Jalinan Pilinan Persahabatan
Satu yang aku syukuri dari pekerjaanku adalah aku mengerjakan apa yang aku sukai. Aku tahu, ada begitu banyak orang yang bekerja tanpa pertautan hati di dalamnya. Mereka bekerja karena mereka memang mesti bekerja. Tapi bukankah seperti hidup: perjuangan, eh? Maka aku bersyukur sungguh bahwa pekerjaanku terdukung jalinan pilinan persahabatan (aku menyebutnya begitu) yang satu sama lain saling bertautan.
Aku ingat, dulu ketika kali pertama mendirikan penerbit dan toko buku, aku pun sangat terbantu dengan apa yang kusebut jalinan pilinan tersebut. Sehingga aku memunyai rumus: untuk membuat sebuah usaha, modal materi hanyalah syarat nomor 13. Semua bisa kalau kita mau.
Kemarin ini, untuk tema naskah buku tertentu aku mesti memutar otak: siapa penulis yang betul menguasai tema naskah tersebut. Seorang kawan yang istrinya bekerja di sebuah penerbit besar menyodorkan sebuah nama. Dan nama yang disodorkannya itu merekomendasikan sebuah nama lagi. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku?
“Oya? Kenal?”
“Iya.”
Tapi kukontak juga kawanku itu. Dan kawanku yang kukontak itu merasa tak begitu menguasai atas tema yang kuajukan. Tapi ia merekomendasikan sebuah nama lain. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku juga?





