Suatu hari seorang kawan yang setiap hari selalu online di YM menyapaku dengan pertanyaan: “Kamu ada waktu ke Jakarta?” Kujawab, “Tentu saja ada. Apa dulu urusannya?” Ia kembali bertanya: “Are you happy as single person?” What?! Kesambet apa nih dia, belum-belum sudah menyapa dengan pertanyaan tak biasa seperti ini. Tapi pertanyaannya tetap kujawab: “Very!” Lalu ia melanjutkan lagi: “Mau nggak jadi narasumber buat reel show program TV gue, theme-nya single but happy….” Tentu saja aku ngakak bukan kepalang. Sialan, pikirku!

“Lho kok sialan? Visi kita dari talk show ini adalah inspire people…” Ya tapi kenapa mesti aku, jawabku. “Pokoknya bikin orang bangkit dan begerak dalam kondisi yang terbatas. Apa pun itu. Kita prihatin dengan kondisi masyarakat yang cuman bisa cari kesalahan orang lain, tapi tidak mau instrospeksi diri….” Hmmm, konsepnya menarik juga, pikirku. Boleh juga argumennya. Tapi soal bersedia atau tidak jadi narasumber, itu soal lain lagi. Saat itu yang menarik adalah konsep yang ia sodorkan. Meski sudah lagu lama, tema ini tetap saja asyik untuk diperbincangkan.

Siang itu sesaat setelah chatting dengannya, aku mesti ke luar kantor untuk suatu keperluan. Di kendaraan aku kembali teringat dengan obrolan di YM tadi. Terutama pada pertanyaan: “Are you happy as single person?” Saat ditanya seperti itu, sudah berani kupastikan jawabannya: “Very!” Tapi beberapa hari sebelumnya aku juga teringat dengan obrolan di YM dengan seorang kawan lama yang sudah kukenal sejak 15 tahun lalu, dan kini berkontak kembali.

Dia sudah menikah dan diberi anugerah dua orang anak oleh Tuhan. Dan seperti pada umumnya kawan-kawan lama yang kembali berkontak, pertanyaan yang paling klise adalah: “Kamu sudah menikah, Dan?” Sangat klise bukan? Dan sudah gampang ditebak kelanjutannya: “Nunggu apa lagi sih…” Tapi aku bahagia, jawabku. “Bohong!” balasnya lagi. Bohong? Kenapa aku mesti berbohong kalau aku bahagia dengan statusku? Nyatanya aku bahagia. Dan dia tetap bertahan bahwa aku bohong kalau berkata bahagia dengan status single (aneh juga: seseorang bisa menentukan kebahagiaan orang lain).

Rabu malam 24 Oktober 2007 aku bisa berkata kalau aku sedang dalam keadaan down bukan alang kepalang. Kondisiku melorot pada titik paling rendah dan sangat-sangat kesepian. Dan saat itu aku betul-betul sendirian tanpa siapa-siapa kecuali Tuhan. Namun aku selalu tahu, Tuhan tetap yang paling bisa kumintai perlindungan. Kamis siang 25 Oktober 2007 kondisiku berbalik 180 derajat. Tiba-tiba aku berada di titik semangat paling tinggi. Lagi-lagi Tuhan yang ada di sebelahku. Aku sampai teriak-teriak serta loncat-loncat kegirangan. Tentu tak lupa aku melakukan sujud syukur. Dan esoknya aku bisa memastikan meninggalkan Bandung untuk 3 hari lamanya.

Dengan kata lain, seseorang memang bisa bahagia dalam status apa pun. Mau dia single atau sudah menikah, ia tetap bisa bahagia kalau kebahagiaan itu memang ia ciptakan. Aku pun menyadari, saat seseorang sedang down, paling manjur memang menceritakan keadaan dirinya pada pasangan hidupnya. Bukankah dua kepala lebih baik ketimbang satu kepala? Aku pun setuju dengan rumus: berdua lebih baik ketimbang sendirian. Tapi aku bisa tak setuju kalau kesendirian berarti tidak bahagia. Keduanya bisa berbanding terbalik. Bukankah seseorang dengan status sendirian, pada dasarnya tetap ada Tuhan? Dan dia bisa menceritakan keadaannya itu pada Tuhan.

Setiap ditanya sudah menikah atau belum, kupastikan jawabanku “Alhamdulillah belum…” Dan yang bertanya selalu heran: “Kenapa kok Alhamdulillah?” Beberapa ada yang protes: “Kalau belum jangan pakai Alhamdulillah. Belum menikah kok bersyukur!” Ow, barangkali dia belum tahu: bahwa Tuhan lebih tahu keadaanya umat-Nya ketimbang si umat itu sendiri. Kalau Tuhan belum mempertemukan seseorang dengan pasangan hidupnya, itu karena Tuhan memang sudah memiliki skenario. Dan aku termasuk yang sangat-sangat percaya betul hal itu. Apakah tulisan ini sebuah usaha apologi? Oh, tidak. Ini betul-betul sebuah logika kehidupan manusia.

Tuhan tahu yang terbaik bagi kehidupan seseorang. Kebalikannya: yang terbaik menurut seseorang, belum tentu baik di mata Tuhan. Itu mengapa aku selalu menjawab: “Alhamdulillah, belum menikah” pada setiap pertanyaan ’sudah menikah atau belum’.

Memang kuakui, ada saat-saat di mana kita memerlukan seseorang untuk menceritakan segala mimpi-mimpi kita, kegundahan kita, juga berbagi dalam banyak hal. Kuakui memang segalanya kulakukan sendiri. Dari bangun tidur, sarapan, kerja, pulang, kerja lagi, dan kembali tidur sampai keesokan harinya. Tapi aku selalu hadir dalam setiap inci kehidupanku. Aku selalu semangat menjalani hari-hari. Setiap hari bagiku seperti hari baru. Setiap hari aku menemukan tantangan-tantangan baru. Setiap habis hari selalu kututup dengan senyuman sebelum terlelap, untuk kemudian tak sabar menunggu datangnya hari baru. Dan aku sangat bahagia menjalaninya.

Jadi, mengapa orang mesti tidak bahagia dengan status single? Single tidak single, seseorang mesti bisa menciptakan kebahagiaan bagi dirinya dan bagi orang-orang di sekitarnya. Single tidak single, setiap orang mesti tetap semangat dalam menjalani hari-hari dalam kehidupannya. Untuk bisa menularkan semangat itu pada setiap orang yang ditemuinya. Aku bisa menikah kapan pun aku mau. Hari ini, besok, lusa, tulat, tubin, tahun depan, tak ada soal. Namun satu hal yang kupercaya sungguh: Tuhan tahu yang terbaik bagi kehidupan seseorang.

Tulisan ini sekadar untuk menjawab pada begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan orang atau kawan yang selalu saja bertanya: “Tunggu apa lagi…”

Single tidak single, seseorang mutlak bahagia!

Bandung, Rabu 31 Oktober 2007, 02.46 am.