Archive for February, 2008

Jalinan Pilinan Persahabatan

Satu yang aku syukuri dari pekerjaanku adalah aku mengerjakan apa yang aku sukai. Aku tahu, ada begitu banyak orang yang bekerja tanpa pertautan hati di dalamnya. Mereka bekerja karena mereka memang mesti bekerja. Tapi bukankah seperti hidup: perjuangan, eh? Maka aku bersyukur sungguh bahwa pekerjaanku terdukung jalinan pilinan persahabatan (aku menyebutnya begitu) yang satu sama lain saling bertautan.

Aku ingat, dulu ketika kali pertama mendirikan penerbit dan toko buku, aku pun sangat terbantu dengan apa yang kusebut jalinan pilinan tersebut. Sehingga aku memunyai rumus: untuk membuat sebuah usaha, modal materi hanyalah syarat nomor 13. Semua bisa kalau kita mau.

Kemarin ini, untuk tema naskah buku tertentu aku mesti memutar otak: siapa penulis yang betul menguasai tema naskah tersebut. Seorang kawan yang istrinya bekerja di sebuah penerbit besar menyodorkan sebuah nama. Dan nama yang disodorkannya itu merekomendasikan sebuah nama lagi. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku?

“Oya? Kenal?”

“Iya.”

Tapi kukontak juga kawanku itu. Dan kawanku yang kukontak itu merasa tak begitu menguasai atas tema yang kuajukan. Tapi ia merekomendasikan sebuah nama lain. Lho, nama yang direkomendasikan itu kan kawanku juga?

Continue Reading »

Dunia Memang Sungguh Kecil!

pilinan.jpgKalian pasti pernah mengalami kejadian di mana pertalian antara satu teman dan teman lainnya, yang terkadang jauh letaknya, tanpa saling kenal di antara mereka, tapi tersumbu pada diri kita. Ketika kita menyadari pilinan hubungan tersebut, sontak kita berkata: “Dunia memang kecil!”

Ya, aku sendiri kerap kali mengalami hal seperti itu. Jalinan pertemanan yang berpiliin kembali kualami beberapa hari lalu. Ceritanya, marketingku di kantor mendapatkan kiriman contoh outline naskah dari sebuah penerbit di Jakarta. Merketing pun menyodorkan padaku untuk kupelajari. Setelah kupelajari, outline tersebut kusorongkan kembali ke marketing untuk dikembalikan ke penerbit.

Setelah marketing menerima sodoran outline itu, ia menimpaliku: “Salam dari R.”

“R.?”

“Iya, yang ngirim ini ‘kan R.”

“Ouw…”

R. adalah seorang editor yang memang bekerja di penerbit tersebut. Kami saling kenal dan beberapa kali sempat melakukan kontak. Awalnya aku malah tak mengira bahwa ternyata R. adalah adik tingkatku di kampus. Hanya saja tak sezaman.

Nah, si contoh outline yang masih terpampang di layar komputer, sebelum kututup, tanpa sengaja aku kembali membaca judul contoh outline tersebut. Tiba-tiba aku terhenyak! Baru aku ngeh. Lho, contoh outline ini kan merupakan naskah buku yang ditulis seorang kawanku, si E.!

Continue Reading »

Didin Namanya, Namanya Didin

salaman.jpgOrang selalu melihatnya di berbagai acara sastra, bincang buku, pameran, juga pagelaran-pagelaran kesenian. Tak banyak yang mengenalnya. Tapi ia selalu hadir di sana. Tak menonjol, tapi selalu ada.

Yang mengherankan, ia hampir selalu memenangkan doorprize yang digelar di berbagai acara bincang buku di Bandung. Entah punya pelet apa lelaki satu ini. Kalau sebuah toko buku menggelar acara, pasti dia yang kebagian hadiah. Aku sendiri heran. Lama-lama orang mulai mahfum dengan tampangnya. Tampang tirus berkacamata yang disanggah tubuh kurus lurusnya itu.

Maka tak aneh jika pada akhirnya orang selalu mengundangnya di setiap acara-acara seni di Kota Bandung. Karena namanya nyaris selalu tertinggal di buku tamu sebuah pagelaran. Hampir bisa dipastikan: ia ada di sana. Dan pulang selalu dengan segepok doorprice dari panita. Wah, peletnya sungguh manjur! ;)

Karena letak rumahnya dekat dengan toko bukuku, tak aneh bila ia kerap nongkrong di sana. Hanya ikut membaca. Sisanya: ngobrol soal apa saja. Yang biasanya aku kerap tak paham dengan apa yang diobrolkannya. Hehe!

Lama-lama aku jadi tertarik untuk mengajaknya menjaga stan pameran bila toko bukuku ikut sebagai peserta sebuah pameran. Dengannya, aku cukup memerikirakan buku apa saja yang sepantasnya dibawa. Ia akan dengan sigap mengepak, memboyong, serta menata sedemikian rupa di stan pameran. Aku mengajarinya pembukuan sederhana transaksi buku, penulisan nota pembelian, serta trik menggaet pembeli.

