Mengapa Banyak Penulis Melakukan Poligami
Poligami memang sah menurut syariat Islam. Tentu dengan ketentuan-ketentuan yang mengikuti sebagai syarat. Tak terkecuali siapa pun orangnya, apa pun profesinya.
Di Indonesia, tidaklah aneh bila menjumpai data bahwa sebagian besar penulis melakukan poligami. Persoalannya bukan pada poligaminya, melainkan mengapa kebanyakan penulis mesti melakukan poligami.
Memang ada penulis-penulis yang tetap memegang prinsip monogini. Ia tetap percaya dengan bermonogami, ia tetap bisa eksis sebagai penulis. Tapi penulis yang berpoligami? Ini adalah kenyataan.
Tak dapat disangkal, sebagian besar penulis adalah juga dosen, wartawan, pegawai negeri, arsitek, dokter, ustadz, sutradara, editor, politikus, penyanyi, pegiat seni, atau seabrek profesi lainnya.
Sedikit sekali seorang penulis yang betul-betul mentasbihkan dirinya hanya sebagai seorang penulis thok. Kalau toh pun ada, dapat dihitung dengan jumlah kancing kemeja. Dan sebanyak-banyaknya kancing kemeja, tetap tak banyak.
Apakah profesi penulis belum bisa dijadikan andalan hidup di Indonesia? Sehingga para penulis masih mesti bekerja pada profesi lain? Apakah honor seorang penulis belum bisa mencukupi kebutuhan hidup seseorang?
Berapakah honor sebuah tulisan yang dikirimkan ke media massa? Entah itu cerpen, artikel, esai, sajak, atau resensi. Tentu tergantung medianya juga. Sebuah cerpen yang dimuat di media massa memang bisa seharga Rp100 ribu hingga Rp750 ribu. Sebuah artikel bisa mencapai Rp250 ribu sampai Rp1 juta.
Ada berapa media yang memuat tulisan-tulisan semacam itu? Tentu banyak sekali. Dan setiap minggu terbuka kesempatan untuk dapat mengirimkan naskah ke berbagai media. Tapi jumlah penulis pun tak sedikit.
Berapa honor seorang penulis buku? Kalau naskah seorang penulis dibeli putus oleh penerbit, harganya bisa sekitar Rp1 juta, Rp5 juta, Rp10 juta, hingga puluhan bahkan ratusan juta. Tergantung bargaining seorang penulis dengan pihak penerbit juga.
Bagaimana dengan sistem royalti? Jika menggunakan angka standard, seorang penulis berhak mendapatkan 10% dari harga jual buku. Kalau sebuah buku dijual Rp30 ribu, berarti si penulis berhak mendapatkan Rp3 ribu dari setiap buku yang terjual. Tinggal kalikan saja berapa eksemplar buku tersebut dicetak (dan dicetak ulang).
Kalau buku itu dicetak 3000 eksemplar, berarti si penulis berhak mendapatkan (Rp3.000 x 3000 eks) Rp9 juta. Nah, persoalannya: angka Rp9 juta itu didapat berapa lama? 3 bulan? 6 bulan? 1 tahun? Atau tidak jelas?
Memang tak menutup kemungkinan seorang penulis mendapatkan royalti di atas 10%. Dan bukunya dicetak berulang-ulang. Sehingga royalti yang ia dapatkan mencapai puluhan hingga ratusan juta. Belum lagi jika diadaptasi ke layar kaca atau layar lebar. Angkanya bisa melambung lipat kali harga royalti buku. Tapi berapa banyak yang bisa demikian?
Sehingga, itu mengapa tak aneh bila penulis memang masih berpoligami dengan pekerjaan lain. Bahwa dari menulis ia mendapatkan uang, tak dapat dipungkiri. Tapi ketika mesti menggantungkan hidup semata dari honor menulis, hanya sedikit yang berani melakukan itu.
Tetapi yang sedikit itu pun memang tetap ada. Dan mereka bisa dikategorikan orang-orang pemberani. Dan karena keberaniannya itu, umumnya mereka memang berhasil. Tetapi itu pun tak semata hanya menulis. Terkadang ia pun masih menerjemahkan naskah pesanan, mengedit naskah orderan, di samping menulis novel, artikel, atau apa pun itu. Namun semua itu tetap saja sah. Dan belum ada hukum yang mengatur poligami pada penulis.
Jadi, wahai para penulis, apakah kalian akan berpoligami atau tetap bermonogami? Ya suka-sukalah…
Bandung, 20 April 2008, 08.41 wib.


Lha Anda..? Mau poligami gimana lha wong satu aja belom ya..?
Lho, Mas, kok ke luar tema…
penganyam kata yang satu ini memang paling bisa deh membuat judul yang setidak-tidaknya membuat gw jadi gatel pingin nge-klik ….#-O dodooolllll
tergantung idealisme masing2 orang sih… kalo mas DM berkata poligami itu ideal asal bisa dibagi adil, kenapa tidak?
@ Levi:
Kena!
@Prameswari:
Kalau bisa monogami, kenapa mesti poligami…
benernya pengen monogami aja sih. cuma masih susah nih….
kecuali si “Binatang Jalang” Chairil Anwar, saya memang belum melihat siapa penulis yg benar2 monogami, menjadikan ladang menulis sebagai satu2nya garapan untuk hidup.