Archive for May, 2008

Epitaph (12)

Ai, ada satu lagi yang tak mungkin kulewatkan dari kegilaanku pada film, yaitu unsur musik latar film itu sendiri. Kesukaanku pada film pun membuatku memperhatikan detail musik yang ikut membangun atmosfir serta emosi sebuah film. Tak aneh bila aku selalu mengoleksi original motion picture and soundtrack dari film-film yang kuanggap bagus serta berkualitas. Sampai ratusan soundtrack film yang kukumpulkan. Baik film luar maupun produksi negeri sendiri.

 

Aku suka musik-musik film garapan James Horner atau John Williams. Soal John Williams, barangkali memiliki tempat tersendiri. Ia dapat disebut sebagai orang yang paling “terdengar” pada seluruh film Star Wars. Dialah komposer dan konduktor yang membuat Star Wars tersimpan dalam memori dengaran penonton. 

Musik Williams dianggap menjadi salah satu penguat karakter film tersebut. Misalnya Death Stars, pesawat sebesar planet yang ditumpangi tokoh bengis Darth Vader itu, melintas dengan penuh wibawa dan penuh ancaman di bawah iringan musik garapan Williams. Suasana berwibawa, dahsyat serta penuh ancaman itu merupakan interpretasi pribadi Williams.

Continue Reading »

Hari Tanpa Rokok? Bagaimana Mungkin!

Sejak pagi-pagi betul seseorang membangunkanku melalui telpon hanya untuk mengatakan: hari ini hari tanpa tembakau sedunia. Jangan merokok!

 

Olala! Kenapa sarapan pagiku berupa larangan merokok? Hmm-hmm-hmmm.

 

Betul sih, aku setuju dengan etika merokok, tapi masih belum setuju dengan larangan merokok. Hehe! 

Aku memang perokok yang teramat sangat aktif. Sehari bisa puluhan batang. Tapi aku tetap tak suka pada perokok yang tak memiliki etika. Ai, ada etikanya tho? Ada…

Continue Reading »

Epitaph (11)

Makin kusadari, betapa seorang pembuat film bisa mempunyai kendali yang begitu besar dalam kehidupan begitu banyak orang. Mengapa bisa demikian? Ambil contoh: kelakuan publik Amerika menjelang dibukanya penayangan premiere[20] sebuah film yang ditunggu-tunggu, sungguh mencengangkan bagi orang luar.

 

Bahkan sebelum loket dibuka untuk menjual tiket masuk, orang sudah mulai antre. Benar, antre! Bioskop yang akan memutar memasang tanda “Antrean Dimulai di Sini”, dan antrean memang mengulur jauh-jauh hari.

 

Anak-anak muda pelaku antrean itu menjaga benar tempat mereka, dengan cara menempatkan kursi (bahkan sofa empuk) atau kantung tidur; dan bergantian dengan teman-teman “menongkrongi” tempat antrean. Bisa dibayangkan, berapa waktu yang terbuang percuma hanya untuk menunggu kesempatan membeli karcis menonton sebuah film. Dan ketika film sudah diputar, para penggemar menyerbu bioskop dan menonton berulang kali.

Continue Reading »

Kontra Produktif

Beginilah hidup di negara penghasil minyak bumi yang tak sepenuhnya bisa menikmati hasil minyak buminya sendiri.

 

Listrik mati, bergiliran pula. Dalam satu kawasan. Dari jam 9 pagi sampai jam 15 sore. Mengganggu? Sangat. Betapa listrik sudah merupakan kebutuhan vital yang tak dapat ditawar-tawar lagi.

 

Kalau listrik mati, tak ada penerangan. Tapi kan ada matahari? Okelah. Tapi komputer pun tak bisa nyala. Kan ada laptop? Tetap saja, server internet tak bisa berfungsi. Handphone pun butuh asupan. Printer tumbang, scaner lumpuh, telpon kantor padam. Mau bagaimana?

 

6 jam tanpa listrik di saat jam kerja sama halnya dengan kontra produktif. Tak bisa apa-apa. Menyerah? Tidak. Tapi ini realitas. Betapa listrik sudah merupakan keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

 

Pergi ke mall, mojok di foodcourt, buka laptop, menangkap hotspot, nyatanya tak selamanya nyaman untuk bekerja.

 

Beginilah hidup di negara penghasil minyak bumi yang tak sepenuhnya bisa menikmati hasil minyak buminya sendiri.