Siapa nyana, ia justru lebih lihai dari yang kukira. Di stan pameran, tak jarang kulihat ia kerap dirubung pembeli yang dengan takzim mendengarkan penuturannya atas sebuah buku yang sedang diincar para pembeli. Wow! Sempurna, batinku. Continue Reading »

Secupuk Sajak untuk Soni Farid Maulana

 

Setelah 18 Februari kemarin Nissa Cita berulang tahun. Rupanya ada pula yang berulang tahun di hari yang sama; seorang kawan kantor yang dengan sial dibanjur air seember, juga Toni Morrison, penulis Afro-Amerika peraih penghargaan Nobel Sastra 1993.

 

Nyatanya, hari ini, 19 Februari 2008 adalah ulang tahun Soni Farid Maulana. Penyair sahabatku yang berbadan tambun itu. Soni yang lahir di Tasikmalaya 19 Februari 1962 memang penulis sajak yang produktif. Nyaris setiap tahun ia mengeluarkan buku kumpulan sajak. Lewat sajak ia menyinggahi kota-kota di Indonesia, Asia, juga Eropa. Karena sajak pula ia meminang cinta pada perempuan yang kini menjadi ibu dari anak-anaknya.

 

Soni Farid Maulana yang mantan redaktur budaya “Khazanah” Harian Pikiran Rakyat, kini masih lagi wartawan. Karena kepenyairannya, beberapa kali ia dinominasikan sebagai pemenang Khatulistiwa Literary Award. Hari ini ia berulang tahun. Usianya semakin buncit, sebuncit perutnya. Tapi sajak-sajaknya tak pernah berhenti menelusuri malam dengan anyaman-anyaman cinta yang menggetarkan.

 

Nah, selamat ulang tahun, Soni. Berbahagialah atas dunia yang telah dipersembahkan padamu selama ini. Aku hanya bisa memberi sajak.

 

Dirgahayu!

 

Daniel Mahendra,

Penyayang Sahabat

 

Anyaman Sepola:

Continue Reading »

Suatu Hari Bersama Nissa Cita

nissa-cita-a.jpg

Aku lupa, foto di atas diambil tahun berapa. Mungkin 2005. Atau 2006? Rasanya 2006. Ya, sepertinya memang 2006. Tapi mau 2005 atau 2006, yang pasti foto itu diambil di ladang rumah Pramoedya Ananta Toer di Bojonggede, Bogor. Almarhum Pram duduk paling kiri, di tengah sahabatku Nissa Cita, dan aku sendiri paling kanan.

Seperti biasa, kalau sore hari Pram kerap duduk-duduk di ladang, membakar sampah sembari menyulut rokok. Aku paling doyan kalau sudah menemani Pram nongkrong membakar sampah di ladang. Secara bergantian aku menuangkan minyak tanah, dan Pram menyulut gundukan sampah. Atau sebaliknya. Setelah itu, kita duduk berdua di bangku beton itu, menyulut rokok, kadang ditemani segelas kopi, serta menikmati jilatan api yang mulai berkobar.

Kalau api sudah berkobar, wajah Pram tampak bergairah. Tulang pipinya mengeras. Tapi matanya selalu murung. Aku kerap mencuri-curi pandang ke matanya. Hendak menyelami apa yang ia rasakan dari kobaran api yang menyulut sampah itu. Selalu seperti itu.

Hari ini 18 Februari 2008. Tiba-tiba alarm handphone-ku berdering: mengabarkan kalau Nissa Cita ulang tahun. Ah, usia sahabatku itu mulai berkurang dari jatah kuota yang telah direncanakan Tuhan rupanya. Ya, karena alarm itu, tiba-tiba aku jadi ingat Nissa Cita.

Continue Reading »

Berbicara dengan Bahasa Rasa

Kita pasti sering mendengar seseorang, entah teman kita, rekan kerja, klien perusahaan, atau siapalah itu, yang jika berbicara terlampau kerap menyelipkan bahasa asing di antara Bahasa Indonesia yang ia gunakan. Entah itu Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, Bahasa Arab, Bahasa Prancis, atau bahasa asing lainnya.

Jamak sekali kita mendengar kata seperti well, I think, you, I don’t think so, no problem, anytime, sometime, atau banyak lagi kosakata lainnya yang terselip di antara Bahasa Indonesia yang ia gunakan. Ada juga yang selalu menyelipkan kata dus di sela-sela kalimatnya. Barangkali menurut si penutur, biar komunikasi lebih simple. Ada juga yang merasa dengan menyelipkan kosakata asing macam itu, pembicaraan jadi terkesan keren. Tapi ironisnya, ada yang dengan cara itu justru jadi terlihat norak.

bicara-bicara-bicara.jpg

Barangkali sah-sah saja orang berlaku seperti itu. Lha memang hak seseorang kok. Ya kan? Akunya saja yang (kurang kerjaan) terlalu mempersoalkan cara orang berbahasa saat bicara. Sehingga secara subyektif aku menilainya sebagai orang yang tidak betul-betul menguasai bahasa apapun. Karena dia merasa dengan bahasa pertama dianggap tak cukup mewakili apa yang hendak ia sampaikan. Maka digunakanlah bahasa kedua sebagai pelengkap berbicara.

Memang, tak ada bahasa yang mampu berdiri sendiri secara mandiri. Karena bahasa terus berkembang, dan rumpun bahasa saling bertautan satu sama lain. Tapi penggunaan bahasa secara mix begitu, kesannya jadi menggelikan.

Daniel Mahendra,
Pemerhati Tutur Seseorang.

Anyaman Sepola:

Continue Reading »

« Previous PageNext Page »