Pagi tadi adikku menemuiku untuk minta tolong dibuatkan tulisan. Kami memang jarang bertemu. Belum tentu seminggu sekali.  Bahkan dalam sebulan belum tentu kami dapat ngobrol santai sembari nonton DVD.

 

“Tulisan?” tanyaku.

“Ya.” rajuknya.

“Tentang?”

“Alasan kenapa memilih profesi Arsitek. Aku jadi ngambil S2 Arsitek.”

“Lho?! Hahaha!! Ya kamu dong yang lebih tau kenapa kamu ngambil Magister Arsitek. Kok aku? Aneh…” ujarku ngakak.

“Aku nggak bisa… Ayolah…”

Adikku memang hendak mendaftar di Program Studi Magister Arsitek ITB. Kalau melihat jam terbangnya, kuyakin ia bakal lebih maju.

 

Sebagai seorang arsitek, ia sering terbang ke berbagai kota, bahkan negara. Menggarap proyek ini-itu. Dari bangunan kecil, sedang, sampai proyek raksasa. Kualitas gambarnya sendiri aku tidak pernah tahu. Tapi mengetahui ia hendak melajutkan kuliah, tentu aku senang mendengarnya.

 

Namun yang tiba-tiba jadi pikiranku: kenapa tidak dia sendiri saja yang menuliskan semacam makalah singkat tentang latar belakang, tujuan dan harapan mengapa ia mengikuti Program Studi Magister Arsitek.

 

Aku yakin, tidak ada profesi di dunia ini yang sama sekali tak berhubungan dengan dunia tulis menulis. Begitu pun dengan Arsitek sekalipun. Namun barangkali memang, ada kecenderungan frame secara kolektif bahwa dunia tulis menulis hanya monopoli orang-orang yang bekerja dalam ranah penulis, wartawan, penerbitan, dan semacamnya. Padahal tidak sama sekali kan.

 

Umum mengetahui, profesi apapun itu, kalau seseorang menulis, ia memiliki tingkat prestise di atas rata-rata profesi orang kebanyakan.

 

Dosen yang menulis akan dipandang berbeda ketimbang dosen yang tidak menulis. Editor yang menulis akan dianggap lain ketimbang editor yang hanya puas mengedit semata. Jenderal yang menerbitkan buku, punya warna lain ketimbang militer yang biasa-biasa saja. Pengusaha yang menulis, punya pengejawantahan lain di luar aplikasi bidang usahanya. Dan itu semua tentu bukan semata prestise.

 

“Kapan mesti selesai?” tanyaku pada adikku.

“Malam ini bisa nggak?” rajuknya lagi.

“Berapa banyak sih?”

“Dua halaman A empat, spasi satu setengah.”

“Ya ampun. Kirain sebanyak apa. Lima belas menit juga jadi. Tapi nanti siang ya. Kukirim lewat email aja.” Adikku girang bukan kepalang.

 

Sebetulnya tak baik kalau aku memberi begitu saja tulisan itu. Itu sama sekali tidak mendidik dan tak memberi pelajaran apapun. Aku tidak suka memberi ikan. Lebih senang jika bisa memberi pancing. Karena dengan pancing, dia bisa belajar memancing untuk mendapatkan ikan. Yang lebih penting lagi: suatu saat ia bisa mengajarkan orang lain cara memancing ikan. Bukankah itu menarik?

 

Tiba-tiba aku jadi teringat tulisan Pramoedya Ananta Toer di roman Rumah Kaca:

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Bandung, 22 April 2008, 16.12 wib.