Bagaimana Penulis Menemukan Jodohnya
Ada banyak beasiswa pendidikan bertebaran di dunia ini. Yang berminat pun tak sedikit. Tapi terkadang tak semua peminat itu bertemu dengan jalur beasiswa yang ditebarkan. Sebagian orang mengatakan: itu jodoh.
Ada banyak penerbit di Indonesia yang setiap tahun menerbitkan puluhan hingga ratusan judul buku. Yang berminat menjadi penulis pun tak sedikit. Namun terkadang dari yang tak sedikit itu tak semua berjumpa pada titik temu.
Tak sedikit penulis yang mengirimkan naskahnya ke berbagai penerbit. Menunggu kemungkinan, masuk tahap seleksi naskah, serta menunggu jawaban. Kalau layak terbit, masih perlu masuk waiting list jadwal terbit.
Sementara itu penerbit yang berburu penulis pun tak kalah banyaknya. Mereka mencari naskah untuk diterbitkan. Satu pihak mencari penerbit, pihak lain mencari penulis. Tapi dalam perjalanannya tak melulu mulus seperti yang diharapkan, yang acapkali disebut: “Di situlah sebuah proses berjalan”. Kalau kedua belah pihak ini berjumpa pada titik temu, kata orang di situlah jodohnya.
Ada penulis yang setengah mati menyodor-nyodorkan naskah ke berbagai penerbit. Memang ada penerbit yang memberikan jawaban: ditolak, dipertimbangkan, atau layak untuk diterbitkan. Tapi sisanya malah tak memberikan kabar apa-apa.
Ada penerbit yang kelimpungan setengah mati mencari naskah-naskah layak terbit karena naskah yang masuk ke meja redaksi dianggap memprihatinkan. Malah tak sedikit seorang editor mesti memoles naskah buruk menjadi naskah ciamik layak terbit hanya karena menemukan tema menarik dari segi ide pada naskah yang dinilai biasa-biasa itu.
Ya, keinginan tak selamanya berbanding lurus dengan kenyataan! Tapi minat orang untuk menjadi penulis, seperti halnya usaha penerbit untuk terus menerbitkan buku-buku, tak pernah surut. Bahkan memang tak perlu lantas menjadi surut.
Tak sedikit kawan yang mengirimkankan naskahnya kepadaku untuk ditawarkan ke penerbit. Di sisi lain, tak sedikit pula penerbit yang memintaku dicarikan naskah yang siap terbit. Ada yang berupa pesanan, namun ada pula yang membebaskan penulis menulis sesuai dengan keinginannya sendiri. Baik itu beli putus atau menggunakan sistem royalti.
Harus kuakui, ada kenikmatan serta kebahagiaan tersendiri bisa mempertemukan dua pihak yang dapat melumut satu di muara. Lebih membahagiakan lagi jika penulis-penulis itu makin terbuka jaringannya, baik penerbitan maupun penulisan.
Ketika Adenita mengontak untuk bertemu sembari bincang-bincang mengenai rencana penulisan novelnya, kami pun duduk bertiga bersama Deasy sembari menyantap steak di suatu di suatu siang yang nyaman.
Adenita yang (mantan) penyiar radio itu lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi Unpad. Sempat mampir jadi reporter di (tv kabel) Astro, dan kini menulis novel. Sementara Deasy di TI ITB (S2-nya apa, Ci? Lupa aku).
Setelah beres S2, Deasy kini mendirikan sebuah perusahaan IT di Bandung. Sementara Adenita, sembari bekerja sebagai reporter di Jakarta, kerap pula menjadi MC di berbagai acara literasi.
Suatu hari, di sebuah acara bedah buku di Jakarta, ia bertemu dengan seorang penulis, dan bercerita sedang merawi sebuah novel. Tapi masih belum lagi tahu bakal penerbit mana yang hendak ia sodorkan naskah.
Siapa nyana, beberapa hari kemudian, Mas B., editor Penerbit G., sebuah penerbit besar di Jakarta, mengontaknya. Setelah bincang-bincang sejenak, Adenita diminta datang ke kantor Penerbit G. oleh Mas B. untuk membicarakan lebih lanjut tentang novelnya.
“Aku diminta nyelesein sisa penulisan novel itu selama dua minggu. Udah gitu ketemu di kantor.” aku Adenita.
“Sudah ada kontak sebelumnya?” tanyaku.
“Belum. Justru itu pertama kali Mas B. ngontak aku. Dia mau lihat novelku.” ucap Adenita girang.
Dari pembicaran itu dapat kunilai, “jodoh” bisa bertemu dengan berbagai cara. Siapa nyana: Adenita yang baru pertama kali menulis novel, belum tahu bakal penerbit mana yang mau menerbitkan naskahnya itu, justru dikontak sang editor untuk datang bertemu, serta membicarakan novel yang, bahkan, belum lagi ia selesaikan. Malah dengan sang editor pun ia belum pernah bertemu.
Namun, di situlah proses sebuah usaha berlangsung. Ada banyak penulis yang mencari penerbit, ada banyak penerbit yang mencari naskah. Ada titik di mana keduanya bisa saling bertemu dengan cara yang tak pernah disangka-sangka sama sekali. Namun intinya tetap: jangan pernah menyerah!
Sukses buat novelnya ya, De…
Bandung, 19 April 2008, 16.46 wib.


jodoh akan lebih mudah bertemu jika usaha mas, karena usaha itu hakikatnya adalah sebuah doa
Dan di situlah sebuah usaha ditimbang-timbang kadar kualitasnya…
Selamat sore,
Salam kenal…kami dari SerbaBuku.com ingin menawarkan
kerjasama dalam hal pemasangan serta pertukaran link.
Silahkan bertukar link dengan menggunakan link di bawah ini:
http://serbabuku.com/index.php?option=com_linx&task=add_link&Itemid=35
Demikian informasi dari kami, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.
Salam,
Diana
SerbaBuku.com
ya ampuun mas Daniel.. aku nggak sengaja mampir kesini, itu aku ya yang diceritain? hiks.. terharu! =)
Terima kasih udah menjadikan ceritaku ada di situsmu, hehehe lumayan buat publisitas, ahhahaha =D
Buat doanya juga, maturnuwun ya Pak’Cik..=)sukse buat editor dan penulis handal kita ini ..=) =)
-Salam-
Kalau jodoh mang ga lari ke mana yaa, kalau ga jodoh kayanya biar diuber kaya gimana juga susah ketemunya, ahahaha
*masalahnya tinggal gimana bedain antara yang harus maju terus pantang nyerah sama yang harus banting setir nyari jodoh di tempat lain*
Indahs last blog post..Virgo in Words