Jalinan Pilinan Persahabatan
Satu yang aku syukuri dari pekerjaanku adalah aku mengerjakan apa yang aku sukai. Aku tahu, ada begitu banyak orang yang bekerja tanpa pertautan hati di dalamnya. Mereka bekerja karena mereka memang mesti bekerja. Tapi bukankah seperti hidup: perjuangan, eh? Maka aku bersyukur sungguh bahwa pekerjaanku terdukung jalinan pilinan persahabatan (aku menyebutnya begitu) yang satu sama lain saling bertautan.
Aku ingat, dulu ketika kali pertama mendirikan penerbit dan toko buku, aku pun sangat terbantu dengan apa yang kusebut jalinan pilinan tersebut. Sehingga aku memunyai rumus: untuk membuat sebuah usaha, modal materi hanyalah syarat nomor 13. Semua bisa kalau kita mau.
Kemarin ini, untuk tema naskah buku tertentu aku mesti memutar otak: siapa penulis yang betul menguasai tema naskah tersebut. Seorang kawan yang istrinya bekerja di sebuah penerbit besar menyodorkan sebuah nama. Dan nama yang disodorkannya itu merekomendasikan sebuah nama lagi. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku?
“Oya? Kenal?”
“Iya.”
Tapi kukontak juga kawanku itu. Dan kawanku yang kukontak itu merasa tak begitu menguasai atas tema yang kuajukan. Tapi ia merekomendasikan sebuah nama lain. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku juga?
“Kenal ya?”
“Hehe, iya.”
“Dia punya banyak kawan penulis yang menguasai tema naskah semacam itu.”
“Ya-ya, kenapa tak terpikir olehku ya.”
“Kontaklah.”
Haduh, ini macam dagelan saja. Tapi tetap kukontak juga kawan yang kukenal itu. Akhirnya aku membuat janji untuk bertemu dengan kawannya kawanku yang direkomendasikan oleh seorang kawan yang dikenalkan istri dari kawanku. MasyaAllah!
Maka di sebuah malam yang lembab, aku pun menemui kawanku itu yang ternyata kini bekerja di sebuah penerbitan. Sudah lama kami tak bertemu. Tapi kemesraan kami masih terjaga apik. Dulu ia sempat menjadi “dosen” di kelas penulisan yang kukelola. Bahkan kami sempat menulis buku bersama. Kini ia masih saja produktif menulis. Tulisannya selalu seliweran di media massa.
Akhirnya aku mengedepankan maksud kedatanganku. Pembicaraan pun bergulir. Terjadilah kesepakatan atas naskah buku yang kusorongkan. Siapa nyana, tiba-tiba kawanku yang pembawaannya selalu tenang ini, meminta naskah-naskah karyaku. Hah?!
“Ya, kami sedang butuh banyak sekali naskah. Mana naskah-naskahmu, biar kami terbitkan.”
Haih! Bukankah kedatanganku ini untuk membicarakan naskah yang sedang kuperlukan. Kok malah jadinya terbalik: aku yang ditodong mengirimkan naskah pada penerbitannya. “Naskah apa saja?”
“Apa saja yang kau punya. Buat baru pun boleh. Mau kumpulan cerpen, kumpulan puisi, novel, esai, kritik sastra, naskah drama, apapun. Semuanya pun boleh.”
Wow! Tanpa sungkan aku berujar, “Aku suka sekali pertemuan ini!” tukasku cengar-cengir.
Dan aku pulang dengan senyum mengembang tak terbendung. Kembali aku mengamini bahwa jalinan pilinan persahabatan menimbulkan hal-hal yang tak terkira. Aku merasakan betul kekuatan dari apa yang disebut silaturahmi.
Ketika kembali menghadapi komputer, kuawali tulisan ini dengan kalimat: satu yang aku syukuri dari pekerjaanku adalah aku mengerjakan apa yang aku sukai.
Daniel Mahendra,
Penikmat Pekerjaan.
Bandung, 21 Februari 2008.


ya…sampe akhirnya ketemu jugakan sama raja kediri…. dimana coba hare gene nemu yg begituan ….barang langka….
Windy.. emang loe pikir gw jenglot kali kok dibilang langka?
Elo tuh langka!