Meminang dan Dipinang
Seingatku, aku nyaris tak pernah meminang pekerjaan di mana aku pernah kerja. Tapi bukan berarti pekerjaan jatuh dari langit begitu saja. Tidak juga tanggal dari batang pohon jengkol lantas berserakan di tanah di mana aku dapat langsung memungutnya. Tetap ada harga yang mesti kubayar yang acapkali disebut ‘usaha’ hingga pekerjaan yang justru meminangku.
Malam tadi sempat nongkrong di Roemah Kopi di kawasan Dago utara bersama kawan-kawan. Satu waktu lagi yang kulewatkan dengan santai tanpa terlalu fokus pada pekerjaan di kantor. Alangkah lembutnya hari-hari belakangan ini berjalan.
Sedang asyik-asyik berkelakar, masuk telpon dari sebuah penerbit di Jakarta, menanyakan bagaimana dengan pinangan mereka yang menawariku memegang imprit penerbit yang akan mereka dirikan di Bandung. Ai! Aku nyaris melupakan tawaran itu. Akhirnya obrolan di telpon beralih ke soal kepastian pinangan. Sampai aku menulis ini, pinangan tersebut masih kutimang-timang. Yang jelas kalau jadi, pekerjaan di kantor sekarang mesti dimadu. Atau kutolak sama sekali pinangan tersebut.
Rencana awal, seseorang di ujung telpon itu hendak Senin naik ke Bandung. Tapi setelah ada obrolan lebih kongkrit, seseorang di ujung telpon itu memutuskan besok pagi datang ke kantor untuk membicarakan lebih lanjut soal pinangan. Hmmm, bagaimana aku mesti memutuskan… Ah, tergantung bargaining besok pagi saja.
Daniel Mahendra,
Terdakwa Pinangan.



