Archive for February, 2008

Meminang dan Dipinang

Seingatku, aku nyaris tak pernah meminang pekerjaan di mana aku pernah kerja. Tapi bukan berarti pekerjaan jatuh dari langit begitu saja. Tidak juga tanggal dari batang pohon jengkol lantas berserakan di tanah di mana aku dapat langsung memungutnya. Tetap ada harga yang mesti kubayar yang acapkali disebut ‘usaha’ hingga pekerjaan yang justru meminangku.

Malam tadi sempat nongkrong di Roemah Kopi di kawasan Dago utara bersama kawan-kawan. Satu waktu lagi yang kulewatkan dengan santai tanpa terlalu fokus pada pekerjaan di kantor. Alangkah lembutnya hari-hari belakangan ini berjalan.

Sedang asyik-asyik berkelakar, masuk telpon dari sebuah penerbit di Jakarta, menanyakan bagaimana dengan pinangan mereka yang menawariku memegang imprit penerbit yang akan mereka dirikan di Bandung. Ai! Aku nyaris melupakan tawaran itu. Akhirnya obrolan di telpon beralih ke soal kepastian pinangan. Sampai aku menulis ini, pinangan tersebut masih kutimang-timang. Yang jelas kalau jadi, pekerjaan di kantor sekarang mesti dimadu. Atau kutolak sama sekali pinangan tersebut.

Rencana awal, seseorang di ujung telpon itu hendak Senin naik ke Bandung. Tapi setelah ada obrolan lebih kongkrit, seseorang di ujung telpon itu memutuskan besok pagi datang ke kantor untuk membicarakan lebih lanjut soal pinangan. Hmmm, bagaimana aku mesti memutuskan… Ah, tergantung bargaining besok pagi saja.

Daniel Mahendra,
Terdakwa Pinangan.

Continue Reading »

99 Sajak

Hari ini senang sekali bisa memilih 99 sajak yang kurangkum dalam satu kumpulan sajak berjudul Malam Sepenggal Bulan. Hari ini telah kulengkapi pula dengan halaman prelim plus biodata. Lengkap sudah. Berarti hari ini naskah sudah bisa kusetor pada kawan layouter yang sudah menagih-nagih hendak me-layout buku kumpulan sajakku itu.

Dengan demikian, maka hari ini aku bisa meneruskan mengumpulkan beberapa cerita pendekku yang tercecer yang nantinya pun akan kusatukan dalam buku kumpulan cerpen. Rencananya buku kumpulan cerpenku ini akan kuberi judul Amara. Atau entah melihat perkembangan dalam perjalanan saja. Siapa tahu berubah, siapa tahu pula nama Amara yang bakal kuputuskan. Sudah 8 pucuk cerita pendek yang berhasil kukumpulkan. Aku belum lagi tahu, hendak kugenapkan hingga berapa pucuk judul cerpen buku itu nantinya.

Yang pasti, di luar pekerjaan kantor, saat ini aku sedang semangat-semangatnya menulis dan menyusun banyak buku. Porsi membacaku pun bertambah sekian jam dalam sehari. Yang lebih menyenangkan lagi, aku masih sempat nongkrong di kedai dengan kawan-kawan lain yang berhabitat heterogen. Fokus pekerjaan kantor mulai kugeser pelan-pelan.

Daniel Mahendra,
Penganyam Kata.

Continue Reading »

Andai Kalian Jadi Penguasa

Fidel Castro mengundurkan diri sebagai presiden setelah 49 tahun berkuasa di Kuba. Raul Castro, adiknya, pun ditabalkan sebagai presiden menggantikan kakaknya. Kini siapa lagi pemimpin terlama di dunia? Secara iseng dan berkelakar, kutanya kawan-kawanku: apa yang akan mereka lakukan andai mereka jadi penguasa Indonesia. Huah! Obrolan apa pula ini.

Kawanku H. kami khawatirkan akan melanggengkan budaya poligami jika ia terpilih jadi presiden. Tapi ia punya pertahanan: “Saat itu terjadi, poligami sudah menjadi hal yang lumrah dan mendapat legitimasi secara umum.” Sialan! Tawa pun meledak.

Kawan J. berkata, “Aku akan sejahterakan Indonesia dalam tempo sepuluh tahun!” Kami semua pun terbelalak. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk memperbaiki keadaan Indonesia seperti saat ini. “Bisa,” tukasnya yakin. “asal segala omonganku dijadikan hukum!” Gila! Bakal lahir diktator baru kalau seperti itu polanya. Belum-belum ia sudah ingin menjadikan omongannya sebagai kekuatan hukum. Apa dia keturunan dewa? Orang yang tidak dia sukai bisa ia gantung di tengah alun-alun hanya karena ia tidak suka secara subyektif.

Kawan B. sudah mulai menempatkan kawan-kawannya sebagai menteri, sesuai dengan latar belakang pendidikan serta pekerjaannya saat ini. Waduh, ini sama saja dengan koncoisme, eh? “Tidak,” tangkisnya. “aku kan tau betul kemampuan mereka.” Walah, setiap penguasa yang terpilih pun bisa punya alasan yang sama benar kalau polanya seperti itu.

Kawan M. ingin merubah konsep republik menjadi monarki, dengan tetap melibatkan parlementer. “Aku ingin jadi raja!” selorohnya bangga. “Raja singa?!” teriak kami serempak. Huahaha!!

Kawan H. di 100 hari masa pemerintahannya hendak menyelenggarakan sayembara. “Sayembara?! Sayembara apa?” tanya kami berbarengen. “Ya,” sambungnya pasti. “sayembara untuk memilih calon ibu negara. Kan saat aku terpilih, aku belum menikah.” tawanya meledak. Sableng!

Continue Reading »

Malam Sepenggal Bulan

qm.jpgMalam ini sudah kuniatkan untuk kembali menginventaris sajak-sajakku yang berceceran di mana-mana. Di komputer, di catatan harian, di blog, di PDA, atau di rumah-rumah tanpa alamat surat. Semua kukumpulkan kembali. Ada ratusan sajak yang berhasil kukumpulkan.

Ini berhubungan dengan rencanaku memenuhi permintaan penerbit yang meminta naskah-naskahku. Ada beberapa naskah yang akan dan sedang kusiapkan. Mulai dari kumpulan sajak, kumpulan cerpen, novel, esai, serta beberapa artikel. Namun kudahulukan dari yang termudah dulu.

Kenapa sajak kuanggap yang termudah? Telah kuinsyafi, ternyata karyaku terbanyak berupa sajak ketimbang tulisan lainnya. Ada ratusan sajak yang sudah terkumpul. Yang tak terkumpul, apa boleh buat. Mereka kuanggap anak rohani yang hilang. Suatu saat berangkali akan datang kembali.

Nyatanya memang sajak karyaku yang paling sering dan paling banyak dimuat di media ketimbang cerpen atau artikel. Adalah sajak pula bentuk karya sastra yang pertama kali berhasil menembus media-media besar ketimbang genre tulisan lainnya. Dan memang sajak karya yang paling kerap kubacakan ketimbang karya lainnya di pagelaran-pagelaran.

Entah ada apa dengan sajak. Padahal tak pernah terniatkan pada diriku untuk menjadi penyair. Aku tak ingin menjadi penyair. Aku lebih suka menjadi prosais ketimbang penyair. Ironisnya, justru sajak-sajaklah yang paling kerap menggelumbang ketimbang prosaku. Heran! Continue Reading »

KD

jd.jpgMinggu pagi tadi aku cukup terhibur ketika menyeruak keramaian sepanjang lapangan Gasibu Bandung. Seperti biasa, setiap Minggu pagi seputaran Gedung Sate memang dijadikan pasar kaget yang menjual apa pun yang dapat disebutkan oleh mulut. Setiap pedagang dikenai retribusi seribu perak (oleh pemerintah kota?). Mereka boleh menjual apa saja, kecuali harga diri barangkali. (Hehe!). Ribuan warga Bandung pun tumplek di sana. Dan lapangan olahragakd.jpg sudah bukan tujuan utama lagi.

Ketika sedang menyusuri sepanjang Jalan Diponegoro, aku tersenyum geli saat mendapati sebuah tenda penjual kaos. Yang bikin geli karena salah satu kaos yang digantung di sana bertuliskan “Kang Daniel’s” dengan logo persis yang dapat kita temui pada merk minuman Jack Daniel’s. Tanpa ragu-ragu aku langsung memotretnya. Terniat memang untuk membelinya, buat lucu-lucuan. Tapi setelah dipikir-pikir, iseng amat! Hehe.

