Seseorang datang menemuiku dengan segunung persoalan yang, menurutnya, membatu di kepala. Ia meminta waktuku.

 

“Waktuku?”

“Ya.”

“Aku bukan sang pemilik waktu.” candaku. “Kenapa minta sama aku?”

“Ayolah… please…”

“Oke-oke…” 

Dengan wajah sendu yang tak dibuat-buat, ia mulai menuturkan persoalannya. Ditemani dua gelas kopi, ia bercerita soal pekerjaan di kantornya yang mulai dirasa terlalu berat untuk dipanggulnya seorang diri.

Ia merasa kapasitasnya terlampau luas, pekerjaan seabrek, perusahaan tidak sepenuhnya memahami, dan tim kerjanya amburadul. Ia mesti memegang banyak peran dari mulai hubungan dengan perusahaan lain, manajerial perusahaan, sampai teknis pengerjaan pada tim kerja.

Rutinitas kantor yang kerap membuatnya pusing setengah hidup mesti ditambah dinginnya hubungan dengan istrinya. Istrinya menganggap ia terlampau memberikan porsi lebih pada pekerjaan kantor. Di mata istrinya ia dianggap sudah menjadikan pekerjaan sebagai segala-galanya.

 

Pergi pagi hari, pulang larut malam, tak ada waktu santai saat weekend bersama anak-anak. Istrinya merasa ia sudah tercerabut dari kehidupan normal orang kebanyakan.

 

Ia memang tak mengerjar uang. Karena kalau sekadar untuk hidup di atas rata-rata, ia sudah melewati semuanya. Tapi pekerjaan di kantor memang sedang menuntut kemampuannya. Dan ia merasa terkadang orang tak memahami jalan pikirannya.

 

Di sisi lain komunikasi dengan orangtua dan adik-adiknya sedang tak lancar. Sudah lama tak bertegur sapa atau saling kontak. Ada persoalan yang mengganjal yang tak jelas bentuknya. Hanya saling diam saja. Ia merasa hal ini mengganggunya karena kalau sedang teringat, ia kerap gundah sendiri dan mengusik kenyamanan hati.

 

Dalam kondisi seperti itu, sang mertua laki-laki sedang jatuh sakit keras. Sedang diopname di rumah sakit dan membutuhkan biaya hingga puluhan juta. Suka tak suka, dalam atmosfir hubungan yang tak bagus-bagus amat dengan sang istri, ia mesti memikirkannya juga.

 

Sementara itu, anak 11 tahun yang terserempet mobilnya masih harus dirawat di rumah sakit sehabis pemasangan pen pada kaki kanan. Memang, keluarga si anak pada akhirnya tidak menuntut macam-macam atau menjadikan musibah beberapa hari lalu itu sebagai kasus. Senang tidak senang, ia mesti menanggung seluruh biaya pengobatan yang tak sedikit.

 

Ia kalut. Ia ingin meledak. Ia bukan tak tahu cara menyelesaikan bertubi persoalan yang sekonyong-konyong datang dalam kehidupannya. Tetapi, mengapa kesulitan demi kesulitan datang beruntun dalam waktu bersamaan seperti ini.

 

Tak ada tempat mencurahkan kegundahannya. Semua orang sedang meminta bagian dari dirinya. Tetapi setiap dari orang-orang itu seolah seperti tidak menyadari bahwa dirinya masih lagi manusia.

 

Di depanku ia terus bercerita. Tentang kronologis kejadian demi kejadian. Perkara demi perkara. Kesulitan demi kesulitan. Ia terus bercerita. Dan aku hanya mendengarkan.

 

“Aku sedang diuji, Dan. Aku tahu, bersama kesulitan ada kemudahan. Aku tahu, hidupku akan menjadi lebih baik lagi jika aku bisa melewati dan menyelesaikan semua persoalan ini.”

 

Aku tersenyum menarik nafas panjang. Tak beberapa lama ia pun pamitan. Kuantar ia ke gerbang.

 

Sebelum menutup pintu mobil ia berkata, “Makasih, Dan. Aku lega sekarang.” Dan ia pun berlalu.

 

Baru kusadari: bahkan aku sama sekali tak berkata apa-apa. Tak ada kalimatku yang kunilai cukup berarti untuk membantu melegakan persoalannya. Ia hanya ingin bercerita. Menumpahkan segerombolan keunekan dalam hati dan kepalanya.

 

Terkadang kita lupa, orang biasanya memang cenderung membutuhkan tempat bicara. Tempat di mana ia bisa menggelontorkan apa yang ada di pikirannya. Bukan minta pertolongan atau bahkan semacam solusi. Ia hanya butuh tempat. Tempat di mana ia merasa didengar, dianggap, dan dimanusiakan.

 

Ya, kita terkadang lupa akan hal itu.

 

8 Juni 2008 | 02.56

 

* dari QS 94 : 5-6.

Sumber gambar.