 

Apa boleh buat.

 

28 Mei 2008, 15.45 wib.

Continue Reading »

Sayapku Nyaris Patah-patah

Tidak sampai seminggu, aku mesti berkunjung ke sebuah SMA lagi. Kalau minggu lalu ke SMAN 39 Jakarta, kini ke sebuah SMA di Bandung saja, SMK 11 Bandung.

 

Dalam rangka? Kalau minggu lalu jadi juri lomba mading tingkat SMA propinsi DKI Jakarta, kali ini diminta berbicara soal novel pada anak SMA.

 

Tak hanya itu, kata panitia yang mengontakku. Setelah acara di SMA, STV, sebuah stasiun tv lokal Bandung, memintaku berbicara soal tema yang sama. Rupanya ini satu paket.

 

Aku sempat ragu mengiyakan ketika Ilva berkali-kali menelponku. Bukan apa-apa, pikiranku sedang bercabang. Pekerjaan sedang seabrek. Sayapku nyaris patah-patah. Tapi setelah kupikir-pikir, memangnya ada saat di mana pekerjaan tidak seabrek? Sementara jawabanku ditunggu segera. 

Bangun pagi hari ini aku berbicara pada semesta: tolong dukung aku menjalani hari ini. Tak selamanya aku kuat kalau mesti memanggul seorang diri. Sekonyong-konyong telpon dan SMS bertubi-tubi masuk dari berbagai arah. Esensi isinya: “You are not alone, Dan!Law of Attraction kurasakan betul-betul berjalan.

Continue Reading »

Malam Saat Ombak Berkejaran

Setelah berjam-jam terguncang-guncang dalam bis, akhirnya mobil tua buatan tahun 80an ini berhenti di terminal terakhir. Itu pun kalau masih lagi pantas disebut terminal. Tapi seperti itu lah orang di daerah sini menyebutnya.

 

Terminalnya tidak besar, tapi ramai. Delman dan kuda lebih mendominasi ketimbang angkutan pedesaan. Membuat atmosfir sekitar tidak bising oleh kendaraan. Asap knalpot tidak mengepung seperti terminal-terminal di kota besar. 

Aku melompat dari bis. Aku menebar pandang. Orang-orang melihatku. Seperti seorang koboi yang baru tiba di sebuah kota, aku mengibas-ngibaskan debu yang menempel di kemejaku. Orang-orang mulai mendekat.

“Kemana, Kang?”

Aku hanya tersenyum.

“Mau diantar?”

Aku mengeluarkan bungkus rokok.

“Butuh teman tidur, barangkali?”

Aku terbelalak.

Continue Reading »

Epitaph (10)

Kalau film-film Wim Umboh tak semua kuakrabi. Tapi apa yang telah ia lakukan sepanjang karirnya sejak 1955, mau tak mau membuatku salut. Ia telah menyutradarai sebanyak 50 film. Wow!

 

Wim pun menjadi orang pertama yang membuat film berwarna yang seluruhnya dikerjakan oleh tenaga Indonesia, yaitu Sembilan[18] yang diluncurkan pada 1967. Ia juga yang pertama menggunakan film berukuran 70 mm dengan suara stereofonik enam jalur, dalam Mama di tahun 1972, di mana merupakan sebuah percobaan Wim dengan Sjuman Djaya yang penulisan skenarionya bersaman dengan saat shooting film berlangsung. Hasilnya: sebuah gaya penuturan yang tidak sederhana. Apalagi tampak ada dua alur cerita yang seolah tak saling bertaut.

 

Yang tak kalah menarik, pada tahun 1974 Wim kembali menghasilkan percobaan pada Senyum di Pagi Bulan Desember, di mana film ini kisahnya lebih bersifat dongeng, karena tempat dan waktu peristiwa dibuat tidak jelas, apalagi tampilnya adegan-adegan mimpi yang surealistis. Atau juga seperti pada Sesuatu yang Indah di tahun 1976, yang punya warna “dongeng” dan sedikit surealistik, karena tempat kejadian serta fotografinya seolah tak menyarankan tempat yang jelas. Sebuah eksperimen Wim Umboh dalam cara penyajian meski temanya sederhana. Sepertiga awal film pun diisi dengan rangkaian gambar hampir tanpa dialog.

Continue Reading »

Next Page »