Tapi cukup senang juga sempat memotretnya. Beberapa saat lalu ketika menyusuri Pulau Madura, aku sempat menyesal ketika menemui sebuah minibus di mana kaca belakangnya bertuliskan “Mas Daniel” luput kukejar karena saat hendak mengeluarkan kamera, sang supir telah memacu si minibus dengan begitu cepat. Gagal niat berfoto di belakang minibus itu.

Yang menarik lainnya tentu saja aku mendapatkan tumpukan ide selama berkeliling Gasibu. Ada saja segi menarik untuk ditulis pada suatu hari nanti. Setelah bosan berputar-putar, tujuan selanjutnya apalagi kalau bukan cari sarapan. Dan tenda warung Jawa Timur jadi pilihanku. Aku kangen makan pecel. Pecel Madiun pula. Continue Reading »

Negeri Perampok

perampok.pngKetika Rakrian Kuti melakukan makar dan mengangkat diri sendiri sebagai raja negeri Wilwatikta, kawula Majapahit merasa kecewa, geram, marah, sekaligus takut. Selain karena Ra Kuti mendongkel Jayanegara dari kursi raja dengan cara yang culas, licik, serta penuh pola adu domba, para punggawa kerajaan melakukan perampokan, penjarahan, serta pemerkosaan terhadap penduduk kotaraja.

Punggawa kerajaan yang mestinya bertindak mengayomi, melindungi, serta membantu masyarakat, malah berbuat sebaliknya. Adalah wajar jika kawula Majapahit bertanya: “Lantas apa yang diamui Ra Kuti?” Hal ini jelas menjauhi Ra Kuti dari masyarakat. Kapasitas Ra Kuti yang menangkat diri sendiri sebagai raja tidak mengakar. Tidak mendapat simpati rakyat, justru malah sebaliknya.

Beberapa hari kemarin seorang kawan kehilangan sepeda motornya persis di depan rumah kosnya. Okelah, motor hilang. Setelah urus sana-sini, akhirnya asuransi berhasil mengganti penuh seharga motor tersebut. Namun ada hal yang cukup mengganggu, yaitu: sang kawan mesti mengeluarkan uang sebesar Rp1,5 juta pada pihak kepolisian.

Aku masih tidak mengerti: legalitas apa yang dipakai pihak kepolisian untuk mengutip “upeti” sebesar satu juta lima ratus ribu perak pada masyarakat yang kebetulan terkena musibah kehilangan kendaraannya. Bukankah mestinya sebagai “punggawa kerajaan”, mereka membantu kawula negerinya yang sedang tertimpa musibah. Aku tahu hal ini sangat jamak didengar dan terjadi. Lantas apakah kalau sudah jadi kebiasaan lantas kita mesti mahfum begitu terus? Kalau demikian adanya, kita sebagai kawula negeri pun memiliki kontribusi menjadikan negeri ini sebagai negeri perampok.

Continue Reading »

Jalinan Pilinan Persahabatan

Satu yang aku syukuri dari pekerjaanku adalah aku mengerjakan apa yang aku sukai. Aku tahu, ada begitu banyak orang yang bekerja tanpa pertautan hati di dalamnya. Mereka bekerja karena mereka memang mesti bekerja. Tapi bukankah seperti hidup: perjuangan, eh? Maka aku bersyukur sungguh bahwa pekerjaanku terdukung jalinan pilinan persahabatan (aku menyebutnya begitu) yang satu sama lain saling bertautan.

Aku ingat, dulu ketika kali pertama mendirikan penerbit dan toko buku, aku pun sangat terbantu dengan apa yang kusebut jalinan pilinan tersebut. Sehingga aku memunyai rumus: untuk membuat sebuah usaha, modal materi hanyalah syarat nomor 13. Semua bisa kalau kita mau.

Kemarin ini, untuk tema naskah buku tertentu aku mesti memutar otak: siapa penulis yang betul menguasai tema naskah tersebut. Seorang kawan yang istrinya bekerja di sebuah penerbit besar menyodorkan sebuah nama. Dan nama yang disodorkannya itu merekomendasikan sebuah nama lagi. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku?

“Oya? Kenal?”

“Iya.”

Tapi kukontak juga kawanku itu. Dan kawanku yang kukontak itu merasa tak begitu menguasai atas tema yang kuajukan. Tapi ia merekomendasikan sebuah nama lain. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku juga?

Continue Reading »

Next Page »