putraj1_.jpg

Cintaku kepada-Mu memabukkanku

Dan membuatku menari-nari

Aku mabuk dan dalam ekstase

(Jalal al-Din Rumi)

Dalam sebuah perjalanan ketika matahari betul-betul telah pamit pergi, aku mampir ke mesjid kecil untuk sholat Maghrib di sebuah kampung yang tak ramai. Ketika tiba di sana, sholat berjama’ah telah lama usai. Orang-orang yang masih tersisa di dalam mesjid pun tampak sudah santai. Aku pun cepat-cepat berwudhu mengejar kesempatan waktu Maghrib yang sudah tak seberapa.

Begitu selesai sholat, baru kuperhatikan orang-orang yang ada di dalam mesjid ini. Ada yang sedang membaca Qur’an, ada yang sedang berzikir, ada yang berbincang, ada yang duduk diam bertafakur, ada pula yang tertidur pulas. Mungkin mereka sedang menunggu waktu Isya tiba, pikirku.

Setelah kuperhatikan, baru aku menyadari: semua yang ada di dalam mesjid ini masuk dalam golongan senja yang usianya kutaksir tak ada yang di bawah 60 tahun. Awalnya aku tak begitu memperhatikan. Namun belakangan baru kusadari usia mereka.

Tiba-tiba tanpa sadar aku jadi tersenyum geli sendiri: kenapa mesjid yang kebetulan berada di pinggir kampung yang tak ramai ini berisi orang-orang tua semata? Kemana anak-anak muda kampungnya? Ah, mungkin anak muda kampung sini baru saja pulang kerja, jadi masih letih untuk pergi ke mesjid dan sholat berjama’ah, batinku.

Aku pun menyadari: aku sendiri paling jarang sholat berjama’ah di mesjid sekitar rumahku. Bisa dipastikan jika waktu Maghrib dan Isya tiba, aku masih berada jauh dari rumah. Sehingga tak mungkin boro-boro sholat Maghrib berjama’ah di mesjid komplek, ketemu tetangga pun paling banter pagi hari yang itu pun saat berangkat kerja sekadar menganggukkan kepala kalau kebetulan bertemu pak Anu atau bu Anu, atau satpam, atau tukang sampah, atau tukang gas keliling.

Akhirnya aku pun sekalian menyambung sholat Isya berjama’ah di mesjid kampung yang tak ramai itu. Dan betul saja, hanya orang-orang berusia senja belaka yang berdiri sejak shaf pertama dan kedua. Olala, apakah kini mesjid hanya berisi orang-orang tua belaka? Husy! Betapa jelek pikiranku. Barangkali kebetulan saja ini terjadi di mesjid kampung ini.

Aku jadi teringat dengan salah sebuah khotbah Jum’at ketika sang khotib mengatakan: salah satu tanda-tanda akhir jaman adalah sepinya mesjid-mesjid untuk sholat berjama’ah, namun orang terus bermegah-megah dalam membangun mesjid.

Akhirnya, dari pengalaman di mesjid kecil itu, aku jadi punya keinginan untuk melakukan perjalanan ke berbagai mesjid di kota ini.

Pada suatu siang kembali aku mampir di sebuah mesjid. Kali ini mesjid besar. Mesjid W. Bangunannya bagus, tempat parkir kendaraannya rapi, tempat wudhunya bersih, dan suasana dalam mesjid sejuk menenangkan.

Lagi-lagi aku tak kebagian sholat Dzuhur berjama’ah dan musti sholat sendirian di mesjid besar ini. Tapi ketika hendak mencari tempat untuk sholat di bagian yang sedikit tersembunyi (kebiasaan jelek yang tak patut untuk ditiru!), aku malah kesulitan mencari tempat. Lho, kenapa? Bukankah mesjid ini besar? Ya, tapi hampir seluruh pojok lantai mesjid diisi orang-orang yang bergelimpangan tidur siang. Olala! Betapa nyamannya. Betapa pulasnya tidur mereka. Apalagi ditingkahi suara dengkuran yang terdengar berkesiur tipis, menambah lengkap tidur mereka.

Tapi siapakah mereka? Dari yang kuperhatikan, mayoritas dari mereka berseragam pegawai, ada yang berpakaian kerja, bahkan beberapa ada yang menutupi tubuhnya dengan sarung serta meringkuk di dalamnya. Kalau sekadar menilik dari pakaiannya, bolehlah secara sambil lalu menyimpulkan: mereka bukan pengangguran yang tak punya kerja. Tapi kenapa bisa begitu pulas tidur di siang hari begini?

Aku jadi teringat pada sebuah buku. Disebutkan: salah satu tanda-tanda akhir jaman adalah dijadikannya mesjid sebagai tempat menyelesaikan urusan duniawi semata. Akhirnya, begitu selesai sholat, aku pun ikut mencoba merebahkan tubuhku di lantai kayu yang terasa adem itu. Hasilnya: memang nyaman ternyata! Dan jangan salahkan aku kalau pada akhirnya aku pun ikut latah terlelap sejenak di sana…

Begitulah. Kegemaranku mampir ke berbagai mesjid makin menjadi-jadi. Ada mesjid yang jama’ah sholat Isya-nya hanya lima orang. Ada mu’adzin yang sholat sendirian. Ada mesjid yang penuh kegiatan, seperti majelis ta’lim, pengajian anak-anak, hingga yang dilengkapi kafe ringan. Ada mesjid yang dipenuhi mahasiswa, namun ada juga mesjid yang sepi sama sekali. Tapi dari setiap mesjid, mushola, langgar atau surau, aku dapat mengambil banyak pengalaman serta cerita dari sana. Catatan harianku makin penuh saja dengan kisah-kisah unik yang kutemui di setiap mesjid di kota ini.

Memang, tak semua bisa kuceritakan. Karena tentu beberapa pengalaman ada yang bersifat sangat pribadi. Yang kalau diceritakan pun tak semua orang berani memercayainya. Tapi semua tetap kutulis dan kusimpan, karena kelak siapa tau bisa menjadi bahan cerita karena ada beberapa segi yang bisa diambil hikmahnya.

Terkadang di mesjid luas namun tak begitu ramai, aku selalu mencari tempat di pojokan yang sedikit tersembunyi. Karena di sana aku bisa dengan santai dan bebas mengeluarkan laptop dan mengetik dengan tenang sepuasnya. Tak pernah ada petugas mesjid yang menegurku meski aku menggunakan aliran listrik mesjid tersebut (bagaimana pun ini termasuk korupsi dalam skala kecil, karena menggunakan sesuatu yang bukan haknya).

Aku jadi teringat dengan Bandung SuperMall di Bandung, yang jika ketahuan menggunakan listrik di foodcourt-nya untuk keperluan hotspot, petugas keamanan akan datang menghampiri dan dengan santun menegur agar tak menggunakan aliran listrik di mall tersebut. Padahal, berapalah penggunaan aliran listrik untuk beberapa jam pemakian laptop. Yang seperti itu tak pernah kutemui di tempat lain yang menyediakan hotspot. Meski demikian aku tak pernah kapok untuk kembali mencolokkan kabel listrik jika petugas yang penuh dedikasi pada perusahaan itu telah pergi menjauh.

Nah, di lain siang, kembali aku mampir di sebuah mesjid maha besar di kota ini. Mesjid A. Bangunan serta halamannya luas tiada tara. Kamar mandinya bersih, tempat wudhunya rapi, lantai mesjidnya sejuk dan kubahnya selangit. Lagi-lagi aku ketinggalan sholat Dzuhur berjama’ah. Untungnya hanya ketinggalan satu raka’at.

Seusai sholat baru kuperhatikan arsitektur serta interior mesjid ini. Baru kusadari, di setiap pilar mesjid ini terpampang tulisan yang berisi anjuran untuk tidak tidur di dalam mesjid. Nyatanya tak sedikit yang mengambil posisi menggelosor dan tidur dengan nyaman serta pulasnya.

Aku pun beranjak keluar mesjid, bermaksud duduk-duduk sejenak di taman mesjid maha luas ini. Saking luas dan besarnya mesjid ini, tak pelak membutuhkan waktu beberapa menit untuk berjalan dari tempatku sholat di shaf kedua hingga ke luar taman.

Yang menarik dari mesjid ini, di bagian koridor luar aku terhenyak mendapati keramaian layaknya pasar (waktu datang aku masuk dari pintu samping, sehingga belum melihat bagian depannya). Di sana kulihat ada yang jualan buku, ada yang jualan kaset/CD agama, ada yang jualan peci, ada yang jualan parfum, ada yang jualan nasi, ada yang menawarkan jasa pijat refleksi, ada yang jualan air mineral sampai jualan koran. Ramai sekali.

Aku jadi teringat pada salah sebuah hadits nabi yang menganjurkan untuk tidak melakukan perniagaan di mesjid (saat menuliskan kisah ini, aku lupa hadits tersebut diriwayatkan oleh siapa serta tingkat keshahihannya. Kucari di Bulughul Maram, tak ketemu babnya karena betul-betul lupa. Maafkan kalau sekiranya salah. Beribu terima kasih jika ada yang berniat membantu membetulkan).

Jama’ah usai sholat yang menyemut meramaikan koridor pun ada yang duduk bergerombol, ada yang berpasangan, ada yang mengobrol ini-itu, ada yang dengan lahap makan siang, ada yang asyik berSMSan, ada yang baca koran, serta tentu ada yang mengambil tempat di bagian pojok koridor dan melamun sendirian di sana. Siapa lagi kalau bukan aku!

Tapi yang menyenangkan, di koridor mesjid yang menghadap taman ini aku bisa merokok sepuasnya. Sesuatu yang jarang dapat kulakukan di banyak mesjid selama ini. Ini pun kulakukan karena kulihat tak sedikit orang yang mengepulkan asap.

Dari duduk-duduk melamun di koridor mesjid, sudah berbagai orang duduk di sebelahku. Dari penjual air mineral, penjual koran, seorang muslim warga negara Australia sampai seorang pria berumur 78 tahun.

Ia berkulit hitam terbakar matahari. Hidungnya mancung dengan bintik-bintik hitam menghiasi wajahnya. Pakaiannya lusuh dengan kepala berkupluk coklat. Kumis dan jenggot putihnya tak terawat di sana-sini. Tubuhnya kurus seolah jarang makan. Awalnya aku mengira ia sekadar seorang tua yang kerap berdiam duduk-duduk di sekitar mesjid dengan pekerjaan tak menentu. Tapi tiba-tiba ia menyapa muslim Australia di sebelahku dengan bahasa Inggris yang fasih dan lancar. Aku terbelalak!

Nyatanya pak tua 78 tahun itu malah berbincang asyik dengan si muslim Australia. Bahasa Inggrisnya patut dan artikulasinya jelas. Tak berapa lama si Australia pun pamit pergi. Ternyata pak tua 78 tahun itu seorang penjual buku keliling.

Ganti aku yang diajak berbincang olehnya. Sebagai penguat obrolannya yang isinya melulu tentang hukum Islam, nyaris yang semua ia dagangkan ditunjukkannya padaku. Ia buka halaman tertentu. Aku jadi makin ternganga. Nyatanya ia tak sekadar penjual buku biasa. Ia tunjukkan fiqih-fiqih Islam, rahasia-rahasia sholat, legenda Nabi Khidir, munculnya Dajjal, turunnya Nabi Isa, Imam Mahdi, dan dunia Jin. Selain fasih, cara bicaranya cermat sekaligus bersahabat.

Harus kuakui aku malu bukan main saat itu. Aku sudah menilai seseorang dari luarnya. Nyatanya di balik penampilannya yang (bisa dikatakan) tak terurus, ia seorang dengan pribadi menyenangkan, santun juga berisi. Ya, tak selamanya apa yang kita lihat mencerminkan isinya. Barangkali aku salah. Tapi yang pasti saat itu aku malu bukan alang kepalang. Nyatanya aku begitu menikmati berbincang panjang dengan pak tua 78 tahun ini.

