Gerombolan Nostalgia
Sabtu malam lalu ditunggu kawan-kawan lama di café (lagi-lagi café!). Sudah berdering telpon menungguku. Rupanya ini gerombolan kawan lama yang kembali bertemu di Bandung. Beberapa sengaja datang dari luar kota.
Ada si pengusaha percetakan, ada si pemimpin umum sebuah harian, ada si aktivis partai, ada si direktur penerbitan, ada si pengusaha café, ada si penulis, ada si fotografer, ada si pedagang, ada si layouter, dan ada yang nggak jelas, karena selama ini kalau ditanya cuma meringis. Hehe!
Ketika aku datang sudah pukul 22 malam. Gerombolan ini sedang berfoto di depan café. Kawan-kawan hanya berteriak: “Huuuu…” melihat kedatanganku yang telat. Aku menyeruak kerumunan barisan. Foto-foto dilanjutkan. Aku nyempil di antara kerumunan.
“Ayoh!” seru salah seorang kawan.
“Lho, kemana? Aku baru datang begini.”
“Udahlah, pokoknya ikut. Acara laki-laki malam ini!” Busyet!
“Hei… kemana?”
“Nanti aja kita jelasin di jalan.”
Jadinya kita berangkat dengan dua mobil. Sekitar 15 orang kawan. Ini gerombolan kawan lama. Kita sudah saling kenal lusinan tahun lalu. Bahkan lebih. Rata-rata dari mereka sudah pada menikah dan beranak pinak.
Ada yang umurnya 40, 38, 37, 35, 33, dan 30. Kita memang terdiri atas berbagai angkatan. Tapi kita bertemu di satu organisasi: pers mahasiswa. Sebuah organisasi di mana dahulu kala penuh idealisme gagah perkasa. Kini kita hanya bisa tersenyum-senyum geli jika mengenang pernah mengecap pengalaman bersama.
Mobil mengitari jalan utama Dago yang hiruk pikuk semrawut ramai tak karuan. Kita-kita yang sudah tua ini (halah!) tampak terheran-heran mendapati kelakuan anak muda Bandung yang nongkrong di sepanjang ruas jalan Ir.H.Juanda.
“Pada ngapain sih mereka?”
“Halah, dulu juga kita sering nongkrong kayak mereka!”
“Eit, enak aja. Siapa bilang?”
Kita hanya bisa tertawa.
Melihat kesumpekan sepanjang jalan Dago, mobil kita arahkah ke daerah Bandung utara.
“Kemana?” tanyaku.
“Tadi kawan-kawan sepakat cari tempat karaoke!” ujar salah seorang kawan yang disambut gelak.
“Hah?!! Gila! Ngapain…”
“Senang-senanglah…”
Aku hanya bisa ngakak.
Jadinya kita meluncur ke daerah Sukajadi. Masuk ke Parijs Van Java. Ada sebuah karaoke milik seorang penyanyi yang cabangnya selalu ramai di mana-mana.
“Di sini konsepnya lain, Dan. Nggak ada PL-nya.” ujar seorang kawan.
“Apa itu PL?” tanyaku norak.
“Halah! Pemandu lagu!”
“Yee, aku emang nggak tau…” elakku ngakak.
Akhirnya kita pun duduk di sofa dalam ruangan yang tak begitu besar. Lagu demi lagu dipilih. Minuman pun dipesan.
Awalnya, sebagian kawan masih lagi malu-malu untuk buka suara. Lama-kelamaan, gengsi mulai boleh undur diri. Semua mengeluarkan aslinya. Noraknya pada kumat! Apalagi saat ada yang request lagu dangdut (busyet!), sebagian turun ke tengah ruangan dan joget norak minta ampun!
Giliranku sekadar main kecek-kecek mengiringi lagu, menyulut rokok sembari menyeruput Ice Cappuccino. Tertawa-tawa melihat tingkah polah kawan-kawan. Juga tingkahku sendiri.
Kita bisa teriak bersama-sama saat menyanyikan lagu Iwan Fals. Atau nyanyi bersama saat tembang Chrisye dilantunkan. Koes Plus tentu tak boleh dilewatkan. Frank Sinatra sesekali boleh nongol. Sisanya: Letto, Nidji, Peterpan, Panbers, D’lloyd, Mulan Jameela, dan (tentu saja) dangdutan! Haha!
Jam 12 lewat, jam 1 lewat, begitu jam 2, waktu malah ditambah sampai jam 3 pagi. Sableng! Masing-masing dari mereka mulai ada yang menerima telpon, dari mana lagi kalau bukan dari arah rumah.
“Istri udah nelponin terus nih.” teriak seorang kawan menyaingi suara musik yang berdentam-dentam.
