Epitaph (11)
Makin kusadari, betapa seorang pembuat film bisa mempunyai kendali yang begitu besar dalam kehidupan begitu banyak orang. Mengapa bisa demikian? Ambil contoh: kelakuan publik Amerika menjelang dibukanya penayangan premiere[20] sebuah film yang ditunggu-tunggu, sungguh mencengangkan bagi orang luar.
Bahkan sebelum loket dibuka untuk menjual tiket masuk, orang sudah mulai antre. Benar, antre! Bioskop yang akan memutar memasang tanda “Antrean Dimulai di Sini”, dan antrean memang mengulur jauh-jauh hari.
Anak-anak muda pelaku antrean itu menjaga benar tempat mereka, dengan cara menempatkan kursi (bahkan sofa empuk) atau kantung tidur; dan bergantian dengan teman-teman “menongkrongi” tempat antrean. Bisa dibayangkan, berapa waktu yang terbuang percuma hanya untuk menunggu kesempatan membeli karcis menonton sebuah film. Dan ketika film sudah diputar, para penggemar menyerbu bioskop dan menonton berulang kali.
Bagi mereka ini bukanlah sekadar antrean. Mereka bagaikan ikut ambil bagian dalam suatu peristiwa bersejarah dan hikayat film seperti Star Wars misalnya, yang mewakili suatu sistem kepercayaan bagi mereka, penggemarnya.
Sebagai contoh lagi, kalau kita bicara Star Wars, dari trilogi film Star Wars[20], George Lucas, sang sutradara, dapat dikatakan benar-benar menjadi penguasa kosmos Star Wars itu sendiri.
Si “kaisar” Star Wars yang telah menjadi miliarder itu tak lagi perlu meminta bantuan dana sepeser pun kepada studio film besar untuk membiayai film-filmnya yang berikut. Bagaimana tidak, hal itu telah diantisipasinya jauh beberapa dekade lalu saat ia membuat Star Wars yang diluncurkan pada 1977.
Tahun 1976, kala membuat Star Wars, Lucas membuat perjanjian legendaris dengan studio film Fox. Dia merelakan setengah dari honornya sebagai sutradara agar mendapatkan hak atas film lanjutan, belum lagi barang-barang yang dibuat berdasarkan film itu sendiri.
Dari Star Wars ketika itu saja ia memperoleh 1,5 miliar dollar dari penjualan karcis. Sedangkan video games, T-shirt dan segala barang-barang fantasi Star Wars menghasilkan lipat tiga kali dari jumlah penjualan karcis.
Dengan kendali yang begitu besar di tangannya, maka Lucas bisa mengatur segalanya, dari transaksi dengan perusahaan mainan serta fast-food sampai syarat yang harus dipenuhi oleh pemilik-pemilik bioskop untuk mendapatkan hak memutar filmnya. Mainan misalnya, tak boleh muncul sebelum premiere film dimulai. Dan itu belum termasuk filmnya musti diputar di gedung bioskop terbaik plus tanpa iklan. Kalau sudah seperti itu, tak aneh bila George Lucas tak semata sekadar sutradara.
Cerita-cerita di balik itu semualah yang turut membuatku makin menggilai film.
Yang tak kalah seru dan paling kusukai adalah bagian ‘The Making of…’ atau ‘Behind The Scene’, yaitu teknik di balik pembuatan sebuah film itu sendiri. Ini yang tak kalah dahsyat. Karena di sinilah kerja sesungguhnya proses sebuah film dibuat sebelum dikunyah oleh penonton.
Trik, skil, penyiasatan, pengambilan gambar, pencahayaan, tata suara, editing, yang kesemua bersumber dari kerja keras pemain dan kru yang terlibat secara emosi serta frame yang sama.
Proses! Aku memang manusia pecinta sebuah proses. Menjadi tak aneh bila seindah atau sehebat apa pun sebuah adegan maupun shot dalam film, lebih dahsyat dari itu semua adalah: bagaimana cara membuatnya. Dari sana aku bisa menyelami jalinan cerita, dramaturgi, tipologi sifat tertentu tokohnya dan perkembangan watak pada tokoh dalam sebuah film.
Bersambung…
(Seluruh cerita Epitaph dapat dilihat di: Nukilan).
© Daniel Mahendra


hmm, saya ngga tau musti comment di mana, tp saya tertarik sama comment mas yg bilang ada kalanya saat kita pasang dan surut, itu maksudnya apa ya?? jelasin dong hehehe
hmmm… Alur mundur…
Minta ijin mas, Dari epitaph 1-10 aq print gpp kah? dan aq dah slesai ngebacany.. Aq simpan..Untuk diriku sndiri tentu saja :p
tak sabar nunggu crita berikutny..
@ Missglasses:
Wah, ngejelasinnya mesti blog kamu, ndak mungkin di sini.
@ Zahra:
Nggak pa-pa, Zahra…
Kamu akan temukan alur-alur yang rumit di cerita berikutnya.
Cerita ini kuposting setiap hari kok.