qm.jpgMalam ini sudah kuniatkan untuk kembali menginventaris sajak-sajakku yang berceceran di mana-mana. Di komputer, di catatan harian, di blog, di PDA, atau di rumah-rumah tanpa alamat surat. Semua kukumpulkan kembali. Ada ratusan sajak yang berhasil kukumpulkan.

Ini berhubungan dengan rencanaku memenuhi permintaan penerbit yang meminta naskah-naskahku. Ada beberapa naskah yang akan dan sedang kusiapkan. Mulai dari kumpulan sajak, kumpulan cerpen, novel, esai, serta beberapa artikel. Namun kudahulukan dari yang termudah dulu.

Kenapa sajak kuanggap yang termudah? Telah kuinsyafi, ternyata karyaku terbanyak berupa sajak ketimbang tulisan lainnya. Ada ratusan sajak yang sudah terkumpul. Yang tak terkumpul, apa boleh buat. Mereka kuanggap anak rohani yang hilang. Suatu saat berangkali akan datang kembali.

Nyatanya memang sajak karyaku yang paling sering dan paling banyak dimuat di media ketimbang cerpen atau artikel. Adalah sajak pula bentuk karya sastra yang pertama kali berhasil menembus media-media besar ketimbang genre tulisan lainnya. Dan memang sajak karya yang paling kerap kubacakan ketimbang karya lainnya di pagelaran-pagelaran.

Entah ada apa dengan sajak. Padahal tak pernah terniatkan pada diriku untuk menjadi penyair. Aku tak ingin menjadi penyair. Aku lebih suka menjadi prosais ketimbang penyair. Ironisnya, justru sajak-sajaklah yang paling kerap menggelumbang ketimbang prosaku. Heran!Memang, dibanding genre sastra lainnya, aku paling cepat membuat sajak. Sehari bisa dua, lima, sampai sepuluh sajak. Kalau setiap hari membikin sajak, bisa ribuan sajak yang terhasilkan dalam setahun. Tapi, bisakah kita memaksa diri kita seproduktif itu?

Nah, kumpulan sajakku kali ini hendak kuberi judul Malam Sepenggal Bulan. Entah kenapa, tiba-tiba saja terlintas kalimat itu. Setelah kucoba chek sana-sini, rasanya kalimat itu belum pernah ada yang menggunakan. Mudah-mudahan aku tak salah. Dan aku rasa kalimat itu betul-betul terbit meluncur murni dari kepalaku. Mudah-mudahan aku tak terpengaruh oleh siapapun.

Sebagai permulaan, kuseru-seru saja judul itu sebagai rencana judul kumpulan sajakku. Mumpung ada penerbit yang minta duluan. Mumpung Kus sudah nagih naskah-naskahku dan berjanji me-layout seluruh naskahku yang akan kukirimkan pada penerbit. Mengirim naskah pada penerbit dalam bentuk telah di-layout kan seru juga. Penerbit tau beres. Urusan cover, terserah penerbit sajalah. Toh si penerbit memang sudah mewanti-wanti, untuk urusan cover, biar penerbit yang menangani. Ya akur kalau begitu.

Lantas, bagaimana bentuk malam yang hanya sepenggal bulan itu? Entahlah…

Daniel Mahendra,
Pencinta Malam.

Bandung, 26 Februari 2008, 01.07 wib

Sumber foto.