“Handphone-ku udah ada miskol 10 kali.” teriak seorang kawan tak kalah lantang.
“Padahal aku janji jam 10 sudah sampai rumah.”
“Aku jam 12!”
“Aku, aku nggak ada yang nunggu…” ujar seorang kawan.
“Yeee… siapa suruh belum nikah!”
“Hahaha!!”
Akhirnya jam 3 pagi kita hentikan kesablengan ini. Tapi dari rona-rona wajah kawan-kawan tampak sekali kebahagiaan terlukis di sana. Karena hal seperti ini tidak mungkin dilakukan kalau tidak dengan kawan-kawan lama seperti ini.
Belum tentu dalam 3 bulan kita bertemu dan berkumpul seperti ini. Belum tentu pada saat bertemu kita jalan bersama dan melepaskan kerinduan dengan hal-hal yang spontan semacam ini.
Istri-istri mereka di rumah hanya bisa memahami kelakuan suaminya yang sesekali ingin mencicipi kerinduan berkumpul dengan para lelaki kawan lamanya. Istri-istri mereka sangat-sangat bisa memahami, karena semua dari kami saling mengenal pasangan satu sama lain. Tak ada yang asing.
Turun dari Parijs Van Java, kita meluncur ke jalan Naripan. Tujuan? Makan di Ceu Emar. Sebuah tempat makan terbuka yang ramai dikunjungi sampai subuh hari. Di sana kita ngobrol tentang pekerjaan dan kegiatan selama ini.
Selepas Ceu Emar sekitar jam 4 pagi, kita menuju kampus. Ngapain? Jalan-jalan mengitari kampus dan menggerombol di lapangan parkir dalam, sembari mengenang-ngenang dan bernostalgia.
Selepas subuh gerombolan nostalgia bubar. Ada yang langsung pulang ke luar kota. Ada yang kembali ke café mengambil kendaraan mereka yang tadi sempat dititipkan. Sisanya melesat ke rumah masing-masing, dengan janji untuk bertemu lagi di pertemuan berikutnya.
Terlihat jelas ada kebahagiaan tersisa di wajah-wajah mereka. Wajah-wajah yang dulu begitu akrab ditemui setiap hari. Waktu berjalan, kehidupan pun terus berjalan. Ya, hanya perubahan yang abadi. Tapi ada satu yang tak berubah: apalagi kalau bukan persahabatan yang terjalin begitu apik selama ini.
Nah, aku sudah menuliskan hal ini. Sebagai pelunasan atas dokumentasi pertemuan yang jarang terjadi. Suatu saat jika kerinduan datang, aku tinggal membacanya kembali. Paling tidak, tak ada kelakuan manusia yang hidup di atas bumi ini yang luput kutulis.
Bandung, 28 April 2008, 04.25 wib.


Aku tebak!
Mas Daniel pasti ga ada yang nelponin juga…huehehehehe…makanya mas…itu dong! :p
@ Chandra:
Wah, justru banyak, Chan. Tapi bukan dari istriku (lho, maksudnya?) Hihihi…
Band of brothers!!!!!
Ngemeng-ngemeng, kapan kita reunian bertiga lagi? Tanpa istri dan suami masing-masing?
Kapan? Kapan?!!?
ayo kapan…kapan….? jogja ..jogja ??
@ DV:
Tanpa istri dan suami masing-masing itu menarik, Don. Kemarin ini ada yang main ke Bandung, kalap di FO, tapi nggak ngasih kabar aku sama sekali…
@ windy:
Kayaknya sih Yogya pilihan menarik, ndi. Sumpek kita di kota besar ya, ndi, setuju? Makanya sesekali kita mesti ke daerah. Yogya misalnya. Hihihi… Kapan… Kapan…
Emailnya udah saya baca
salamdari Perhimpunan Mahasiswa Bandung
mas nyanyiin lagu apa?
waduh….aku kok ketinggalan yah….tapi memang malam itu….males keluar, lagi asyik dengan menganyam kata.
kayaknya reunian nanti acaranya karokean nih….
@ advokat listiana:
Terima kasih, Mbak. Rumahku pindah di sini sekarang. Nggak jauh kok. Hanya beberapa enggok-enggokan dari rumah lama :-p
@ PMB Bandung:
Salam hangat.
@ prameswari:
Kasidahan! :-p
@ kagungan Doni Tea:
Wah, untung kamu nggak ikut, Don. Kalo ikut bakal malu-maluin. Hihihi!
Kawan-kawan hanya berteriak: “Huuuu…” melihat kedatanganku yang telat.
#Hahahaha…
@ Rinurbad:
Lho napa, Rin?