Archive for February, 2007

Lajang Nan Tak Parasit*

Dea 31 tahun, manis, lajang, punya seabrek kegiatan.

Setelah lulus kuliah, ia berkomitmen tak ingin kerja kantoran. Bekerja bisa di mana saja, katanya suatu hari.

“Tak terbayang seorang aktris seperti Christine Hakim, atau gitaris Piyu Padi, atau novelis Remy Sylado akan berkata ‘saya ingin berangkat kerja’. Mereka tidak akan berkata seperti itu. Mereka berangkat untuk berkarya. Seandainya orang yang kerja kantoran bisa bersikap seperti itu, tentu mereka akan bangun pagi dengan perasaan cinta dan berangkat ke kantor penuh semangat membabi buta.” argumen Dea suatu hari.

Continue Reading »

“Ya gitu deh…”

(Atawa The Sound of Music)

 

Ketika masa kanak, ada sebuah film yang begitu membuatku terhenyak dan memesona hingga menitikkan air mata saat menontonya. Nyatanya, ketika usia makin bertambah dewasa, juga setelah menyaksikan ribuan judul film lain, film itu tetap bersemayam dan tak pernah hilang dari palung pikiran. Puluhan kali menyaksikan film itu, puluhan kali pula aku menitikkan air mata. 

Film itu hanyalah sebuah film tua dengan ide sederhana namun memiliki filosofi dahsyat di balik jalan ceritanya. Atau barangkali karena kali pertama menyaksikan film itu di masa kanak, hingga seiring bertambahnya usia, film tersebut begitu masuk ke alam bawah sadar. Ya, apa yang terjadi di masa kanak memang mencerap memory begitu banyak kejadian dan peristiwa hingga kadang tak pelak mempengaruhi perjalanan seseorang ketika beranjak dewasa.

Continue Reading »

Pulang

theme_buddha.jpg

Petualang mana yang tak rindu pulang? Induk lebah mana yang tak kembali ke sarang? Mereka mendifinisikan rumah dalam ragam pemaknaan yang berlipat macam. Karena di sanalah sesungguhnya cinta bersemayam. Kasih tak berkesudahan yang menjelma dalam ragam pengejawantahan.

 

Bukankah para avatar telah mengajarkan kita arti dari dialektika hidup di dunia. Kita tau betul arti merindu ketika pernah pergi melangkah. Kita memahami arti dari memiliki ketika pernah merasa kehilangan. Kita begitu menghargai sehat ketika pernah merasakan sakit.

 

Bukankah semesta tercipta dari ketiadaan. Begitu pun masa dianggap ada ketika kita tau ada yang tak bermasa.

 

Terkadang kita kerap tersedu ketika terantuk batu di jalan yang berdebu. Namun bukankah kita bisa belajar arti kesetiaan dari sejumput pengkhianatan. Kita pun dapat belajar berbuat benar dari sederet kesalahan. Karena setiap jengkal yang terjadi pada apa yang dapat disebut hidup selalu mengajarkan secupuk makna yang mendalam.

 

Entah apa pun sebutanmu. Entah itu Allah, Bapa, Brahman, Buddha, Widhi, Tao, Yehovah, Satnaam, atau Ahura-Mazda, pulang adalah satu-satunya cara kita memandang hidup dalam alam kesadaran. Bukankah ia yang tak sadar sesungguhnya masih tersesat dan belum lagi tau jalan pulang?

 

Dari tanah kembali ke tanah. Setiap bilangan selalu berpulang pada nol. Karena kosong adalah kesempurnaan. Di sanalah pucuk ekstasi dari meditasi hidup kita yang terdalam. Dalam alam keheningan kita tau: hidup ini tak lebih dari sebatas pengelanaan untuk kembali mencari jalan pulang.

 

8 Februari 2007 | 03.36 wib

Serendipity Or Kekuatan Pikiran 2

Tapa brata dan ilmu pengetahuan tidak dapat membebaskan dirimu dari keterikatan pada dunia benda. Terbebaskan dari keinginan, kau akan bebas pula dari ikatan dengan dunia benda (Siddhartha Gautama)

Anda pasti pernah mendapat SMS dari seorang kawan yang menanyakan kabar Anda. Sudah pasti pernah. Tidak mungkin tidak, kalau Anda punya handphone.

 

Tapi pernahkah Anda mendapat bertubi SMS pada satu hari yang sama (sekali lagi: pada satu hari yang sama) dan mananyakan kabar Anda? Aku baru saja mengalaminya. Hari dan tanggalnya tak perlu kusebutkan. Tapi yang pasti baru-baru saja.

Continue Reading »

« Previous Page