jd.jpgMinggu pagi tadi aku cukup terhibur ketika menyeruak keramaian sepanjang lapangan Gasibu Bandung. Seperti biasa, setiap Minggu pagi seputaran Gedung Sate memang dijadikan pasar kaget yang menjual apa pun yang dapat disebutkan oleh mulut. Setiap pedagang dikenai retribusi seribu perak (oleh pemerintah kota?). Mereka boleh menjual apa saja, kecuali harga diri barangkali. (Hehe!). Ribuan warga Bandung pun tumplek di sana. Dan lapangan olahragakd.jpg sudah bukan tujuan utama lagi.

Ketika sedang menyusuri sepanjang Jalan Diponegoro, aku tersenyum geli saat mendapati sebuah tenda penjual kaos. Yang bikin geli karena salah satu kaos yang digantung di sana bertuliskan “Kang Daniel’s” dengan logo persis yang dapat kita temui pada merk minuman Jack Daniel’s. Tanpa ragu-ragu aku langsung memotretnya. Terniat memang untuk membelinya, buat lucu-lucuan. Tapi setelah dipikir-pikir, iseng amat! Hehe.

Tapi cukup senang juga sempat memotretnya. Beberapa saat lalu ketika menyusuri Pulau Madura, aku sempat menyesal ketika menemui sebuah minibus di mana kaca belakangnya bertuliskan “Mas Daniel” luput kukejar karena saat hendak mengeluarkan kamera, sang supir telah memacu si minibus dengan begitu cepat. Gagal niat berfoto di belakang minibus itu.

Yang menarik lainnya tentu saja aku mendapatkan tumpukan ide selama berkeliling Gasibu. Ada saja segi menarik untuk ditulis pada suatu hari nanti. Setelah bosan berputar-putar, tujuan selanjutnya apalagi kalau bukan cari sarapan. Dan tenda warung Jawa Timur jadi pilihanku. Aku kangen makan pecel. Pecel Madiun pula.Dulu ketika masih sering naik kereta Bandung-Surabaya, aku selalu geli kalau kereta telah menembus stasiun Madiun. Selain brem, pedangan asongan berebut menjual pecel yang masih hangat mengepul-ngepul. Nada serta logat para pedagang sudah berbeda sama sekali dibanding ketika kereta masih lagi melintasi stasiun-stasiun di Jawa Barat atau Jawa Tengah. Aku selalu membeli satu pincuk. Ah, rindu juga melakukan traveling seperti dulu lagi.

Akhirnya Warung Jawa Timur di Gasibu ini dapat mengobati kerinduanku akan masakan Jawa Timur. Pincuk pun disajikan dengan nasi mengepul-ngepul. Makannya lesehan dengan meja kecil di atas lembaran karpet. Tiba-tiba aku teringat ketika menyantap pecel pincuk jam 12 malam di alun-alun Sidoarjo. Asyik dan menyenangkan.

Ya, aku memang sengaja membiarkan akhir minggu ini tanpa jadwal. Bahkan tanpa memikirkan pekerjaan sama sekali. Jalan-jalan, makan, potong rambut, makan lagi, membaca buku, nongkrong di kedai, makan lagi. Ah, bagiku itu sudah merupakan liburan yang hebat.

Ini bukan catatan harian. Ini hanyalah salah sebuah caraku menggali ide tulisan dari berbagai tempat yang kebetulan kukunjungi. Melihat, mendengar, serta merasakan langsung adalah cara yang kupilih ketimbang berfantasi. Intinya tetap menulis.

Selamat makan!

Daniel Mahendra,
Penggemar Pecel Pincuk.

 jt.jpg

Bandung, 25 Februari 2008, 00.25 wib