Dalam beberapa tahun terakhir, kalau kita pergi ke toko buku, pasar buku, atau pameran buku, banyak sekali bertebaran novel-novel (Islami) yang berbau cinta. Bahkan dengan sengaja menggunakan kata ‘cinta’ untuk judul-judulnya.

 

Bahwa novel Ayat Ayat Cinta Habiburrahman El Shirazy fenomenal, tak perlu dibahas lagi. Dalam arti, aku memang sedang tidak bermaksud membahas novel tersebut yang memang sukses. Akan tetapi apakah efek dari suksesnya novel tersebut memang turut mencipratkan ketenaran?

Memang, ada novel-novel (Islami) yang menggunakan kata ‘cinta’ dalam judulnya terbit sebelum Ayat Ayat Cinta meledak. Nyatanya, kesuksesan yang diraih Ayat Ayat Cinta, suka tidak suka berimbas pada kecenderungan penerbit (dan penulis?) untuk turut meramaikan jenis novel serupa.

 

Sekarang larilah ke toko buku. Dapat dipastikan kita akan menemukan judul-judul novel (Islami) yang senada di sana. Sebut saja dari mulai: Dalam Mihrab Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Musafir Cinta, Makrifat Cinta, Syahadat Cinta, Tasawuf Cinta, Di Atas Sajadah Cinta, Dzikir-dzikir Cinta, Air Mata Cinta, Di Bawah Naungan Cinta, Nyanyian Cinta, dan cinta-cinta lainnya.

 

Hal ini mengingatkan pada beberapa buku yang melejit secara fenomenal ketika diawali dengan judul-judul semacam misteri, the power, the secret, dll. Sekonyong-konyong muncullah judul-judul buku menggunakan jenis judul yang sama.

 

Apakah itu sah? Tentu saja sah. Namun di sinilah perbedaan antara tren dan kecenderungan. Ada perbedaan antara kecenderungan yang muncul dari penerbit dibanding dengan tren yang sedang terjadi di masyarakat (pembaca).

 

Masih ingat fenomena Chiklit kan? Ketika buku-buku chiklit muncul dan diminati, banyak penerbit yang berbondong-bondong cenderung menerbitkan naskah-naskah chiklit. Peminatnya memang banyak. Pasar juga punya peran di sana. Namun tetap, penerbit juga yang punya kecenderungan menerbitkan karakter naskah yang bagaimana.

 

Terbukti, kini beberapa penerbit besar mulai menstop menerima serta menerbitkan naskah-naskah chiklit. Bukan karena peminatnya sudah tak ada. Sebagian penerbit tetap rajin menerbitkan naskah-naskah jenis itu. Terumata terjemahan chiklit luar. Namun kecenderungan pada penerbit untuk menerbitkan naskah chiklit sudah menurun.

 

Nah, jadi, mana yang kita pilih: kecenderungan atau tren? 

Bandung, 1 Mei 2008, 21.27 wib.