Matahari mulai landai. Hari semakin sore. Aku tak punya sesuatu untuk kutawarkan. Tapi teringat dengan bekal makan siangku, kukeluarkan sekerat roti dari ranselku. Ia tersenyum santun menolak, yang kemudian mengeluarkan sepotong semangka dari dalam tasnya. Rupanya ia pun berbekal. Akhirnya hanya rokok yang dapat kusorongkan. Ia pun mengambil sebatang. Dan kami mengepul bersama.

“Siapa nama Adik?” tanyanya.

Aku pun menyebutkan namaku.

“Saya Haji Mansyur.” sebutnya lagi tanpa kutanya. “Adik asal dari mana?”

Dan kusebutkan asalku.

“Ow, saya pernah ke sana.”

“Oya?”

“Hampir seluruh kota besar di Indonesia pernah saya kunjungi, Dik.” akunya.

Aku jadi semakin tertarik dengan pak tua ini.

“Jauh sekali asal Adik…”

“Saya memang sedang melakukan perjalanan, Pak.”

“Tapi sejak tadi melamun saja…”

“Sedang menikmati taman mesjid ini kok Pak.”

“Kalau sholat fardhu jangan menangis, Dik. Kalau sholat tahajjud boleh.” ujarnya sembari menunjukkan buku tentang rahasia-rahasia sholat tahajjud.

“Lho, kenapa tiba-tiba Bapak bilang begitu? Bapak tadi sholat dekat saya?” tanyaku kaget.

Ia hanya tersenyum.

“Tapi kan tidak diniatkan untuk menangis, Pak.” lanjutku lagi. “Kalau saat sholat menangis begitu saja kan nggak pa-pa.” ujarku malu mengakui.

Lagi-lagi ia tersenyum. “Ya sesekali tak apalah…”

“Tapi tidak sesekali, Pak. Hampir setiap sholat.”

“Setiap sholat?!”

Aku hanya mengangguk malu. Tiba-tiba ia merangkul pundakku. “Sudah dekat, Dik… Sudah dekat.” tukasnya tersenyum.

“Maksud Bapak?”

“Ah, sudah adzan Ashar, Dik. Mari.” ujarnya tersenyum tak menjawab sembari berdiri bergegas membereskan dagangannya. Aku mengambil sebuah buku tipis tentang Asma-Ulhusna. Ia menyebutkan harga yang setara dengan 5.000 perak.

“Itu untuk Adik. Tak perlu membayar.”

“Lho, tidak bisa begitu, Pak. Bapak kan dagang.”

“Anggap saja sebagai kenang-kenangan perkenalan kita hari ini.” jawabnya tetap tersenyum dan terus berjalan pergi. Lagi-lagi aku hanya ternganga melihat ia berlalu meninggalkanku menuju tempat wudhu.

Setelah sholat Ashar berjama’ah, sekitar pukul 16.30 waktu setempat aku pun mulai beringsut meningalkan mesjid. Di koridor taman kucari lagi pak tua 78 tahun yang memberiku buku tadi. Ternyata ia sudah tak ada di sana. Kucari-cari di sepanjang koridor, tak juga kutemui dia. Padahal aku sekadar hendak berpamitan karena entah kapan lagi aku akan berkunjung kemari. Tapi ternyata ia sudah tak ada. Entah sudah pergi ke mana dia.

Akhirnya aku melangkah keluar halaman mesjid. Untuk kembali mencari mesjid lain lagi di kota ini untuk sholat Maghrib berjama’ah.

Ah, pak tua itu…

Semoga kutemui Haji Mansyur-Haji Mansyur lainnya di mesjid lain.

Dan aku terus menelusuri setiap pojok kota ini untuk terus berburu mesjid.

KL, 14 Maret 2007, 03.19 am.