perampok.pngKetika Rakrian Kuti melakukan makar dan mengangkat diri sendiri sebagai raja negeri Wilwatikta, kawula Majapahit merasa kecewa, geram, marah, sekaligus takut. Selain karena Ra Kuti mendongkel Jayanegara dari kursi raja dengan cara yang culas, licik, serta penuh pola adu domba, para punggawa kerajaan melakukan perampokan, penjarahan, serta pemerkosaan terhadap penduduk kotaraja.

Punggawa kerajaan yang mestinya bertindak mengayomi, melindungi, serta membantu masyarakat, malah berbuat sebaliknya. Adalah wajar jika kawula Majapahit bertanya: “Lantas apa yang diamui Ra Kuti?” Hal ini jelas menjauhi Ra Kuti dari masyarakat. Kapasitas Ra Kuti yang menangkat diri sendiri sebagai raja tidak mengakar. Tidak mendapat simpati rakyat, justru malah sebaliknya.

Beberapa hari kemarin seorang kawan kehilangan sepeda motornya persis di depan rumah kosnya. Okelah, motor hilang. Setelah urus sana-sini, akhirnya asuransi berhasil mengganti penuh seharga motor tersebut. Namun ada hal yang cukup mengganggu, yaitu: sang kawan mesti mengeluarkan uang sebesar Rp1,5 juta pada pihak kepolisian.

Aku masih tidak mengerti: legalitas apa yang dipakai pihak kepolisian untuk mengutip “upeti” sebesar satu juta lima ratus ribu perak pada masyarakat yang kebetulan terkena musibah kehilangan kendaraannya. Bukankah mestinya sebagai “punggawa kerajaan”, mereka membantu kawula negerinya yang sedang tertimpa musibah. Aku tahu hal ini sangat jamak didengar dan terjadi. Lantas apakah kalau sudah jadi kebiasaan lantas kita mesti mahfum begitu terus? Kalau demikian adanya, kita sebagai kawula negeri pun memiliki kontribusi menjadikan negeri ini sebagai negeri perampok.

Aku tahu, dana operasional bagi punggawa kerjaan memang tak pernah mencukupi untuk menjaga negeri ini. Itu kenapa premanisme, tempat perjudian, serta tempat maksiat lainnya masih beroperasi secara “sembunyi-sembunyi” di negeri ini. Karena dari situ jugalah biaya operasional punggawa kerajaan untuk menjaga negeri ini tertopang.

Aku memahami, tulisan ini sangat kecil kemungkinan dibaca oleh punggawa kerjaan yang berpangkat di bawah perwira, yang kerjanya nongkrongi duit di jalanan. Kalau toh pun terbaca oleh punggawa kerajaan yang berpangkat di atas perwira, memang bakal terjadi perubahan? Ini soal sistem, mentalitet, budaya, moral, juga pendidikan.

Aku pun menginsyafi, bahwa aku pun hanya bisa berseru-seru lewat tulisan. Tetapi paling tidak, mari kita mulai perubahan dari diri sendiri. Jangan sekali-kali menyogok punggawa kerajaan dalam konteks apa pun itu. Berikanlah apa yang menjadi hak, dan tunaikanlah apa yang menjadi kewajiban sebagai warga kawula negeri. Kalau kita tak memiliki cukup amunisi untuk berbuat perubahan dengan kapasitas besar, kita bisa memulai sesuatu yang kecil dari diri sendiri. Jangan pernah meremehkan diri satu orang individu sekalipun. Karena individu yang seorang diri, jika bersekutu, akan menjadi gelombang besar yang maha dahsyat kekuatannya.

Aku percaya, punggawa kerjaan yang mengayomi, melindungi, serta membantu kawulanya, akan lebih mendapat simpati, hormat, serta respek dari kawulanya. Di mata masyarakat, punggawa kerjaan yang berlaku demikian, akan lebih mendapatkan wibawa, bukan karena ditakuti oleh kawulanya, lebih dari itu: karena rasa hormat dan respek masyarakatnya. Dan kawula negeri akan memiliki rasa bangga karena menjadi bagian warga negeri Wilwatikta yang disegani.

Daniel Mahendra,
Kawula Negeri.

Anyaman Sepola:

  • Negeri Suka-suka, Negeri Kita-kita

Bandung, 24 Februari 2008, 13.36.