
“Masih mencintai dia kayaknya, eh?” ia tersenyum menggoda. “Sudahlah, Ra… Dia sudah menikah…”
“Hei… ini hanya sebuah cappucino.” tangkisku masygul.
“Ada banyak kopi di sini, Ra. Café latte, espresso, russian coffe, irish coffe, macchianto, bahkan kopi tubruk, kopi jadoel. Tapi di kedai kopi manapun dari dulu pesananmu tetap sama: cappucino. Sudahlah, Ra, jangan mengelak. Siapa tak kenal kau dengan cap-pu-ci-no-mu itu.”
“Apaan sih.”
“Seperti Harley Davidson and Marlboro Man. Kau dengan cappucino. Aha!”
“Seperti Jazzy dan jazz! Ah, ada-ada aja kamu. Dia sudah bahagia dengan istrinya, Jazzy…”
“Dan kau masih tetap mencintainya… Gila! Sepuluh tahun, Ara, sepuluh tahun! Dan kau masih tetap mencintai lelaki yang sama. Masih tetep memesan jenis kopi yang sama. Dahsyat!”
“Bukankah mencintai berarti membebaskan, eh? Ah, udah ah. Ngomong apa sih!”
“Hahaha! Masih sibuk nulis, Ra? Sudah menikah kamu?”
“Ai, tak terpikirkan. Ada pertanyaan yang lebih bervitamin barangkali? Bagaimana dengan kamu sendiri?” aku mengalihkan pembicaraan.
Maka Jazzy pun bercerita. Bercerita tentang perjalanan hidupnya. Dari ujung ke pangkal. Dari hulu ke hilir. Aku hanya mendengarkan. TV screen di dinding menayangkan Discovery Channel. Sementara dari speaker berdentang-dentang tembang lawas Cassiopeia. Dan Jazzy masih terus bercerita.
“Tulis ceritaku ini, Ra.” akhirnya.
“Maksudmu?”
“Tulis saja sesuka hatimu. Kamu kan biasanya suka menulis tentang kisah-kisah orang. Mau kamu buat apa terserah. Barangkali hidupku biasa saja. Tapi paling tidak aku ingin ada pelajaran yang bisa dipetik dari ceritaku tadi. Bahkan walau oleh satu orang sekalipun.”
Aku masih termenung-menung. Apanya yang menarik, pikirku. Tapi kucoba merunut kembali pada semua yang telah ia ceritakan tadi. Uh, betapa ungkapan tak ada hidup yang sempurna barangkali memang klise, tapi begitulah adanya. Bahwa apa yang kita pandang indah, hebat, besar, tak luput menyimpan sisi kebalikannya.
“Apa kamu nggak keberatan, Jazzy?”
“Tidak samasekali.”
Tiba-tiba di kepalaku muncul tiga kata secara berurutan: Jesse “Jazz” Jessica. Namun aku masih belum lagi tau musti menulis apa. Barangkali suatu hari nanti. Sayup-sayup terdengar suara Ari Lasso mendendangkan tembang Badai Pasti Berlalu.
Ya, jangan menyerah, Jazzy. Hidup memang seperti musik jazz. Semua boleh asyik sendiri-sendiri, namun tetap padu dalam kesatuan yang harmonis. Begitu kamu pernah berkata, kan… Kenapa kamu tidak fokus pada yang asyik itu saja. Apa pun alat musik yang kau mainkan, peranmu akan muncul tanpa kau minta.
Dan suara Norah Jones yang dahsyat itu pun mengalun lembut ditingkahi denting piano yang, sumpah mati, menghanyutkan…
—————————————————————
Nah, begitulah Daniel. Semoga ceritaku tentang kawanku Jazzy ini ada manfaatnya. Aku masih belum tau mau kubuat cerpen atau novel. Nggak tau nanti ajalah. Bingung.
Yo wis. Segini dulu ya email-ku. Ngantuk euy. Hehe.
Salam kompak aja deh,
Ara.
Feb ’07.



di suatu subuh, masuk sebuah sms
“suka musik jazz?”
entah d….apa karna nama yang sama dengan tokoh cerita ini….yang membuatku suka dengan cerita ini…