Bagaimana kekekuatan blurb untuk sebuah buku? Tentu bisa macam-macam. Sebagai daya jual? Puja-puji? Atau sekadar ucapan selamat? Bisa macam-macam. Tergantung maksud penerbit buku yang bersangkutan. Bisa juga tergantung penulisnya.

Penulis berbobot atau sudah lagi punya nama, tetap sah-sah saja menggunakan blurb bagi bukunya. Meski boleh saja orang berpikir: sebagai penulis, namanya barangkali sudah merupakan jaminan bahwa bukunya bakal laris manis di pasaran. Tapi bagaimana dengan penulis yang baru muncul di ranah perbukuan? Apakah blurb memang dapat dianggap sebagai penguat karyanya ketika dilempar ke pasaran?

Banyak sekali kita temui penulis yang, baik namanya maupun karyanya, baru beberapa kali berseliweran, namun di cover belakang bukunya memajang nama-nama penulis besar atau orang-orang dengan kapasitas yahud. Tapi ada juga yang memajang komentar teman-temannya sendiri. Apakah itu semua dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai sebuah karya? Jawabannya (tentu) bisa iya, bisa juga tidak.

Tadi malam aku baru saja mendapatkan kiriman contoh cover buku baru karya Lala yang sebentar lagi bakal terbit. Judulnya Blings of My Life. Ketika kali pertama dimintai tolong untuk menuliskan endorsement, tentu yang pertama kutanyakan adalah jenis tulisannya. Maka ketika ia kirimkan juga softcopy naskah bukunya itu, dengan cepat naskah itu kusorongkan ke harddisk laptop, dan dengan selamat mendekam selama: hampir dua minggu tanpa sempat kubaca sama sekali. Ketika setiap hari ditagih-tagih terus, baru aku tersadar, aku belum lagi menunaikan apa yang ia minta.

Akhirnya naskah buku itu kubaca sebisanya, dan dengan sebisanya pula kutulis sebuah endorsement. Tak sampai limat menit, dan kukirmkan melalui YM saat sedang online dengannya. Tak sampai lima menit! Aku sendiri heran, betapa cepat dan mudahnya menuliskan satu paragraf endorsement bagi naskah buku itu. Padahal, sejak kali pertama dikirim, jujur saja, aku belum tergerak untuk cepat-cepat membaca naskah itu selama hampir dua minggu. Apalagi menuliskan endorsement. Hati ini belum lagi tergerak. Soul-nya belum dapat. Namun begitu waktunya sudah mepet jadwal naik cetak, aku bisa dengan mudah membaca dan membuat apa yang ia minta.

Nah, apakah endorsement yang kutulis itu menggambarkan isi naskahnya? Apakah aku sudah berbuat jujur terhadap endorsement tersebut? Lantas apakah sejumput kalimatku dapat dijadikan tolak ukur? Aku sendiri meragukan (tapi aku sudah berusaha). Dan yang lebih penting dari itu semua: siapalah Daniel Mahendra, sehingga kata-katanya layak dipajang sebagai blurb pada sebuah buku (sungguh, ini kalimat serius, bukan kelakar).

Tak jarang kudengar penulis-penulis besar membocorkan rahasia pengalamannya ketika diminta membuat endorsement bagi penulis-penulis tertentu. Ada yang dibaca telaten seluruhnya, ada yang dibaca bagian yang dianggap menarik saja, ada pula yang membaca terburu-buru ketika telah ditagih oleh penerbit (atau penulis).

Namun blurb tetaplah sebuah blurb. Selain cover, blurb pun dapat berfungsi sebagai pemanis etalase ketika kita hendak memasuki sebuah toko. Karena dari kesemuanya itu, semua berpulang pada pembaca itu sendiri dalam menilai karya seorang penulis. Bisa saja terkecoh, bisa menyesatkan, bisa pula justru sebaliknya: jadi lebih tertarik. Tapi tetap: semua kembali juga pada kualitas penulis tersebut dalam merawi sebuah karya.

Nah, Lala alias Mbul, sudah kutunaikan apa yang kau minta. Selamat atas terbitnya bukumu yang barangkali tak lama lagi. Semoga panjang umur alias tak mati muda, serta dibaca banyak orang, banyak kalangan. Aku tak menyangka kalau endorsement-ku ternyata malah diletakkan di cover depan (siapa yang sebetulnya hendak dijual: kamu atau aku? Haha! Becanda!). Tapi sekali lagi selamat! Berbahagialah karena hamilmu telah melahirkan jabang bayi sebuah buku. Tentu mamamu senang. Dan pacarmu akan lipat kali sayangnya terhadapmu. Tapi, ingat: it’s only a beginning. Sukses, La!

Terus dan terus menulis!

27-28 September 2008 | 04.12 wib