dm-01.jpg

Pernahkah menginginkan sakit? Duh! Pertanyaan yang aneh! Tapi hal ini memang baru saja kualami. Di bulan Maret 2007 ini tiba-tiba aku merasa ingin sekali jatuh sakit. Betapa rindu aku pada sakit. Karena sakit, selain sebagai sarana penghapus dosa, dengan sakit aku betul-betul ingin merasakan istirahat di tempat tidur sepanjang hari selama mungkin. Itulah alasan terbesarku kenapa tiba-tiba ingin merasa sakit.

Lama sekali aku tak sakit. Entah kapan terakhir aku sakit. Tak ingat. Tapi rasanya betul ingin istirahat total di tempat tidur tanpa memikirkan banyak hal. Istirahat yang absolut. Rasanya kita egois sekali kalau melulu mengharapkan sehat. Semua orang pasti ingin selalu sehat. Sepanjang waktu kalau memungkinkan. Nah, tak ada salahnya kan kalau kita mengurangi sedikit kadar ego kita dengan mengharapkan jatuh sakit. Itulah kenapa, ketika Rabu malam (21/03) aku mulai merasakan gejala demam, rasanya bukan main girangnya. Itu menandakan besoknya pasti aku sakit. Betapa senangnya…

Kamis pagi (22/03) badanku kurasakan mulai tak seimbang. Olala! Apa yang kubayangkan benar jadi kenyataan. Aku mulai merasakan sakit sungguhan. Aku berpikir sebaiknya aku di rumah saja. Dan benar saja, seharian itu aku memang terpaksa musti “di rumah” saja. Tak bisa kemana-mana namun tak bisa istirahat samasekali. (huh!)

Karena sejak pagi hingga malam berbondong-bondong datang “tamu” yang mau tidak mau musti ditemui. Tidak bisa tidak. Mereka terdiri dari: Detikcom, Trans TV, Pikiran Rakyat, Sindo, Lativi, Anteve, Kompas, Tribun Jabar, Trans 7, Metro TV, Indosiar, Radar Bandung, Tempo, RCTI, TPI, Elshinta, Galamedia, Nova, dan Nyata. Satu media lagi tak sempat kucatat karena kehirukpikukan suasana rumah oleh wartawan. Kuperkirakan SCTV karena di antara TV nasional hanya SCTV dan Global TV yang tak ada (kalau TV lokal Bandung jangan diandai-andai dulu deh).

Bisa dibayangkan dalam kondisi tubuh yang nyaris “sempurna” telernya itu musti menghadapi puluhan wartawan yang berdatangan tanpa henti dari pagi hingga malam. Makin lengkap saja kondisiku.

Sore hari jalanku mulai tertatih-tatih. Malam hari aku betul-betul ambruk seambruk-ambruknya di tempat tidur. Untuk makan saja sudah tak kuat rasanya. Sholat Maghrib pun musti dilakukan dalam keadaan terbaring di ranjang meski masih bisa menghadap kiblat. Namun tubuh sudah terkapar seterkapar-terkaparnya (istilah apa ini!). Puluhan SMS serta telpon terpaksa tak mampu lagi ditanggapi.

Yang lebih parah, setiap setengah jam sekali selalu terbangun, lantas tidur lagi. Terbangun-tidur lagi. Terus seperti itu. Entah kenapa. Setiap terbangun selalu menatap jam. Dan rasanya jam berjalan begitu lambat. Kalau dalam keadaan normal atau sehat, setiap terbangun, pasti jam sudah menunjukkan pagi hari. Tapi saat itu jam bergerak seperti keong. Dari jam 19 ke jam 24 saja rasanya berjalan bertahun-tahun lamanya. Apalagi menuju subuh, walah, berabad-abad selaksa.

Betapa tersiksanya musti terbangun setiap setengah jam sekali. Rupanya itu gara-gara temperatur badanku mulai memanas. Kepalaku seperti diganduli batu sebesar gunung, dan badanku mulai menggigil. Pada bangun jam 02.30, kupaksakan tertatih-tatih ke kamar mandi karena teringat belum sholat Isya. Kupaksakan wudhu. Kali ini kucoba sholat sambil berdiri. Dan empat raka’at Isya seperti 40 tahun saja rasanya. Karena bacaan sholat seolah dieja. Apalagi kalau bukan karena berlomba dengan kejaran nafas yang mulai tak beraturan. Sementara di raka’at kedua tahajjud kepalaku mulai berputar, kakiku mulai tak kuat menyangga tubuh, aku pun ambruk.

Total hingga Minggu (25/03) aku terbaring di ranjang. Nikmat? Nikmat sekali. Sakit? Sangat sakit. Karena seluruh persendian dari kepala hingga kaki terasa linu dan nyeri. Badan panas, pusing, pilek, batuk, dan menggigil.

Maka berhati-hatilah mengharapkan sesuatu atas diri. Karena hal itu sungguh dapat terjadi sungguhan. Zzzzz……

Bdg, 25 Maret 2007.