Archive for June, 2008

Eh Ujan Gerimis Aje…

Tidak ada penyanyi sekaligus aktor yang begitu kukagumi seperti Benyamin Sueb. Cara bernyanyi dan improvisasi dalam berakting sungguh memukau. Lagu-lagu serta filmnya selalu kuburu untuk kunikmati. Benyamin terlanjur memiliki arti tersendiri bagiku.

 

Lagu-lagunya dinyanyikan begitu ringan dan terkesan asal, tapi justru di situlah kharismanya keluar. Apalagi tembang-tembang duetnya bersama Ida Royani, aih, bikin mabuk kepayang. Mereka sejoli yang asyik untuk didengarkan. 

Film-filmnya tak kalah bikin perut terkocok. Dengan segala akting dan tingkah lakunya, mengagumi Benyamin tidaklah membuat diri kita menjadi norak bahkan bangga memiliki aktor seperti Benyamin.

Continue Reading »

Epitaph (33)

Dua milik Laras. Sebuah berisi pakaian. Sebuah lagi sepertinya merupakan tas kerja. Di dalamnya terdapat dokumen-dokumen, naskah kerja, dan agenda harian. Kubuka agenda itu. Terselip tiga lembar boarding pass[45] atas nama Laras Saraswati, Tedi Kurniawan dan Yudinami. Rupanya Laras yang menyimpan tiket kedua temannya saat berangkat dari Jakarta tempo hari. Semua bertanggal 14 Agustus, kelas ekonomi Y, pesawat Simpati Air dengan nomor penerbangan SG813, Gate A1. Laras duduk di kursi 9C, Tedi di kursi 9E dan Yudin di 9F. Tak kutemukan Boarding Pass milik pak Birhi. 

Selain catatan kerja, pada agenda itu tak kutemukan petunjuk apa pun yang berhubungan dengan keseharian Laras di hari-hari terakhirnya. Namun ada selembar kertas yang terlipat rapi dalam agenda itu. Aku mencoba membukanya, dan: terbelalak!!

Continue Reading »

Hidup adalah Pilihan. Kalian Setuju?

Dulu ketika ia bekerja di perusahaan A, gajinya Rp10 juta per bulan. Ketika ada tawaran dari perusahaan B, perusahaan A berusaha menahannya dan menjanjikan kenaikan gaji sebesar Rp15 juta per bulan. Tetapi ia tetap mengambil tawaran perusahaan B sebagai direktur dengan gaji Rp3,5 juta per bulan.

 

Saat itu orang-orang tidak memahami jalan pikirannya. Bagaimana mungkin meninggalkan posisi dan gaji di perusahaan A, lantas bergabung sebagai direktur di perusahaan B dengan gaji jauh di bawah penghasilan sebelumnya. 

Tetapi ia tetap memilih keluar dan bergabung dengan perusahaan baru tersebut. Perusahaan barunya bukan lah perusahaan sehat. Ketika ia masuk, perusahaan itu telah menyisakan hutang sebesar lebih dari Rp2 milyar. Dan tak semua orang-orang lama di sana bisa menerima “orang asing” yang sekonyong-konyong datang dan menclok sebagai direktur utama. Tetapi itu telah jadi pilihannya.

Continue Reading »

Epitaph (32)

Malam selepas doa bersama di Taman Budaya Medan, aku dan Yudin kembali ke hotel tempat ia menginap selama ini.

 

“Malam sebelum paginya mereka terbang dengan helikopter, kami sempat putar-putar naik becak, Kal. Cari duren.” sela Yudin.

“Naik becak?”

“Ya. Itu semua ide Laras. Dia pingin mengenang masa kecilnya di kota ini barangkali.”

“Hmmm…”

“Kal,” panggil Yudin pelan.

“Ya?”

“Ehm, ada yang ingin aku bicarakan. Penting.” bisiknya.

“Kenapa harus bisik-bisik?” tanpa sadar aku pun ikut berbisik. Tingkah laku Yudin kulihat mencurigakan.

“Nanti saja di dalam.”

 

Continue Reading »

Mengaktifkan Law of Attraction

 

Hingga kini Ijul adalah kawan yang cukup asyik untuk diajak berbincang soal Law of Attraction. Ia bisa memetakan cara menetapkan tujuan, proses menyelami keinginan, fokus pada apa yang telah ditetapkan, dan meraihnya. Tapi yang terpenting dari itu semua, selain mempraktekkan, ia membuktikannya!

 

Ia pernah bercerita, dulu ketika ia ingin menginjakkan kaki di kota Paris, ia selalu menyelipkan selembar uang franc di dalam dompetnya (Prancis kini sudah menggunakan euro). Praktis ke mana pun ia pergi, ia membawa serta dompetnya itu. Dan ketika hendak memerlukan sesuatu dari dalam dompet, ia selalu bertatapan mata dengan si franc itu.

 

Siapa nyana, pada akhirnya ia memang betul-betul menginjakkan kaki di kota Paris dan memanjat La Tour Eiffel. Tak aneh jika ia sudah keliling Indonesia. Dan kini ia selalu rajin mengirimiku cerita negara-negara Eropa mana saja yang telah ia injak tanahnya. Apa resepnya? tanyaku. “Law of attraction, Dear!” jawabnya pasti.

Continue Reading »

Epitaph (31)

Ketika pesawat mulai mengitari kota Medan dan hendak melakukan pendaratan, aku sempat merinding dibuatnya. Membayangkan Laras jatuh dari helikopter dari ketinggian entah berapa. Seperti saat ini. Barangkali aku berlebih-lebihan. Tetapi, bagi siapa yang pernah mengalami kekasihnya jatuh dari pesawat, ketika sedang terbang dengan pesawat serta berada pada posisi di mana sang kekasih jatuh, pastilah memiliki perasaan yang sama denganku. Aku hanya berguman: “Aku datang, Laras.” 

Sesampai di Bandara Polonia Medan, aku dijemput Yudin, kawan Laras yang tak ikut terbang dengan helikopter. Sontak kami langsung berpelukan.

Continue Reading »

Seandainya Keluarga Koeswoyo Tak Pernah Ada

Aku tidak tahu dari mana asal mula ketiban cinta pada band legendaris Indonesia itu: Koes Plus. Generasiku praktis tidak mengenal Koes Bersaudara. Tapi seiring perjalanan waktu, mencintai Koes Plus praktis bersentuhan dengan Koes Bersaudara. 

Sejak kecil almarhum bapak tidak pernah mengenalkan Si Koes itu pada telinga anak-anaknya. Paling yang diperdengarkan bapak berupa tembang-tembang semacam The Bee Gees atau The Mercys di tape mobilnya (bapak jarang memutar kaset di rumah). Tapi sebagai penggila musik, sulit bagiku untuk tidak berkenalan dengan musik Si Koes itu.

Praktis perkenalan dengan Si Koes kudapatkan dari kawan-kawan sepermainan sebagai sesama penggila musik, yang mulai mengenalkan grup-grup band legendaris Indonesia. Kata seorang kawan waktu itu: “Jangan mengaku pecinta musik Indonesia kalau tidak mengenal Koes Plus.” Saat itu aku tidak paham apa makna perkataannya.

Continue Reading »

Next Page »