Awalnya aku tak akan melanjutkan merawi tentang para ilustrator jenaka di kantor kami. Tapi setiap hari selalu saja ada hal baru yang membuatku tertawa terpingkal-pingkal.

Seperti kemarin sore misalnya. Dea si bocah yang jadi koordinator tim ilustrator masuk ke ruang utama tetap dengan tampang jenakanya. Kukatakan: “De, panggil kawan-kawan cowok ya, bawa galon air minum untuk dispenser di ruang sana. Udah dateng tuh pesenan galonnya.”

Siapa nyana dia menjawab, “Biar Dea aja Oom.” (Dea selalu memanggilku dengan sebutan Oom. Dasar bocah!).

“Kamu?! Mana kuat! Bada cungkring gitu!”

“Yah, Oom mah nyepele’in Dea. Lihat nih!” ujarnya sembari mengangkat galon itu ke atas skateboard (untuk pergi ke ruang ilustrator, kadang kawan-kawan di sini menggunakan skateboard. Ada-ada saja memang!).

“Pake skateboard?!”

“He-eh!” jawabnya cengar-cangir.

Lantas skatehboard berisi galon air minum itu dia sorong layaknya troley. Setiap hendak menabrak tembok, ia pindahkan haluan rodanya. Tak terbayangkan ngakaknya aku melihat bocah peremuan usia 19 tahun, dengan wajah jenaka bertubuh cungkring, mendorong skateboard ditunggangi galon air minum. Hahaha!

Bukan apa-apa, ini gedung perkantoran, di mana karyawannya berpakaian formal, berdasi, resmi. Tapi yang kita lakukan di lantai 2 ini kadang berbanding terbalik sama sekali.

Malam harinya, untuk suatu keperluan aku mesti keluar kantor. Ketika kembali lagi ke kantor kawan-kawan layouter dan editor sedang asyik main games MotoGP. Ada rasa jengkel yang tak dapat kuungkapkan. Pertama karena kejadian di luar kantor, kedua karena datang ke kantor melihat anak-anak main games.

Tak berapa lama kawan-kawan menghentikan permainannya dan beringsut pulang. Lebih baik begitu. Malam ini aku ingin sendiri.

Tak berapa lama Dea masuk ke ruanganku. “Oom…” panggilnya.

“Apa, De…”

“Dea capek…”

“Ya udah atuh. Pulang… Udah jam berapa tuh liat.:”

Ia malah menggelosor di karpet membaca majalah Concept.

“Hei, udah pada makan belum? Beli makan gih.” ujarku sembari menyodorkan uang. Dan tampang jenakanya terlihat girang.

Sambil menunggu makan, Dea dan Nisa “curhat” soal kerjaan. Akhirnya kami berbincang soal kerjaan.

Tak lama makanan pun datang. Kukatakan: “Makannya di ruang kalian aja ya… aku lagi pingin sendiri di sini.” dan mereka cengar-cengir menuju ruangannya.

Hingga jam setengah 12 malam, telpon kantor berbunyi. Ternyata dari Dea.

“Lho, kamu di mana?” tanyaku.

“Di tempat parkir Oom. Nunggu cowok Dea, katanya mau njemput, tapi kok nggak ada.”

“Hahaha!! Pacaran lagi kali dia… Nggak tahan liat ceweknya kerja mulu!!” tukasku ngakak.

“Ah Oom mah…” rajuknya.

“Ya gimana atuh? Telpon lagi aja.”

“Nggak aktif…”

“Ya udah kamu ke atas lagi. Jangan nunggu di tempat parkir.”

“Tapi Dea takut lewat lobby-nya, Oom…”

“Haduh, kamu ya!”

“Hehe. Tungguin di lobby ya, Oom…” sembari menutup telpon aku membatin: beginilah tingkah bocah. Ada-ada saja.

Jadinya malam ini tim ilustrator ramai-ramai berkumpul di kantor utama. Menarik juga berkelakar dengan kawan-kawan berusia 19-20an ini. Jiwa-jiwa muda, pikiran-pikiran segar, semangat-semangat orisinil, serta idealisme setinggi langit. Kalau disalurkan pada jalur yang benar, mereka bakal “jadi”, pikirku.

Tak lama ayah Dea menelpon. Kulihat Dea sudah tertidur di kursi depan komputer semantara tangannya masih lagi menggenggam mouse. Kusuruh ia pindah ke sofa. Setengah tertidur ia berjalan tertatih-tatih sembari menggerutu karena sang pacar tak bisa ditelpon dan tak menjemput.

Pagi harinya, aku mencium aroma minyak telon bayi di ruanganku. Aku curiga. Aku keluar ruangan. Betul saja: di ruang depan kulihat Dea sudah mandi segar.

“Pantes bau bayi!” ujarku ngakak.

“Iiihhh….”

Dan kusadari diriku belum lagi mandi!

28 November 2007, 07.05 wib.