dm.jpg

Kapan waktu paling tepat untuk menulis? Apakah malam hari? Atau dini hari menjelang subuh? Di siang hari saat break makan siang? Atau sore hari sepulang kantor? Tak ada yang punya jawaban setepat-tepatnya. Karena selera setiap orang dalam menulis tentu berbeda-beda. Apalagi jika sudah membicarakan produktivitas, akan berbeda lagi persoalannya. Menulis yang sedang kubahas di sini adalah menulis kreatif. Kapan waktu paling tepat untuk menulis?

Seorang penulis seperti Bondan Winarno mengaku, ia menulis saat deadline koran di mana ia bekerja memburunya. Saat jam-jam kritis seperti itu, ia justru merasa mempunyai mood yang berlebih-lebihan dalam menulis di luar tulisan koran. Pada jam-jam di mana para wartawan dikejar waktu secara ketat seperti itu, Bondan malah berhasil membuat sebuah cerpen. Baru setelah itu dengan tenang ia selesaikan pekerjaan koran yang menunggu-nunggu. Ia pun kerap menulis cerpen di bandara saat menunggu pemberangkatan pesawat, atau di mobil, sementara istrinya menyetir. Jadi, kapan waktu paling tepat untuk menulis?

Putu Wijaya barangkali satu dari sedikit orang yang paling produktif dalam menulis. Ia seperti kelebihan energi dalam soal menulis. Ia bisa menulis di kereta api, di pesawat terbang, sepulang syuting seharian yang melelahkan sementara waktu sudah larut malam. Bahkan saat berkunjung ke sebuah harian di Bandung, ketika diminta untuk menulis sebuah cerpen, ia hanya menjawab dengan duduk di balik sebuah meja entah milik siapa. Setelah itu, taktuk-taktuk, jadilah sebuah cerpen. Luar biasa memang! Jadi, kapan waktu paling tepat untuk menulis?

Pramoedya Ananta Toer juga termasuk orang paling “gila” menulis. Masa mudanya nyaris habis tenggelam dalam duduk di balik mesin ketik Oliveti. Ia tidak pernah bisa menahan godaan si Oliveti. Istrinya sering merasa terganggu karena Pram muda nyaris jarang tidur di malam hari, karena lebih asyik berkencan dengan si Oliveti. Di penjara Belanda ia tetap menulis. Di Pulau Buru, di luar kerja paksa, ia mencuri-curi waktu untuk bisa menulis. Hingga akhirnya, satu-satunya pekerjaan utama Pram di Pulau Buru hanyalah menulis. Menulis, menulis, dan menulis. Pram termasuk orang yang rajin menulis buku harian. Apa saja ia tulis. Kapan dan di manapun. Jadi, kapan waktu paling tepat untuk menulis?

Apakah menulis membutuhkan waktu khusus? Adakah waktu yang benar-benar sempurna untuk mulai menulis? Apakah waktu menulis bisa di-setting seperti: ya, sekarang aku akan mulai menulis. Apakah seperti itu?

Ketika aku bekerja di sebuah majalah, kantorku berada di lantai 14 di sebuah gedung bertingkat di Bandung. Ruanganku tentu ber-AC. Sebagai seorang pemimpin redaksi, mau tak mau orang musti mengetuk pintu dulu jika ingin masuk untuk menemuiku. Ruanganku memiliki view sebuah jalan yang dahulu sangat tersohor: Jalan Raya Pos (sekarang Jalan Asia Afrika), dengan keramaian yang dapat kulongok setiap saat lewat jendela yang sudah barang tentu kedap suara. Kalau malam, kerlap-kerlip lampu selalu menggodaku untuk menunda pulang.

Di atas meja kerja terdapat sebuah komputer dengan monitor flat, seonggok kursi yang empuk, sebuah pesawat tilpun, dua buah spiker yang selalu mengalunkan lagu-lagu MP3, akses internet 24 jam, tak lupa cleaning service yang selalu hadir di setiap pagi. Kalau dari rumah lupa sarapan, pagi-pagi benar sudah bisa pesan semangkuk mie rebus plus telor mengepul-ngepul. Hmmm… Menyenangkan untuk sebuah ruang kerja. Dan tentu: tempat yang nyaman untuk menulis. Tapi tunggu dulu, justru di situlah persoalannya!

Dari pagi hingga malam aku menulis. Waktuku habiskan hanya untuk menulis. Atau sesekali makan siang (kalau sedang ingat makan!). Setelah itu kembali naik ke lantai 14 dan tenggelam lagi dalam tulisan. Tapi persoalannya adalah: apa yang aku tulis?

