Roseline atawa Rosalina, Nama yang Cantik!
Untuk ukuran perempuan ia termasuk cantik. Meski beresam tubuh mungil, ia tampak selalu menarik. Mungkin ia pandai bersolek. Kalau menatap, matanya terasa tajam, tapi wajahnya selalu segar memesona. Rambutnya ikal dan bibirnya merah kesumba. Kalau berjalan, ujung-ujung rambutnya akan menari-nari genit seperti penari pendet yang gemulai.
Roseline atawa Rosalina. Ia seorang sarjana Ilmu Politik. 34 tahun dan belum lagi menikah. “Kau tak tertarik menikah, Rose?” begitu kawan-kawannya selalu bertanya. “Bukan urusanmu!” cepat Roseline menjawab.
Baleno merah tahun 98 selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Entah itu siaran radio, atau ke kantor sebuah organiasi perempuan. Ya, ia memang seorang aktivis perempuan yang kerap mengurusi advokasi persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perempuan. Entah itu kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, ataupun perkosaan.
Roseline atawa Rosalina. Di suatu sore yang tenang ia menelponku. “Bisa kita ketemu?” isaknya.
Lho-lho-lho, ada apa dengan Roseline…
Selapas maghrib kupacu mobilku. Menuju sebuah kafe yang jauh dari keramaian. Sebuah tempat yang ia minta. Di parkiran kulihat Baleno setianya. Berarti ia sudah lebih dulu datang. Aku langsung ngeloyor ke pelataran kafe.
Di kejauhan, di kursi yang memojok, kulihat ia melambaikan tangan. Aku menuju arahnya. Saling melempar senyum dan menyentuhkan kedua pipi kami.
“Thank’s mau datang,” ucapnya bergetar.
Aku mengernyitkan dahi, “Nggak soal.”
Lantas diam.
Ia menyulut rokok. Aku pun menyulut rokok. Seorang perempuan dua puluhan mendekat menyodorkan menu. Aku meminta Ice Coffe Late. Ia menambah kentang goreng.
“Mau?”
“Gorengan.” jawabku menggelengkan kepala.
“Kenapa?”
“Minyak.” ujarku tertawa.
“Hayah!”
Dan kami pun kembali merokok.
Saling diam dan hanya bertatapan mata. Aku senyum-senyum saja melihat tingkahnya, bahasa tubuh, dan bibirnya yang kesumba itu mengepul-ngepulkan asap.
Ice Coffe Late datang. Ia tak menyentuh kentang gorengnya. Aku membiarkan dirinya merasa nyaman. Tak perlu aku yang memulai. Aku tau arti pertemuan ini.
“Sedang sibuk?” tanyanya basi-basi.
Aku hanya tertawa. Tiap hari kita chating di YM. Sekadar say hello, berdiskusi soal gender, atau tidak saling menyapa sama sekali, meski sama-sama online. Jadi pertanyaan ’sibuk’ sangatlah basa-basi. Sekadar pelarian.
Untuk kesekian kalinya ia menghela nafas. Kembali ia mengepulkan asap rokok putihnya. Ada danau bening di ujung matanya. Ia tampak sembab karena terlalu banyak menangis pikirku.
Kulihat jemarinya gemetar tak mau diam. Makin lama makin kencang. Tiba-tiba ia terisak. Rokok putihnya jatuh ke lantai. Pipinya mulai diseberangi air mata yang menggerimis.
Ia menelungkupkan kepala ke meja. Ia bersembunyi di kedua belah tangannya.
“Ca…” aku menyentuh bahunya.
Bahunya makin bergetar. Sebaiknya kubiarkan dulu ia menumpahkan segala apa yang ia rasakan entah untuk kali keberapa.
Ia mulai menengadah. Mengusap bekas gerimis di pipi dan matanya. Ia memandangku. Gulana.
“Kau mau cerita?” hati-hati aku bertanya.
Kembali ia menghembuskan nafas. Aku mematikan rokokku. Ia sudah hendak mencomot batang rokok baru. Aku mengambilnya sembari menggelengkan kepala. “Kamu pasti sudah terlalu banyak merokok hari ini.” ia tak menampik.
“Kalau kamu butuh tempat cerita, ceritalah. Tapi kalau enggak pun, nggak pa-pa, aku akan menemani kamu.”
Ia mulai mengatur nafasnya. “Dan… ” lirihnya pelan.
“Yah?”
“Kamu tau kegiatanku kan?”
“Tentu saja.”
“Aktivitasku?”
“Nggak perlu kamu tanyakan lagi.”
“Paradigma berpikirku? Yang kuperjuangkan? Yang kubela selama ini?”
Nadanya kurasakan mulai naik. “Tentu, Ca… Kenapa kamu tanyakan itu…”
“Apa artinya semua yang telah kulakukan terhadap pembelaan atas perempuan…”
“Maksudmu?”
“Aku yang selalu menggembar-gemborkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual dan pemerkosaan… Aku yang selalu berseru-seru terhadap korban perkosaan untuk berani membela dirinya sebagai korban… Aku yang selalu berbicara di acara-acara diskusi soal perempuan… Untuk apa semua itu, Dan…”
Aku mengernyitkan dahi, “Tentu saja untuk membela kaummu dan mempertahankan martabat manusia.”
“Kini percuma saja semua itu, Dan…”
“Hei-hei-hei… Kamu ini bicara apa? Kamu ini aktivis perempuan. Kamu yang selama ini kukenal tegar dan keras dalam memperjuangkan itu semua, kenapa bicara seperti itu…”
Kulihat matanya kembali berkaca-kaca. Kutebak tak sampai hitungan lima, awan di matanya itu bakal kembali menggerimisi pipinya dengan rinai.
Kembali aku menyentuh bahunya. “Ca…” ucapku tidak bermaksud memanggil.
Dengan terisak-isak ia menengadah, “Dan…”
“Ya, Ca…”
Suaranya tersendat-sendat, “Aku diperkosa Iwan…”
Hah?!!!
Ia menangis sejadinya. Kali ini bukan lagi germis yang merinai, tapi sudah hujan badai yang menggemuruh disertai petir menyambar-nyambar menggelegar.
Betulkah yang kudengar ini? Roseline diperkosa kekasihnya sendiri? Aku masih belum percaya dengan apa yang kudengar tadi.
Angin berkesiur. Roseline masih bergemuruh dengan tangisnya.
“Peluk aku, Dan…” isaknya mendekat. Dan aku memeluknya. Menggenggam tangannya dan membiarkan tangisnya membadai di dadaku.
Masih juga aku belum percaya bahwa Roseline sahabatku yang aktivis perempuan ini diperkosa oleh kekasihnya sendiri. Sableng! Gila! Sinting! umpatku dalam hati.
Setelah beberapa lama, tangisnya mulai mereda. Pelukannya mulai mengendur. Kusorongkan tubuhnya untuk menyandar di kursi. Aku duduk di sisinya.
“Betul yang kudengar ini, Ca?” ia mengangguk tersendat-sendat. Ya Tuhan… batinku dalam hati.
“Kamu mau cerita? Kapan kejadiannya?”
“K-e-m-a-r-i-n m-a-l-a-m…” ucapnya masih terisak.
“Di mana?”
“D-i k-a-m-a-r-k-u…”
Brengsek! kembali aku mengumpat dalam hati. Ada nada geram mulai menjalari pikiranku.
“Bagaimana kejadiannya?”
“Dia tetap terus saja meminta seperti selama ini. Sudah ribuan kali kubilang n-g-g-a-k. Tapi dia tetap terus meminta. Sampai akhirnya tadi malam, dia menyeretku ke kamar, dengan kasar dia menyorongku ke tempat tidur. Dengan sekuat tenaga aku meronta. Tapi kurasa dia mulai kalap. Aku seperti nggak mengenal siapa laki-laki yang kukenal selama ini.
Setelah itu aku nggak ingat apa-apa. Aku baru sadar waktu bangun dalam keadaan telanjang. Kepalaku pusing, kamar gelap, dan perih di kemaluanku. Dengan tertatih aku bangun sambil menyadari apa yang sedang menimpaku. Dia sudah tidak ada di rumah.”
Mataku mulai memicing. Tergambar wajah Iwan kekasih Roseline sahabatku ini. Lantas kupejamkan mata. Mengatur nafas sembari berpikir apa sebaiknya yang mesti dilakukan.
“Lantas bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Sudah mendingan. Tapi menyadari bahwa aku diperkosa pacarku sendiri, itu yang masih belum bisa kupercaya.”
“Kamu sempat menghubungi dia?”
“Handphone-nya mati. Aku masih bingung, berpikir, mesti berbuat apa…”
“Tapi ini perkosaan, Oca.”
“Tapi dia pacarku.”
“Dia sudah bukan pacarmu lagi!”
“Tapi saat itu dia pacarku…”
“Tetap saja perkosaan!”
“Aku bingung…”
“Nggak mungkin kamu diam saja. Ini mesti jadi kasus.”
“Aku bingung…”
“Kamu nggak sendirian. Kuyakin teman-temanmu nggak akan tinggal diam. Sudah ada yang kamu ceritakan?”
“Baru kamu…”
“Sudah mengontak keluargamu?”
“Nggak mungkin, Dan. Aku masih bingung.”
“Ini mesti jadi kasus!”
“Tapi, Dan,”
“Nggak! Aku nggak bakal diam aja!”
“Tapi,”
“Nggak bisa! Mesti berlanjut ini!”
“Tapi dengar dulu…”
“Apa lagi?”
“Tapi gimana dengan aktingku?” tanyanya sembari menghilangkan wajah nelangsanya. Aku mulai curiga. “Aku sedang ikut casting pementasan teater untuk peran perempuan yang diperkosa pacarnya. Gimana? Aktingku sudah bagus?” bibirnya cengar-cengir.
“Ha?!!!!” aku terbelalak.
“Oke nggak, Dan?” ia mengedipkan mata.
“Anjrit!! Jadi?!”
Ia makin cengengesan. “Keren yah? Dan ternyata kamu memang sahabatku yang paling baik.” ujarnya sembari memelukku.
“Jadi?!”
“He-eh!” kembali ia mengedipkan mata.
Tapi aku berdiri, Ice Coffe Late yang belum sempat kusentuh kuguyurkan ke kepalanya!
* * *
Bandung, 24 April 2008, 04.43 wib.


Kayaknya kisah nyata yang dibelokkan yah..? Atau bener-bener begini atau bener-bener khayalan.
Ah, Aa… kepandaianmu merangkai kata, semangkin tak keruan bagusnya!
iiih capee deeh…. gw udh baca serius2 juga…
@ DV & windy:
Saat menulis ini, aku masih belum lagi tau bakal seperti apa jalan ceritanya. Aku biarkan saja jari-jari ini ngetik semaunya di papan ketik. Tapi begitu mamasuki 3/4 cerita, kok rasanya jadi sentimentil. Lantas kubelokan saja di ending cerita.
Aku biarkan cerita berjalan dengan sendirinya. Tak kureka-reka. Tak sampai 30 menit, maka jadilah cerita konyol bin sableng di atas itu!
