Oleh Nurchasanah

kenapa bukan pasar malam?

Karena hidup tak seperti pasar malam. Pasar malam, kalau kita ke sana, kita biasanya pergi beramai-ramai, mencari hiburan, kesenangan, hal-hal yang menggembirakan dan menyenangkan. Dan ketika pulang, juga beramai-ramai…

Berbeda dengan hidup di dunia. Di dunia, kita datang seorang diri, tidak semata mencari kesenangan. Bahkan terkadang kesedihan, kepedihan, duka nestapa dan kesunyian yang juga kita dapatkan. Ketika pergi, kita juga seorang diri. Jadi, hidup bukanlah pasar malam. Itulah filosofinya…

Kenapa tidak…

Kita kan nggak ingin lewat begitu saja di dunia ini. 50, 100, 200 tahun yang akan datang, siapa kita? Adakah yang mengenal kita? menjadikah sosok yang menyejarah?

Kenapa tidak. Apakah kita hanya mengabdi pada diri kita sendiri selama di dunia, atau mengabdi pada hidup itu sendiri…

Orang tidak mesti setuju, tapi menurutku, kalau bisa jadi pemain, kenapa mesti hanya bisa jadi penonton…Persoalannya bukan soal bisa atau tidak bisa menjadi pemain, tapi lebih dari itu: mau atau tidak mau. Semua orang bisa, tapi tidak semua mau. Sepanjang sejarah dunia, kenapa ada orang-orang seperti Rumi, seperti Kahlil Gibran, seperti Pramoedya…Apakah mereka mengabdi pada diri mereka sendiri?

Tidak sama sekali.

Catatan: Tulisan ini dimuat di sebuah blog (http://nurcha.wordpress.com/tag/filosofi/), awalnya merupakan obrolan sambil lalu saja di YM antara aku dengan si penulis. Dasar si penulis, yang “jail” memuat di blognya ;p -DM.