Fitna, Soal Tidak Mengenal

Ramai sana-sini soal film Fitna karya politikus Belanda, Geert Wilders, pemimpin Party of Freedom Belanda, akhirnya menghantarkanku untuk melongok seperti apa sih isi filmnya.
Seperti ramai diberitakan, film yang kali pertama dirilis di internet pada 27 Maret 2008 di situs video Liveleak (saat ini sudah ditutup) itu awalnya diupayakan untuk ditayangkan di televisi Belanda. Namun karena berbagai hal (dapat dibaca di wikipedia), internetlah media yang dipilih sebagai tempat penayangan.
Setelah melihat filmnya di youtube (cari sendiri saja. Aku tak ingin menuliskan link-nya di sini), juga setelah melihat tayangan-tayangan wawancara Geert Wilders (juga di youtube), aku merasa biasa saja. Tak ada sesuatu yang membuatku terhenyak, karena satu pertimbangan: orang yang membuat tidak begitu paham dengan apa yang sedang ia sodorkan.
Menurutku, ia tidak melihat sesuatu secara holistik. Ia melihat dari sisi-sisi yang dicomot dari bagian yang tak utuh. Bagaimana kita bisa menyimpulkan sesuatu dari hal yang tak menyeluruh?
Propagana, pelecehan, penghujatan, pendiskreditan terhadap suatu agama bukanlah hal baru. Tidak saja terjadi di abad ini atau satu abad sebelumnya. Hal tersebut memang akan tetap terus terjadi.
Aku tidak sedang membela Geert Wilders atau filmnya itu. Ini soal tidak mengenal akan suatu hal.
Bandung, 30 Maret 2008.
Anyam Sepola:





