Kalau dulu aku pernah membahas waktu paling tepat untuk menulis, kali kini aku sedang ingin berbincang soal tempat paling tepat untuk menulis. Aha! Tempat untuk menulis. Di manakah itu?

 

Tentu ada macam-macam selera bagi para penulis soal tempat. Ada yang senang di meja kantor, ada yang asyik di pojokan cafe sembari menyeruput kopi hangat, ada yang di kereta api, ada yang di rumah, ada yang sengaja mencari tempat tenang di alam terbuka, ada yang sengaja menyewa vila atau membuka kamar hotel, bahkan ada yang di mana pun itu. Masuk kategori manakah Anda?

 

Menulis memang soal individual. Kegiatan individu seperti halnya saat kita di kamar mandi. Untuk itu dibutuhkan sentuhan pribadi di mana teritorinya tak dapat diganggu gugat oleh sesuatu yang datang dari luar orbit diri si penulis. Bahkan di tempat hiruk pikuk sekalipun, seseorang tetap bisa menulis karena barangkali di situlah proses individual seseorang terasa nyaman. 

Tapi di manakah tempat paling tepat untuk menulis? Dapatkah ditularkan pada orang lain?

Jika aku mendapat pertanyaan seperti itu, akan kujawab: di manapun, dan dapat ditularkan pada orang lain. Mengapa? Karena di manapun yang kumaksud adalah: kembali pada si individu itu sendiri. Ketika masuk pada ranah psikologi dan berhubungan dengan jam biologis, seseorang akan dapat menjawab pertanyaan itu untuk dirinya sendiri. Tetapi, soal dapat ditularkan? Tentu saja bisa.

 

Aku sendiri termasuk orang yang tidak pernah peduli mesti menulis di mana. Meski kalau ditanya sungguh-sungguh, jawaban tempat paling nyaman adalah: tentu saja di rumah, di ruang perpustakaan pribadi. Di mana tidak satu makhluk pun (baik manusia sampai jin) kuizinkan mengusik. Di sana aku mendapatkan secara mutlak zona nyamanku.

 

Akan tetapi aku tidak membiasakan untuk menjadikannya sebagai patokan. Kenapa? Karena kalau hal seperti itu kujadikan ukuran, bahaya. Bisa-bisa aku hanya menulis di rumah semata, selepas jam 2 pagi sampai subuh hari. Ai, betapa sempitnya bukan. Sementara produktivitasku bakal hanya tergantung pada area rumah. Bahaya. Sehingga aku membiasakan untuk tetap bisa menulis di manapun aku berada. Itu untuk melatih serta memompa produktivitas.

 

Sampai dengan hari ini aku masih saja kagum pada kawanku Yus R. Ismail. Seorang penulis cemerlang. Dulu ketika ia belum memiliki laptop bahkan PC, selepas subuh ia selalu pergi ke rental komputer. Ketika matahari mulai tanpa malu-malu mencuat, ia sudah menyelesaikan sepucuk cerpen dan ngeloyor membayar ongkos rental. Ia bisa mengetik sebuah cerpen di mana pun ia berada.

 

Menciptakan zona nyaman memang mengasyikan. Tapi menurutku pribadi, lebih banyak bahayanya, kalau tak mau disebut merugikan, ketimbang manfaatnya. Dengan tidak tergantung pada area nyaman, kita tetap dapat menulis di mana pun kita berada.

 

Betul, terkadang aku kerap geram ketika menulis di luar, tiba-tiba membutuhkan referensi yang biasanya begitu mudah kuperoleh jika sedang menulis di perpustakaan pribadi ditemani ribuan buku di rak. Tetapi, justru di situlah kesalahan terbesar dalam proses kreatif.

 

Bukankah menulis itu tidak dengan pikiran? Pada akhirnya, aku selalu melatih diriku untuk tidak menulis dengan pikiran. Aku menulis dengan hati. Ada alter ego dari diriku yang sebetulnya menuliskan dirinya sendiri. Orang kedua yang bukan bernama Daniel Mahendra. Aku membiarkan jari-jemari menggerataki tuts keyboard, menyalurkan begitu saja apa yang ada di hati untuk mengalir dengan deras tanpa ampun. Sama sekali tidak dengan pikiran.

 

Kalau tiba-tiba di tengah proses menulis itu pikiranku ikut campur, lintas sektoral, mencoba ikut-ikut yang bukan teritorinya, mulutku akan dengan sendirinya memprotes: “Hei-hei-hei…!!” dan jariku akan kembali menggerataki tuts tanpa pernah berbelas kasihan sedikit pun pada keyboard. Sama sekali tidak dengan pikiran.

 

Ya, itulah kesalahan terbesar pada kebiasaan orang dalam menulis. Ia selalu memikirkan hasil tulisannya bahkan pada satu kalimat yang baru saja ia rawi sekalipun. Apakah kalimatnya baguslah, diksinya sudah enaklah, tanpa bacanya sudah tepatkah, dibaca nyamankah, dibaca orang lain serukah, macam-macam. Sehingga kita jadi terlalu banyak berpikir, sementara tulisannya tidak maju-maju.

 

Proses berpikir justru setelah tulisan itu selesai. Kita periksa kembali tulisan kita, kita cocokkan lagi dengan referensi, kita telaah lagi penggunaan kata dalam kalimat, kaliamt dalam paragraf, ketepatan tanda baca, dan lain sebagainya. Di situ pikiran kita bermain, dan hati boleh menyingkir undur diri dulu.

 

Lho, lantas apa hubungannya dengan tempat paling tepat untuk menulis? Jelas sangat berkorelasi sekali. Dengan menulis menggunakan hati, kita hanya menyuruh diri kita menulis tanpa peduli di mana pun itu. Tidak dengan pikiran kan? Jadi menulis saja semau-maunya. Muntahkan segala apa yang dirasakan. Tidak peduli di mana pun itu. Biarkan hati dan kepala kita meluber dengan ide-ide yang berebut memilih tempat. Kita tumpahkan saat menulis di mana pun itu. Tanpa berpikir. Sama sekali tidak dengan pikiran. Baru setelah itu kita menggunakan zona nyaman untuk proses editing tulisan kita dengan segala logika pikiran yang 100% jalan.

 

Dengan demikian, menulis akan menjadi rutinitas harian yang tidak perlu lagi diagendakan secara khusus. Menulis! Di manapun itu.

 

“Lho, tapi Mas, kenapa kita mesti menulis? Menulis nggak ada korelasinya dengan profesiku nih…”

 

Kita kan bukan tinggal hewan yang pandai! 

Bandung, 24 April 2008, 03.08 wib.