The Problem Is Not The Problem
Sabtu sore lalu aku “menyidang” salah seorang stafku di kantor. Waktu “penyidangan” ini sudah kuulur beberapa hari lamanya hingga akhirnya aku mendapatkan waktu yang betul-betul pas.
Sebetulnya aku segan mesti melakukan “penyidangan” terhadap staf di kantor. Tapi akan lebih parah akibatnya kalau sesuatu yang tidak berjalan di atas relnya justru dibiarkan.
Akhirnya ia duduk di tentangku dalam ruanganku. Hanya berdua. Kusodorkan sebuah harian yang memuat surat pembaca dari seseorang tentang perusahaan ini.
“Aku butuh penjelasan tentang surat pembaca ini.”
Dan ia pun membaca.
“Di paragraf ketiga ditulis si pengirim surat menulis surat pembaca atas saran orang di kantor ini.” lanjutku.
“Oh?”
“Aku yang bertanya!”
Ia pun kembali membaca lembar harian itu.
“Siapa orang itu?” tanyaku pura-pura tidak tahu. Sekadar ingin tahu bagaimana reaksinya.
“Emh… eh… Ya…”
“Siapa orang itu?!”
“Eh… iya, saya.”
“Kenapa? Apa motifmu?”
“Anu… apa… eee… saya nggak nemu solusi dari persoalan orang yang ngirim surat itu dengan perusahaan ini. Jadi kusarankan dia untuk nulis surat aja di koran.”
“Kamu tau, ini sudah untuk kesekian kalinya kamu menyarankan orang untuk nulis surat pembaca di media-media. Jangan kamu pikir orang-orang itu tidak konfirmasi ke aku kamu suruh nulis surat ke media. Jangan kamu pikir aku nggak tau. Kali ini saja aku kecolongan. Apa motif kamu?”
“Aku nggak tau lagi mesti gimana, jadi kusarankan seperti itu. Aku pingin masalah dengan orang-orang itu selesai.”
“Aku nggak mempersoalkan kenapa sampai ada surat pembaca di koran tentang perusahaan ini. Mau ada puluhan surat pembaca banyaknya tentang perusahaan ini di koran setiap harinya, aku nggak soal sama sekali. Itu hak mereka. Yang kutanyakan adalah kenapa orang kantor ini yang justru menyarankan orang-orang itu menulis surat pembaca. Kamu itu kerja di mana?”
Ia diam saja.
“Setelah surat pembaca itu dimuat, banyak orang menelponku. Dan yang mereka tanyakan bukan soal orang itu, tapi lebih pada kenapa kok orang di kantor ini menyarakan orang untuk menulis surat pembaca. Secara logika berpikir saja itu adalah sesuatu yang nggak masuk akal!
Penulis-penulis yang tahun lalu honornya belum dibayar, setelah mengontak dan bertemu denganku, semua bisa memahami persoalan yang sebenarnya. Mereka mengerti, bahkan turut prihatin karena kesalahan bukan berada di perusahaan ini, tapi dengan klien. Mereka bisa memahami penjelasanku. Artinya, setiap persoalan itu bisa diselesaikan. Tinggal bagaimana cara menyelesaikannya.”
“Aku nggak tau mesti dengan cara apalagi. Aku sudah mentok.”
“Di situ kualitasmu dinilai. Cara yang kamu tempuh!” aku menarik nafas. “Persoalan itu akan tetap ada. Meski penulis-penulis yang tahun lalu honornya belum dibayar sekarang sudah beres, belum tentu lantas nggak ada masalah lagi di depan. Persoalan akan tetap selalu ada. Dengan ragam dan versi yang berbeda-beda. Aku ngggak pernah melihat persoalan sebagai suatu persoalan. Tapi bagaimana menyelesaikan persoalan, itu yang lebih penting. Dan cara kamu menyelesaikan persoalan kunilai jorok!
Orang yang nulis surat pembaca di koran itu adalah wajar kalau dia nulis seperti itu. Itu hak dia. Aku nggak mau ganggu hak dia. Aku hormati hak dia. Tapi kalau dia diajak bicara, aku yakin dia bisa paham. Order yang dia garap itu proyek tahun lalu di mana proyeknya nggak jadi, tapi sudah terlanjur diorder ke dia oleh marketing yang dulu kerja di sini. Ya wajar kalau orang itu nagih. Tapi kalau diajak bicara kan nggak mungkin dia sampai nulis ke koran! Aku sendiri malah nggak tau kalau marketing yang pernah kerja di sini dulu mengorder ke orang itu.
Memang, tahun-tahun lalu nggak semua proyek ada MoU-nya. Nggak setiap proyek klien mbayar DP 30%. Sehingga kita nggak punya bukti kuat saat hendak menagih. Yang dirugikan jelas para freelancer yang dapat order dari kita. Karena honornya jadi lambat dibayarkan.
Tapi sejak 2008 sistem kayak gitu kan sudah nggak dipakai lagi. Kini aku sangat ketat terhadap proyek yang masuk. Semua proyek mutlak mesti ada MoU-nya. Kalau ada klien yang nggak mau bayar DP 30%, nggak akan kita mulai pesanannya. Sehingga setiap freelancer yang dapat order dari kita, ketika dia menyerahkan pesanan kita, bisa kita bayar 50% honornya. Begitu proyeknya beres, kita lunasi yang 50%. Jadi nggak mungkin terjadi lagi freelancer yang honornya menggantung atau lama dibayar. Intinya adalah bagaimana menyelesaikan persoalan. Di situ kualitas seseorang dinilai!”
“Iya. Saat aku menyaranakan orang itu untuk menulis surat pembaca, aku sudah memikirkan konsekuensinya…”
“Berarti kamu menerima konsekuensinya kalau tidak lagi bekerja di sini?”
“…” ia diam saja.
“Sekarang aku tanya: kamu masih ingin bekerja di sini atau tidak?”
“Jujur saja masih…”
“Kita fair-fair-an saja. Agar hubungan pertemanan di luar konteks ini tetap terjalin, kalau kamu memang sudah tak ingin bekerja di sini, nggak pa-pa, kamu boleh memilih keluar. Daripada kamu bekerja di sini, tapi tanpa kamu sadari, cara-cara yang kamu tempuh dalam menyelesaikan persoalan justru akan merusak perusahaan ini! Kamu pikir nggak berdarah-darah apa membangun serta membesarkan perusahaan ini? Sayang banget kalau hanya dirusak dengan persoalan-persoalan kecil-mengecil kayak gitu!
Belum lagi, di luar konteks masalah ini, dalam sebulan terakhir kunilai kinerjamu menurun. Banyak sekali pekerjaan yang aku minta kamu selesaikan, nggak ada yang selesai. Sampai mesti kualihkan pada kawan lain.”
“Iya, kuakui itu…”
“Jadi kamu masih ingin bekerja di sini atau tidak?”
“Aku masih ingin di sini…”
Aku diam cukup lama. Memikirkan masak-masak bakal keputusan apa yang hendak kukeluarkan. Memecat dia langsung atau masih kuberi peringatan.
Akhirnya:
“Oke. Ini peringatan pertama. Kamu masih bekerja di sini. Hanya posisimu sebagai kepala bagian kucopot. Kita sama-sama belajar tentang masalah ini. Tapi tindakanmu menyarankan orang untuk menulis di surat pembaca tetap mesti ditegur.”
Tak berapa lama ia kuizinkan ke luar ruangan. “Terima kasih…” ujarnya terkelu.
Selama kita hidup di dunia persoalan akan tetap ada. Semanis apa pun kualitas hidup seseorang, ia akan tetap berjabatan tangan dengan persoalan. Karena ini dunia, bukan surga. Tapi, semua persoalan itu bukanlah persoalan. Karena yang jadi soal adalah: bagaimana menyelesaikan persoalan. Semua tergantung bagaimana sikap kita terhadap persoalan itu sendiri.
Setuju?
Bandung, 28 April 2008, 02.22 wib.



wuiih…galak amat mas…. sama kaya salah satu temennku yg di jogja tuh…suka ngomel2 sama anak buah…:-)
@ windy:
Ah, enggak lah, ndi… Masih galakan kamu kalo lagi marahin suami. Ya nggak, Don? Hehehe!
Kalo Ade, pasti dah nangis….
@ prameswari:
Kalo Ade nggak akan Mas bentak-bentak kayak gitu. Hehe!
hmm…
tentang si Kaka kan..?
menurutku..si Kaka ngga gagu begitu..
ngga juga kelu..
coz he’s a goddamn fair man..
i do believe that..
masa si om….
perasaan ga mungkin gitu dech…
Emang si “Dia” Gitu ya???
Slama kenal mah ga gitu da… :p
Wah,gt ya kejadiannya?
Apakah dsebuah perusahaan itu, jasa2, bakti seseorang tdk dpedulikan&dhargai sedikitpun karena “terpaksa” berbuat salah?
Daniel Mahendra on April 28th, 2008 at 10:01 pm #
@ prameswari:
Kalo Ade nggak akan Mas bentak-bentak kayak gitu. Hehe!
GOMBAL!!!!
geus kolot mikir atuh!!!! Teu Payu-nya
hehehehehe
Wah ternyata silat ga di pake aja ya buat jurus2, ternyata bisa juga ya di pake buat bersilat kata dan silat lidah….
Wooww,..permainan kata yg menakjubkan,..!!Hmm, kejadiana emg seperti itu ya?? Aneh…dan susah dipercaya kk ku seperti itu…
Ilustrasinya mengacu ma sapa tuch??? kaya kenal…hehehe.
Selama kita hidup di dunia persoalan akan tetap ada. Semanis apa pun kualitas hidup seseorang, ia akan tetap berjabatan tangan dengan persoalan. Karena ini dunia, bukan surga. Tapi, semua persoalan itu bukanlah persoalan. Karena yang jadi soal adalah: bagaimana menyelesaikan persoalan. Semua tergantung bagaimana sikap kita terhadap persoalan itu sendiri.
= Manis kan???? =
bete ih kalian ini kenapa… kun mang ga tau apa2.. tp klo ada persoalan cepet deh selesein jgn ky bocah. soalnya kun sdikit trauma sm kt pecat. Hei.. kalian jg apa2an sih, kasian kan jd ada yg terpojok. (naon deuinya tuturutan budak teh hihi..) tp ingat jg jgn ditambah emosi dong. tar ky kakanya si the brew tuh.. ngegaplokan kun terus tiap ketemu. bete. TT.TT
SEMANGAT.. !!
Framingnya oke. Kemasan realita yang cantik dan memukau. Sayangnya, hanya ada satu sudut pandang saja tanpa latar belakang pengambilan sikap masing-masing pihak. (tentu saja karena ini hanyalah sebuah buku harian, jadi jangan harap ber-KEJ)
Mereka yang tidak mengenal pihak-pihak terkait akan memiliki penilaian yang berbeda dari mereka yang mengenal. Setiap keputusan tentu ada pemicu dan pertimbangannya. Kadang, menilai dan mengkritisi orang lain jauh lebih mudah daripada melakukannya terhadap diri sendiri.
Please, wake up and be wise.
bisa galak juga lo yah ?….