Waktuku habis untuk menyeleksi tulisan yang layak muat, mengeditnya, memeriksa tulisan yang masuk, membongkar dan menyusunnya kembali, memberi perintah liputan, menagih berita liputan, juga sesekali direcoki bagian produksi. Atau mendengar keceriwisan sekretarisku karena banyak hal yang harus kujawab. Terkadang baru menjelang tengah malam aku pulang. Kantor sudah sepi. Yang tersisa tinggal satpam. Sampai ke rumah tentu dini hari. Biasanya aku langsung masuk kamar mandi. Kalau lapar ya makan. Setelah itu, godaan komputer di ruang kerja tak pernah bisa kutolak: lagi-lagi aku berhadapan dengan komputer. Ditemani segelas kopi, berbatang rokok, lengkingan suara Enya, dan aku kembali mengerjakan sisa pekerjaan kantor yang tertunda. Jadi, apa yang kutulis?

Berbulan lamanya aku tidak menelurkan sepucuk cerpen pun. Sungguh mengibakan! Waktu habis hanya untuk menulis berita-berita yang homogen. Kalau ada keluangan waktu, kelelahan sudah menjemput tanpa ampun. Aku tidur setelah adzan Subuh. Dan bangun sekira jam delapan pagi. Cepat-cepat mandi, dan pergi ke kantor tanpa sarapan. Lantas baru pulang ke rumah dini hari seperti biasa. Terus seperti itu setiap hari. Sungguh melelahkan, meski sangat mengasyikan, karena aku bekerja pada bidang yang kusukai. Tapi berbulan lamanya: tidak secuil cerpen pun kuhasilkan. Huh! Betapa malasnya aku.

Dulu saat aku dan dua orang kawan: Rana Akbari Fitriawan, si wartawan Surabaya Post (kini wartawan Tempo Bandung), serta Mohamad Isa Gautama, penyair yang sajak-sajaknya kukagumi, masih lagi kerap bertemu dan nongkrong di kantor Surabaya Post, kami selalu berlomba-lomba membikin cerpen. Berlomba-lomba pula kami mengirimkannya. Lantas menunggu-nunggu: bakal cerpen siapa yang dimuat lebih dulu. Sungguh produktif dan menyenangkan. Malah pernah satu cerpen kami bikin bertiga. Lead, body, dan ending kami garap secara bergantian terus-menerus dalam satu komputer. Tetapi ketika aku bekerja di media yang jelas-jelas berhubungan mesra dengan dunia tulis-menulis, dengan suasana kantor yang nyaman, produktivitasku malah ambrol dan hilang sama sekali. Memalukan!

Hingga sebuah undangan yang memintaku membaca cerpen di Auditorium CCF (Centre Culturel Francais) Bandung, mau tak mau aku memaksakan diri untuk merawi sebuah cerpen. Setelah berbulan-bulan lamanya bekerja di kantor yang bisa dibilang nyaman: itulah cerpen terbaruku dalam enam bulan terakhir. Sepucuk cerpen dalam enam bulan. Huh! Betapa memalukan! Maka, kapan waktu paling tepat untuk menulis?

Sejak awal Januari 2003, sejak berdirinya komunitas diskusi Klab Baca Pramoedya, terbitlah media dokumentasi dengan nama KompalKampil (aku lebih suka menyebutnya Lembar Klab Baca Pramoedya). Siapa nyana, dengan terbitnya media itu, sekonyong-konyong produktivitas menulisku melompat gila-gilaan. Setiap hari, setiap minggu, setiap bulan ada saja yang ingin kutulis. Dan rata-rata berhubungan dengan menulis kreatif.

Aku jadi heran dengan kegilaan ini. Sudah berapa cerpen kurampungkan. Bahkan antologi cerpen keduaku sudah diterbitkan oleh penerbit Jakarta. Sekarang aku malah punya utang merampungkan duet antologi cerpen dengan dua orang kawan: Mohamad Isa Gautama, seorang pengarang/penyair kelahiran Padang yang saat ini sedang merampungkan tesis di Unpad (kini sudah jadi dosen) dan G.A. Rella Mart, seorang pengarang yang tinggal di Surabaya. Aku juga sedang menyelesaikan beberapa buku. Ada novel, ada biografi, serta metodologi penelitian tentang sastra. Belum lagi sebuah penawaran dari harian Radar Bandung: mereka meminta Pramoedya Institute menjadi pengasuh rubrik budaya mereka. Satu lembar penuh halaman koran. Secara rutin seminggu sekali. Wow! Aku pikir ini sebuah proses kedisiplinan dalam menulis yang akan sangat terjaga.

