Rabu malam lalu punggung dan leherku dipijat oleh seorang kawan layouter yang cukup paham titik-titik meridian pada tubuh. Bukan kebetulan, badanku memang terasa pegal, letih, linu, atau semacam itulah. Yang kurasakan, si kawan ini memang tahu betul bagian tubuhku yang sedikit “tak beres” ini.

Betul memang, lebih dari seminggu terakhir aku sudah tidak pernah lagi merasakan tidur di atas kasur. Kalau tidak di karpet, di sofa, atau di kursi kerja di depan monitor. Itu pun paling lama hanya 3 jam. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, ya memang tidak sehat.

Nah, menurut si kawan, seluruh punggung dan leherku terasa kencang dan tegang.

“Kenapa bisa begitu?” tanyaku sembari merasakan nikmatnya dipijat.

“Kurang istirahat.”

“Lho, tiap hari aku tetap tidur kok,”

“Iya, tapi nggak pernah betul-betul istirahat.”

“Jadi, mesti gimana?”

“Harus ambil waktu buat liburan. Tapi betul-betul istirahat total. Nggak boleh mikir apa-apa. Betul-betul santai.”

“Walah, bagaimana mungkin…”

“Nggak bisa nggak,” tetapnya.

“Hmmm…”

“Kalau nggak, tubuh akan selalu dalam keadaan seperti ini. Stress tingkat kecil. Dia selalu dipakai tanpa pernah mengistirahatkan fungsinya baik secara fisik maupun pikiran.”

“Walah-walah… serius amat sih.”

“Lho, aku serius. Kelihatan banget kalau kurang minum. Coba rasakan ini,” ujarnya sembari menekan bagian-bagian tubuhku yang terasa nyeri ketika ditekan. “Paru-paru, jantung, ginjal sudah mulai kena.”

“Aih?!”

“Serius.”

“Jadi gimana dong?”

“Nggak parah sih, tapi masih bisa diperbaiki. Sederhana kok: banyak minum air putih. Minimal dua liter sehari. Trus olahraga, juga istirahat yang cukup. Dan yang tadi itu: ambil liburan panjang. Pergi ke mana gitu.”

“Walah, aku baru bisa istirahat tahun dua ribu sembilan…”

“Berarti belum sampai tahun itu udah mati,”

“Siapa yang mengangkat dirimu jadi Tuhan?!”

Bandung, 29 November 2007, 11.20 wib.