es-01.jpg

Tiba-tiba saja suara gemeretak itu tumpah dari langit ketika bongkahan serta kerikil es menimpa apa saja yang dapat dijumpai di bumi Bandung.

Mula-mula hujan angin, lantas kerikil-kerikil es berkejaran terjun ke bumi, lalu tenang sejenak. Tapi tiba-tiba angin makin kencang. Hujan tak lagi berupa air, melainkan ratusan ribu daun yang tanggal tercerabut dari induknya.

Daun beterbangan tanpa tujuan. Jarak pandang makin buram. Makin lama makin tak jelas. Nyaris semua kendaraan yang melintas menepi ke sisi jalan. Kemudian bongkahan-bongkahan es kembali berkejaran menuju bumi. Kali ini ukurannya tak lagi sebatas kerikil.

Apa ini namanya? Mana aku tau. Aku belum pernah melihat hal semacam ini. Aku malah asyik memandangi badai es yang sedang berkecamuk di teras depan kantor.

Tiba-tiba,

es-02.jpg

Fahri si ilustrator mengejarku ke depan: “Air tumpah ke gudang buku!”

Dari teras sontak aku lari ke gudang buku. Gila! Gudang yang berisi ribuan buku kena hajar habis. Tumpukan daun yang tanggal menyumbat lubang talang saluran air. Yang terjadi, air yang tak mau arahnya dibendung, mendesak mencari arah lain: gudang!

Air tak hanya membocori tapi sudah tumpah dengan derasnya. Gudang jadi korban. Air menari-nari di seluruh ruangan beralas karpet biru itu. Bagian bawah puluhan dus berisi ribuan buku sudah mulai tergenang oleh air yang terus meluap. Sementara di luar hujan es masih terus membadai.

Aku berteriak pada satpam dan supir. “Matikan listrik pusat! Selamatkan dus-dus!” Sontak aku menelpon orang-orang sebisanya.

Acara minggu ini: menikmati badai es dan angkut-angkut dus buku. Aih…

Bandung, 30 Maret 2008, 15.00.

Anyaman Sepola:

es-03.jpges-04.jpges-05.jpg

Awalnya hujan biasa. Lalu hujan angin. Lantas kerikil es berjatuhan.

es-06.jpges-07.jpges-08.jpg

Jarak pandang makin buram. Hujan es membadai.

es-09.jpges-10.jpges-11.jpg

Badai es pun menjinak. Sisa-sisa es di teras depan dan di pompa air belakang.

es-12.jpges-13.jpges-14.jpg

Sisa es di taman belakang dan teras atas.