Terus terang saja, aku tidak pernah merasa selancar ini. Artinya, aku sudah mulai terbiasa memotivasi diriku sendiri untuk menentukan kapan aku menulis. Berkat Lembar Klab Baca Pramoedya itulah aku jadi termotivasi untuk terus menulis. Meski pada akhirnya, muaranya justru tidak selalu untuk Lembar Klab Baca Pramoedya. Tapi dari Lembar Klab Baca Pramoedya itulah motivasi menulis seperti air yang meluncur melalui kran di kamar mandi: setiap ingin menulis, tinggal putar kran. Dan air pun mengalirlah. Ketika sedang tidak mood menulis, tinggal tutup kran. Begitu sederhana!

Akhirnya aku menemukan rumus sederhana, yang paling tidak bisa kugunakan untuk diriku sendiri. Ternyata semua itu berkat produktivitas yang berkesinambungan. Lembar Klab Baca Pramoedya yang terbit dua minggu sekali, membuat aku memiliki hutang untuk menyetor tulisan setiap dua minggu sekali. Kebiasaan setor tulisan itu membuat aku harus menulis dalam rentang waktu selama itu. Berminggu-minggu terus seperti itu. Yang pada akhirnya menjadi kebiasaan. Tiba-tiba saja begitu banyak ide muncul di kepala minta ditumpahkan. Dan menulislah aku. Tanpa disadari menulis seperti kebiasaan. Menulis seperti makan. Seperti bernafas. Yang rasanya tidak lengkap sebuah hari tidak dilalui dengan menulis barang satu dua kalimat pun. Menulis menjadi menu wajib yang tak mungkin ditinggalkan.

Jadi, jika ditanya kapan waktu paling tepat untuk menulis, jawabnya adalah: saat itu juga! Saat keinginan menulis itu muncul, menulislah! Jangan menunda. Karena menunda merupakan sebuah pemaafan pada diri sendiri dengan berbagai alasan untuk tidak menulis. Tidak ada waktu paling tepat dan paling sempurna untuk mulai menulis selain saat keinginan menulis itu ada. Mulailah menulis. Jangan ciptakan waktu dan ruang khusus untuk menulis. Karena ide, pikiran, keinginan untuk menulis tidak pernah kita duga datangnya. Karena menciptakan waktu dan ruang khusus untuk menulis hanya akan memanjakan kita.

Saat kita sudah segar oleh mandi. Saat segelas kopi sudah bertengger di meja kerja. Saat batang rokok sudah kita sulut. Saat kita sudah menyalakan komputer. Saat kita sudah duduk dengan tangan menggenggam papan ketik, apa yang hendak dilakukan dengan kondisi sesempurna itu? Aku jamin: tak ada! Paling banter main games, mendengarkan musik, atau kalau beruntung: menarik sebuah buku dari rak terdekat, dan mulai membaca. Akhirnya menguap, lantas tidur. Kapan menulisnya? Entah! Karena kita memanjakan diri kita.

Tetapi, apakah kita tidak boleh mengatur waktu dan menciptakan jadwal rutin untuk menulis di setiap harinya? Katakanlah, jam tujuh malam di setiap malam, misalnya. Tentu saja boleh. Namun dengan satu syarat: kita sudah sampai pada titik disiplin yang tak bisa ditawar-tawar lagi dalam soal menulis. Dan itu bukan sesuatu yang tak bisa dipelajari. Hanya saja masalahnya kita mau atau tidak. Bukan mampu atau tidak. Sangat berbeda! Karena setiap orang pada dasarnya mampu, tetapi tidak setiap orang mau.

Nah, ketika kedisiplinan sudah terbangun, produktivitas akan mengikuti kemudian. Jika keduanya telah menyatu, saat pada akhirnya kita menjadwalkan waktu khusus untuk menulis, semua itu sudah keluar secara alami dan lancar. Tidak lagi menyodorkan alasan: Sibuklah! Kerjaan menumpuklah! Harus menyelesaikan tugaslah! Letihlah! Nggak mood-lah! Macam-macam! Biarlah hal itu hanya dimiliki Si Tuan dan Si Nyonya Alasan. Kita tak perlu ikut-ikut. Karena ternyata hanya ada dua hal untuk mancapai kesuksesan: berani melakukan sesuatu (menuju kesuksesan itu sendiri) atau beralasan. Kita bisa memilih salah satuya. Sukses atau beralasan. Tetapi kita tidak bisa memilih keduanya. Kita tidak bisa sukses sembari beralasan. Oke?

Jadi, kapan waktu paling tepat untuk menulis? Anda punya jawaban sendiri. Selamat menulis!