Semangat Menulis
“Belum. Ini, masih asyik nonton.”
“Wah, King Kong! Seru tuh.” ujarnya malah antusias ikut menonton. Aku tersenyum geli.
Tepat ketika ada adegan ciuman cukup lama (yang jelas tanpa sensor) tiba-tiba ia berkata, “Saya tidur duluan ya.”
Aku jadi keki sendiri, “Oke Pak.”
Dan aku pun tenggelam dalam film hingga kantuk menjemput.
Subuh hari sayup-sayup kudengar suara orang bernyanyi-nyanyi. Kusibak selimut, rupanya pak BT telah lagi rapi jali. Kemeja salurnya telah ia masukan ke dalam celana katun khakinya. Ia sedang bersiap membuka laptop di meja kerja. Bisa kutebak: pasti baru akan menyiapkan materi workshop. Dasar! Tapi teringat aku pun belum lagi menyiapkan materi untuk workshop hari ini, cepat-cepat aku ngeloyor ke kamar mandi.
“Sudah rapi begitu, Pak?” ucapku sembari menggamit handuk, yang dibalas dengan siulan.
Usai mandi, aku pun mengeluarkan laptop, apalagi kalau bukan menyiapkan materi workshop hari ini.
Pak BT kebagian materi Memahami Tujuan Penulisan pada jam 08.00 serta Analisis Siapa Penerbit pada jam 13.00. Sementara aku kebagian materi Memahami Audiens pada jam 10.00 dan Menyiapkan Naskah Laik Terbit pada jam 15.30.
Setelah sarapan, kami pun meluncur ke Pusat Diklat Pegawai Depkominfo di Kelapa Dua. Jakarta pagi hari di saat jam berangkat kerja bukan main macetnya. Namun kurang lebih jam 08 kami sampai setelah putar-putar tanya sana-sini ke berbagai orang di jalanan.
Kami disambut pak Heru, dari Depkominfo. “Santai dulu, Pak.” ujarnya menyilahkan masuk ke ruang tunggu VIP.
Santai? tanyaku dalam hati. Ini kan sudah jam depalan?
“Biasa. Kita santai kok…” terang pak Heru lagi.
Setelah obrolan sekadarnya, kami pun dipersilahkan masuk ruang wordkshop.
Awalnya aku menyangka, peserta workshop ini pegawai Depkominfo. Ternyata peserta workshop memang pegawai Depkominfo, namun rata-rata usia mereka sudah di atas 60 tahun semua. Wow! Workshop apa pula ini, batinku. Semua sudah tua-tua. Tak sedikit yang hampir menjelang masa pensiun.
Maka kalimat pembuka awal dari pak BT adalah: “Bapak-bapak dan Ibu-ibu di sini jauh lebih berpengalaman dibanding saya yang masih berusia tiga puluh lima tahun,” Dan peserta workshop pun tertawa.
Pak BT pun memulai materinya. Setelah coffee break, dilanjutkan olehku. Kalau tadi pak BT membuka kalimat dengan soal usia, apalagi aku?
“Kalau tadi Pak Bambang mengaku lebih muda dari Bapak-bapak dan Ibu-ibu, di sini saya adalah orang yang paling terakhir lahir di ruangan ini. Satu Agustus kemarin usia saya baru tiga puluh dua tahun.” peserta yang rata-rata berambut putih itu ngakak. “Dan saya belum menikah,” sambungku lagi.
“Kami juga…!!!” seru peserta bapak-bapak serempak berkelakar. Dan ngakak mereka terdengar lebih keras lagi.
Aku mengawali materi tidak langsung pada hal-hal yang bersifat teoritis. Aku ingin menggugah hati peserta workshop dulu, demi mengingat usia mereka yang rata-rata sudah senja. Rata-rata mereka berpendidikan S2 dan tak sedikit yang Eselon I.
Jadinya, jamku menjadi jam “curhat”. Banyak dari mereka yang mencurahkan isi hatinya. Keinginan menulis yang terpendam. Atau ada yang dulunya rajin menulis, dimuat di berbagai media, namun begitu menjadi pegawai negeri, terkena sistem, birokrasi, kebiasaan menulis mereka tumpul dan sirna. Demikian pengakuan mereka. Bahkan, beberapa ada yang mantan wartawan di masa mudanya. Di tahun 60an. Tapi lantas menjadi pegawai negeri di tahun-tahun 70an.
Senang sekali mendengarkan orang-orang tua mencurhkan isi hatinya. Apalagi pada bidang yang kugeluti juga. Ada sesuatu yang mendesak di palung terdalam hati dan pikiran mereka, yang ingin mereka keluarkan, namun tak tahu apa medianya. Maka di usai materiku, beberapa dari mereka sengaja mendatangiku, melanjutkan diskusi lebih jauh, sembari membawa beberapa materi yang ingin mereka tulis menjadi buku.
Setelah makan siang dan sholat dzuhur, workshop dilanjut lagi. Kini giliran pak BT lagi.
Lucunya, jam masih menunjukkan pukul 14.15, peserta workshop sudah minta coffee break. Pak BT yang tak melihat jam pun main tutup saja, mengamini permintaan peserta workshop. Aku yang duduk di sampingnya langsung mencegat, “Masih empat puluh lima menit lagi…”
Mengatahui kita tahu bahwa jam workshop belum usai, peserta workshop pun ngakak, karena ketahuan minta coffee break lebih awal. Menggelikan juga kelakuan orang-orang tua ini.
Setelah break Ashar, aku kembali mengisi materi. Kali ini aku langsung pada hal yang teoritis. Aku senang melihat mereka tetap antusias memerhatikan screen di depan di mana aku bercuap-cuap di ujungnya.
Tepat jam 17 workshop kuakhiri. Kami saling bertukar kartu nama dan janji untuk saling berkontak. Orang-orang tua itu tetap saja antusias, semangat dan dinamis. Mereka meng-copy materi-materi yang kami bawa untuk workshop. Mereka masih lagi memerlukan merubung kami di depan.
“Saya punya target, Pak Daniel, tahun depan umur saya enam puluh tahun, saya harus menerbitkan buku.”
“Usia saya tahun depan enam puluh lima tahun, saya malu kalau belum menerbitkan buku, Pak Daniel.”
“Tiga bulan lagi saya pensiun, Mas Daniel, saya ingin menulis buku sebagai bukti.”
Barangkali ini kali pertama aku menjadi pembicara di sebuah workshop yang isinya orang-orang tua belaka. Tapi ada segi menariknya juga. Kalau anak muda semangat, barangkali itu hal biasa. Usia muda ya memang harus semangat. Kalau usia muda tidak semangat, itu baru aneh. Tapi melihat orang-orang tua mengikuti workshop semacam ini dengan tetap semangat serta antusias, memang membahagiakan. Mereka tidak merasa sok tahu, bahkan cenderung banyak bertanya karena memang ingin tahu.
Tak lama, seorang pegawai mendekati kami, mengajak masuk ke ruang VIP, menyodorkan map dan amplop untuk ditandatangani. Kulirik nominalnya, setelah dipotong pajak sana-sini, ahui, 2,5 juta untuk beberapa jam bicara di depan.
Setelah berpamitan, serta dibumbui pertanyaan dari pek Heru, “Kita bikin workshop lagi dong…” kami pun mesam-mesem.
Maka meluncurlah kami ke jalanan Jakarta yang macet menyebalkan. Namun senang karena telah melakukan sesuatu yang berarti dan bermanfaat bagi orang lain. Semoga.
Bandung, 10 Agustus 2007, 04.14 wib


hohohohoh ada yg ulang tahun rupanya ;))
trus … trus… ada yang kasih kado ?… ;;)
anyway, happy b’lated b’day Mas Daniel Mahendra
Hihi..halo mas DM..
Akhirnya ada tulisan yang baru…
Aku kayanya penggemar barunya mas DM deh..lom pernah baca buku2nya sih, baru liat-liat blognya beberapa minggu terakhir ini and langsung suka ma tulisan and cerita2nya…tau gitu kenalan deh pas maen ke rumahnya mas DM, tapi berkali-kali ke rumah mas DM juga ga pernah ketemu…hehehe…bye….looking forward for other stories!