gober-gober.jpg

Seperti kita ketahui, warna serta nada pemberitaan tv-tv dalam hitungan hari sejak 27 Januari 2008 nyaris serupa bak paduan suara. Semua sontak serempak seolah mengelu-elukan sosok Paman Gober yang ditayangkan dalam berbagai kenangan selama ia berkuasa di Negeri Bebek. Bahkan ada beberapa stasiun yang mengharamkan reporter yang turun di lapangan maupun jangkar berita atau news acnhor di studio menyebut Paman Gober hanya dengan sebutan Gober.

Beberapa memang ada yang tetap kritis dalam memandang persoalan Paman Gober. Namun jika disatukan dalam satu alunan nada, tv-tv itu betul sungguh bak paduan suara dalam mengulas berita kematian Paman Gober. Salahkah? Orang boleh punya pendapat. Namun justru di situlah persolannya.

Seorang kawan sempat berkomentar: jasa-jasa Paman Gober terhadap Negeri Bebek kan bukan tidak sedikit. Kita tidak lantas menafikannya hanya karena Paman Gober memiliki status tersangka atas banyak kasus korupsi yang belum selesai. Apalagi mesti diakui, berkat Paman Gober, Negeri Bebek sempat disegani banyak negeri tetangga karena pembangunan yang telah dicapainya. Bahkan pernah menjadi negeri yang swasembada beras.

Oke. Mungkin betul. Kalau itu tak bisa dinafikan, kita pun mestinya tak boleh manafikan bagaimana strategi Paman Gober untuk bisa berkuasa di Negeri Bebek melalui sebuah “surat sakti”. Bagaimana Paman Gober menciptakan mesin politik bernama Golbek (Golongan Bebek) yang selalu memenangkan pemilu di Negeri Bebek. Di mana seluruh elemen di dalamnya justru dapat melanggengkan kekuasaan Paman Gober sebagai penguasa.

Kalau ekonomi Negeri Bebek melejit pesat di bawah pimpinan Paman Gober, jangan pula dinafikan bahwa sejak kekuasaannya, Paman Gober membuka pintu lebar-lebar bagi seluruh investasi asing untuk ikut berkuasa di Negeri Bebek. Pertanian boleh maju, namun teknologi yang mendukung pertanian itu berupa pinjaman modal asing yang hutangnya pun belum pernah bisa selesai sampai dengan hari ini. Bahkan, setiap bayi yang belum dilahirkan di Negeri Bebek, sudah mengantungi jatah hutang yang mesti dibayar.

Akibatnya, kekuasaan kental dengan praktek korupsi serta perkoncoan antar bebek yang buntutnya (bukan buntut bebek) menjadikan Paman Gober sebagai bebek super kaya beserta keluarga bebek serta kroni-kroni bebek lainnya. Begitu terhantam badai krisis ekonomi, kemajuan ekonomi yang dielu-elukan itu pun bubar tunggang langgang tanpa permisi. Hasilnya: Paman Gober dituntut turun sebagai penguasa.

Kini, tv-tv itu masih lagi mengelu-elukan jasa serta kenangan Paman Gober semasa hidupnya. Semua bak paduan suara dalam alunan satu nada. Ada yang lupa: kemajuan tidak hanya dilihat dari apa yang bisa dicapai, tak kurang: dengan cara bagaimana kemajuan itu dicapai, tak kalah pentingnya.

Wek!

Bandung, 30 Januari 2008, 02.45 wib.

Anyaman Sepola: