Archive for April, 2008

Roseline atawa Rosalina, Nama yang Cantik!

Untuk ukuran perempuan ia termasuk cantik. Meski beresam tubuh mungil, ia tampak selalu menarik. Mungkin ia pandai bersolek. Kalau menatap, matanya terasa tajam, tapi wajahnya selalu segar memesona. Rambutnya ikal dan bibirnya merah kesumba. Kalau berjalan, ujung-ujung rambutnya akan menari-nari genit seperti penari pendet yang gemulai.

 

Roseline atawa Rosalina. Ia seorang sarjana Ilmu Politik. 34 tahun dan belum lagi menikah. “Kau tak tertarik menikah, Rose?” begitu kawan-kawannya selalu bertanya. “Bukan urusanmu!” cepat Roseline menjawab.

 

Baleno merah tahun 98 selalu menemaninya ke mana pun ia pergi. Entah itu siaran radio, atau ke kantor sebuah organiasi perempuan. Ya, ia memang seorang aktivis perempuan yang kerap mengurusi advokasi persoalan-persoalan yang berhubungan dengan perempuan. Entah itu kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, ataupun perkosaan.

 

Roseline atawa Rosalina. Di suatu sore yang tenang ia menelponku. “Bisa kita ketemu?” isaknya.

Lho-lho-lho, ada apa dengan Roseline…

Continue Reading »

Tempat Paling Tepat untuk Menulis

Kalau dulu aku pernah membahas waktu paling tepat untuk menulis, kali kini aku sedang ingin berbincang soal tempat paling tepat untuk menulis. Aha! Tempat untuk menulis. Di manakah itu?

 

Tentu ada macam-macam selera bagi para penulis soal tempat. Ada yang senang di meja kantor, ada yang asyik di pojokan cafe sembari menyeruput kopi hangat, ada yang di kereta api, ada yang di rumah, ada yang sengaja mencari tempat tenang di alam terbuka, ada yang sengaja menyewa vila atau membuka kamar hotel, bahkan ada yang di mana pun itu. Masuk kategori manakah Anda?

 

Menulis memang soal individual. Kegiatan individu seperti halnya saat kita di kamar mandi. Untuk itu dibutuhkan sentuhan pribadi di mana teritorinya tak dapat diganggu gugat oleh sesuatu yang datang dari luar orbit diri si penulis. Bahkan di tempat hiruk pikuk sekalipun, seseorang tetap bisa menulis karena barangkali di situlah proses individual seseorang terasa nyaman. 

Tapi di manakah tempat paling tepat untuk menulis? Dapatkah ditularkan pada orang lain?

Continue Reading »

Skill Menulis, Milik Siapa?

Pagi tadi adikku menemuiku untuk minta tolong dibuatkan tulisan. Kami memang jarang bertemu. Belum tentu seminggu sekali.  Bahkan dalam sebulan belum tentu kami dapat ngobrol santai sembari nonton DVD.

 

“Tulisan?” tanyaku.

“Ya.” rajuknya.

“Tentang?”

“Alasan kenapa memilih profesi Arsitek. Aku jadi ngambil S2 Arsitek.”

“Lho?! Hahaha!! Ya kamu dong yang lebih tau kenapa kamu ngambil Magister Arsitek. Kok aku? Aneh…” ujarku ngakak.

“Aku nggak bisa… Ayolah…”

Continue Reading »

Hidup Memang Bukan Pasar Malam

Di Rumah Malka, ada seorang kawan, Gunawan namanya. Ia seorang Sarjana Ekonomi Unpad. Sebelum masuk FE, ia sempat mampir setahun di FISIP Unpad, hingga akhirnya memutuskan meneruskan di FE saja.

 

Sudah sekitar 6 bulan Gunawan ikut mengelola Rumah Malka, terutama Toko Buku Malka. Aku mengenalnya kira-kira tahun 2003. Dikenalkan oleh seorang kawan saat aku masih bekerja sebagai jurnalis di sebuah tabloid di Bandung.

 

Di Sabtu malam yang cerah ia datang ke Malka. Ingin bergabung, “Sekadar bantu-bantu, biar ada pemasukan uang, Mas.” keluhnya. Dengan tangan terbuka aku menerimanya.

Continue Reading »

Adakah Kartini Memang Memperjuangkan Perempuan?

129 tahun sejak lahirnya Kartini, kini orang mahfum bahwa di setiap 21 April adalah Hari Kartini, perempuan Jepara itu. Diperingati tidak diperingati, mengerti tidak mengerti, lupa tidak lupa, 21 April dianggap sebagai hari seorang perempuan yang memiliki kontribusi besar bagi kaum perempuan. Kenapa?

 

Adalah betul Kartini membaca dan menulis dalam Belanda. Adalah betul Kartini ingin bersekolah lebih tinggi lagi dari yang pernah ia kecap, kalau perlu sampai ke negeri Belanda. Adalah betul bahwa Kartini cemburu dengan perempuan-perempuan Belanda yang memiliki otoritas dalam berpikir maupun berkehendak. Tetapi apakah hanya Kartini?

Apakah hanya Kartini, yang kebetulan seorang dari kalangan kelas bangsawan Jawa, yang justru dapat mengecap bangku sekolah, sehingga dapat baca tulis serta berkorespondensi dengan karib Belanda? Apakah betul kegelisahan dalam surat-suratnya merupakan kegelisahan rata-rata perempuan pribumi atau malah semata keinginannya untuk dapat bersekolah lebih tinggi lagi, serta mempunyai kemajuan dalam berpikir seperti perempuan  Eropa?

Continue Reading »

Mengapa Banyak Penulis Melakukan Poligami

Poligami memang sah menurut syariat Islam. Tentu dengan ketentuan-ketentuan yang mengikuti sebagai syarat. Tak terkecuali siapa pun orangnya, apa pun profesinya.

 

Di Indonesia, tidaklah aneh bila menjumpai data bahwa sebagian besar penulis melakukan poligami. Persoalannya bukan pada poligaminya, melainkan mengapa kebanyakan penulis mesti melakukan poligami.

 

Memang ada penulis-penulis yang tetap memegang prinsip monogini. Ia tetap percaya dengan bermonogami, ia tetap bisa eksis sebagai penulis. Tapi penulis yang berpoligami? Ini adalah kenyataan.

Continue Reading »

« Previous PageNext Page »