Andai Kalian Jadi Penguasa
Fidel Castro mengundurkan diri sebagai presiden setelah 49 tahun berkuasa di Kuba. Raul Castro, adiknya, pun ditabalkan sebagai presiden menggantikan kakaknya. Kini siapa lagi pemimpin terlama di dunia? Secara iseng dan berkelakar, kutanya kawan-kawanku: apa yang akan mereka lakukan andai mereka jadi penguasa Indonesia. Huah! Obrolan apa pula ini.
Kawanku H. kami khawatirkan akan melanggengkan budaya poligami jika ia terpilih jadi presiden. Tapi ia punya pertahanan: “Saat itu terjadi, poligami sudah menjadi hal yang lumrah dan mendapat legitimasi secara umum.” Sialan! Tawa pun meledak.
Kawan J. berkata, “Aku akan sejahterakan Indonesia dalam tempo sepuluh tahun!” Kami semua pun terbelalak. Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar untuk memperbaiki keadaan Indonesia seperti saat ini. “Bisa,” tukasnya yakin. “asal segala omonganku dijadikan hukum!” Gila! Bakal lahir diktator baru kalau seperti itu polanya. Belum-belum ia sudah ingin menjadikan omongannya sebagai kekuatan hukum. Apa dia keturunan dewa? Orang yang tidak dia sukai bisa ia gantung di tengah alun-alun hanya karena ia tidak suka secara subyektif.
Kawan B. sudah mulai menempatkan kawan-kawannya sebagai menteri, sesuai dengan latar belakang pendidikan serta pekerjaannya saat ini. Waduh, ini sama saja dengan koncoisme, eh? “Tidak,” tangkisnya. “aku kan tau betul kemampuan mereka.” Walah, setiap penguasa yang terpilih pun bisa punya alasan yang sama benar kalau polanya seperti itu.
Kawan M. ingin merubah konsep republik menjadi monarki, dengan tetap melibatkan parlementer. “Aku ingin jadi raja!” selorohnya bangga. “Raja singa?!” teriak kami serempak. Huahaha!!
Kawan H. di 100 hari masa pemerintahannya hendak menyelenggarakan sayembara. “Sayembara?! Sayembara apa?” tanya kami berbarengen. “Ya,” sambungnya pasti. “sayembara untuk memilih calon ibu negara. Kan saat aku terpilih, aku belum menikah.” tawanya meledak. Sableng!
“Tapi syarat pertama dari sayembara itu mesti disebutkan bahwa peminat sayembara tersebut harus perempuan.” usulku.
“Lho, ya iyalah! Nggak perlu disebutkan lagi atuh.” timpal si H.
“Lho, harus. Karena di usiamu saat jadi presiden, rakyat bertanya-tanya: kok umur segitu belum nikah ya. Jangan-jangan……”
Hahaha!! tawa kami pun kembali pecah.
“Hayah! Kamu sendiri, bakal gimana kalau terpilih jadi presiden?” tetak H. padaku.
“Aku? Oh, tidak. Aku takkan jadi presiden.”
“Lho, kenapa? Kok curang? Kami semua menyebutkan alasan-alasan kami. Kok kamu enggak?”
“Aku kan yang ngarang cerita ini. Kalian hanya memerankan tokoh-tokoh yang kukarang. Jadi, mau jadi presiden atau jadi raja, semua tunduk pada alur ceritaku. Hahaha!!”
“Sialan! Dasar penganyam kata!!”
Maka seperti inilah anyaman kelakar itu kurawi
Daniel Mahendra,
Pemandu Sorak.
Bandung, 26 Februari 2008, 18.13 wib.


hmmm….klo aku jadi presiden….daripada pejabat miting sana sini ga puguh lagu yg katanya buat kesejahteraan rakyat mendingan uang yg segana-gana itu aku bikinin pabrik tempe di seluruh pelosok indonesia..kan enak tuh kemana2 pasti ada sambel tempe penyet hehe
kawan H ?….apakah itu Haniel Hahendra ?….
ooouw ini andai-andai dari seorang penganyam kata toh …. ehmmm urutan pertama poligami, keinginan terpendam rupanya ? kekekekekekek ;))
@ windy: Hihihi, dasar bandar tempe!
@ Cak Ri: Lho, inisial nama beneran itu, Cak…
@ levi: Lho, bukan cerita fitif itu… Kawan H. itu memang dari golongan yang sangat-sangat mendukung poligami. Ya kan H.? Hihihi!