Kerap kali aku mengalami keadaan yang begitu bertepatan. Entah itu suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa. Pada Desember 2005, untuk keperluan terbit ulang, aku baru saja selesai mengedit roman Anak Semua Bangsa, satu dari Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, di teras samping rumahnya di desa Bojonggede, Kabupater Bogor, Jawa Barat.
Matahari sedang ramah. Suasana begitu sejuk, angin berkesiur menggelitiki daun-daun pepohonan yang melambai-lambai lembut minta perhatian. Ya, aku memang lebih memilih mengedit di rumah Pram di Bojonggede ketimbang di rumah Pram Utan Kayu, Jakarta. Alasannya sangat sederhana:
Di Jakarta sangat kota. Hiruk pikuk, panas, waktu terasa berjalan begitu bergegas, dan aku tak pernah bisa lepas dari kipas angin. Sementara di Bojong, atmosfirnya sangat pedesaan, seolah layaknya liburan. Sesekali main ke ladang yang terhampar luas di belakang rumah, menghirup udara sehat, dan yang tak kalah mengasyikan: setiap saat dapat bertemu Pram serta menyeruput kopi bersama di beranda rumah atau di ladang sembari menemaninya membakar sampah. Selain perpustakaan Pram di Utan Kayu sudah diboyong ke Bojong, untuk keperluan kerja, sudah barang tentu aku banyak menghabiskan waktu dengan tenggelam di dalamnya.
Nah, ketika baru saja sampai di halaman terakhir buku Anak Semua Bangsa, tertulis tahun penulisan: 1975. Aku terhenyak! Itu tahun aku lahir. Pada saat aku baru lagi lahir, Pram sedang dan sudah menyelesaikan roman besarnya itu yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di seluruh dunia.
Aku masih lagi terpaku pada halaman terakhir buku itu. Tahun 2005 berarti sudah 30 tahun usia novel itu. Sama persis dengan usiaku pada saat itu. Tidak pernah kusangka sama sekali bahwa 30 tahun kemudian, aku mengedit karya sastrawan besar Indonesia yang berkali-kali diganjar nominasi penghargaan Nobel sastra itu. Aku tidak pernah mengira bahwa Pram menulis karya itu pada tahun 1975, sama dengan tahun lahirku. 30 tahun kemudian, 2005, aku mengedit karya itu, di 30 tahun usiaku. Aku menyebutnya sebuah keadaan yang bertepatan. Aku termasuk orang yang tidak percaya pada kebetulan. Bukan bermaksud sentimentil, tapi aku tahu: Tuhan mengirimku pada keadaan yang bertepatan seperti itu untuk juga belajar.
Continue Reading »