Di suatu sore yang teduh, seseorang mengirimkan SMS padaku. Begini isi SMS itu: Aslmkm. Mas Daniel maaf sy mo tny, makam’y Pramoedya dmn ya? Sy br dr mkm TAS.

Sebetulnya aku tak begitu suka menerima SMS dengan penggunaan kata seperti itu. Tapi aku berusaha paham maksudnnya. SMS itu tentu saja kubalas dengan menyebutkan letak makam sastrawan Pramoedya Ananta Toer di Karet-Bivak, Jakarta. Hanya saja yang menarik, di SMS itu ia menyebutkan bahwa ia sedang berada di makam TAS. Siapakah TAS?

T.A.S. tentu saja tak lain dari Raden Mas Tirtoadhisoerjo. Seseorang yang hidup sezaman dengan Raden Ajeng Kartini. Th. Sumartana menuturkan dalam Seribu Tahun Nusantara, bahwa antara T.A.S dan R.A. Kartini memiliki kesamaan antara keduanya, khususnya bahwa mereka berdua bukan orang sembarang. Kematian mereka sama-sama memilukan, seolah habis tenaga ketika bergulat melawan pelintiran dan putaran sejarah yang dahsyat di pergantian abad lalu.

T.A.S., suka tidak suka, adalah salah seorang yang turut mengukir sejarah Indonesia. Ialah boemipoetra pertama yang menerbitkan koran berbahasa Melayu dengan Medan Prijaji-nya (1907-1912). Sebagai jurnalis, T.A.S. melempengkan jalan bagi rakyat untuk memahami hak-hak dan martabat mereka. Ini tergambar dari kegiatannya yang luar biasa, baik dalam mengelola persuratkabaran maupun dalam tulis-menulis. Ada sekitar 14 terbitan yang ia kelola, pimpin, atau sebagai penulis tetap. Ialah redaktur kepala pertama bagi sejarah orang pribumi di Hindia Belanda.T.A.S. disebut selaku nominal founder dari Sarekat Islam yang berawal dari Sarekat Dagang Islam. Ia pendiri Sarekat Dagang Islamiyah di Batavia pada 1909 dan Sarekat Dagang Islam di Bogor pada 1911. Korannya Medan Prijaji sendiri banyak mengemukakan keluhan-keluhan rakyat kecil terhadap perlakuan kalangan priyayi tinggi dan para pegawai pemerintah Kolonial Belanda.Sebagai jurnalis, penulis, maupun movement organizer, peran T.A.S. di mata pemerintahan kolonial Hindia Belanda memang bukan tak dikhawatirkan. Korannya menjadi corong dalam menyuarakan ketidakadilan, tulisannya tajam menusuk penuh kritik, sementara organisasi yang dipimpinnya membludak secara massal dengan ribuan anggota di seluruh Hindia Belanda. Maka tak perlu pikir panjang: ia pun dibuang pemerintah dari Pulau Jawa dan sejarah tentangnya dihapus secara sistematis.Sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda, masa kemerdekaan, Orde Lama, juga Orde Baru, tak banyak orang tau siapa T.A.S. Tak aneh. Perannya memang sengaja ditenggelamkan. Kalau bukan karena Pramoedya Ananta Toer yang dengan jeli menyibak peran serta hidup T.A.S. secara individu dari debu sejarah kelam masa lalu, entah kapan kita pernah mengenal serta mempelajari liku peran sejarah nasion Indonesia di awal pergerakan nasional.Pram dengan lihai menghidupkan T.A.S. ke dalam tokoh Minke dalam Tetralogi Buru-nya (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca). Mudah untuk diikuti bahwa tokoh Minke dalam roman yang telah diterjemahkan lebih dari 40 bahasa di dunia itu tak lain merupakan alter ego dari T.A.S. itu sendiri. Dengan bahasa serta bentuk rawian novel, Pramoedya mencoba mengangkat serta memperkenalkan para individu pemula di awal pergerakan Indonesia pada anak bangsa.

Seseorang yang tadi mengirimkan SMS itu awalnya adalah seseorang yang sama sekali tak kukenal. Di sekitar tahun 2003 atau 2004 ia masih lagi seorang mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia di Bandung. Ia melayangkan sebuah e-mail dengan maksud meminta izin dariku untuk menjadikan salah sebuah bukuku sebagai bahan penelitian pada mata kuliah di kampusnya. Pada akhirnya, beberapa tahun kemudian dengan tanpa sengaja ia datang ke Malka, toko buku yang kukelola.

Awalnya ia cukup aktif mengikuti setiap dari kegiatan yang diselenggarakan di Malka. Namun lama-kelamaan dan dengan sadar ia menjelma menjadi pengunyah buku yang lahap. Ia mulai kupinjami buku-buku semacam Bumi Manusia yang lantas begitu jatuh cinta pada tokoh Nyai Ontosoroh. Maka tak aneh bila dalam beberapa bulan berikutnya ia makin rakus akan karya-karya Pramoedya. Berawal dari mahasiswi yang tak pernah mengenal nama Pramoedya Ananta Toer sama sekali, menjelma menjadi seorang perempuan yang ganas terhadap buku.

Setelah lulus kuliah, ia sempat mengajar di sebuah SMP di Soreang Kabupaten Bandung. Tak lama berselang ia pun hijrah dan mengajar di sebuah SMP di Jakarta. Hingga datanglah SMS yang kumaksud tadi.

Masih lewat SMS, sempat kutanyakan bagaimana ceritanya sehingga ia ada di makam T.A.S? Jawabnya ternyata: di depan kelas, ia banyak menceritakan novel-novel Pramoedya. Menurutnya, banyak dari murid-muridnya yang tertarik serta antusias pada jalan cerita Tetralogi Buru, terutama Bumi Manusia. Hingga ia memutuskan mengajak murid-muridnya itu ke makam “Minke”. Yang lebih dahsyat lagi, setelah dari makam T.A.S., ia memboyong anak-anak SMP itu ke rumah kediaman anak T.A.S.

Yang seperti itu kukira tak pernah terjadi di zaman sekolah dengan kurikulum Orde Baru. Bahkan Orde Lama. Orang nyaris tak pernah tau siapa T.A.S. Orang nyaris tak begitu peduli bahwa T.A.S. adalah tokoh organisasi serta tokoh pers yang dengan berani mendobrak tatatan sistem pemerintah kolonial Hindia Belanda pada saat itu. Hingga keberadaan T.A.S. baru diakui sebagai pahlawan oleh pemerintah Republik Indonesia pada masa Presiden SBY tahun 2006 lalu.

Ada rasa haru menjalari hati ketika mendapati kabar seseorang yang dulu ketika masih lagi mahasiswa begitu haus akan buku-buku sastra dan bacaan, kini justru setelah menjadi guru, memboyong anak didiknya untuk melihat langsung keberadaan tokoh yang, mau tak mau, ikut berperan dalam mewujudkan cikal-bakal nasion Indonesia, meski hanya pada sebuah makam.

Dalam beberapa kali balasan SMS, juga setelah kuterangkan letak makam Pram di Pemakaman Karet Bivak Jakarta, ia mengakhiri SMS dengan isi kalimat: Skrng aq lg d rmh ank TAS. Bsk aq & ank2 mo k makam Pramoedya.

Setelah membaca SMS itu, tiba-tiba mataku berkaca-kaca…

Bandung, 1 Agutus 2007, 04.05 pagi.