Archive for the 'Buku' Category

Aku, Anak Matahari

Aku kehilangan tangan kiriku sebatas sikut di usia 11 tahun pada Oktober 1974. Setelah itu, Bapak dan Emak mempersiapkanku dengan cinta agar aku bisa menghadapi kehidupan yang keras tanpa merasa rendah diri (Gola Gong)

Orangtua mana yang menginginkan anaknya lahir cacat? Siapa pun di dunia ini tidak ada yang menginginkan mempunyai anak cacat. Semua orangtua ingin anaknya kelak menjadi orang yang berhasil dan berguna di masyarakat. Namun, takdir berbicara lain, siapa pun tak dapat menolaknya.

Begitu lah sepenggal paragraf di cover belakang buku terbaru karya Gola Gong, Aku, Anak Matahari, terbitan Penerbit Semesta (Salamadani), November 2008. Apa yang Gola Gong tulis? Novel kah? Ternyata bukan. Rupanya ia merawi sebuah memoar perjalanan hidupnya. Sebuah memoar pendidikan keluarga di mana peran orangtua sangat mempengaruhi perjalanan hidup seseorang.

Waktu aku SMP, jujur saja, gaya tulisanku bernafaskan Hilman Hariwijaya, pengarang Lupus yang tersohor itu. Apa boleh buat, saat itu Hilman dan Lupus-nya memang sedang berkibar serta sangat mempengaruhi aku dalam menulis.

Continue Reading »

Blings of My Life dan Sebuah Blurb

Bagaimana kekekuatan blurb untuk sebuah buku? Tentu bisa macam-macam. Sebagai daya jual? Puja-puji? Atau sekadar ucapan selamat? Bisa macam-macam. Tergantung maksud penerbit buku yang bersangkutan. Bisa juga tergantung penulisnya.

Penulis berbobot atau sudah lagi punya nama, tetap sah-sah saja menggunakan blurb bagi bukunya. Meski boleh saja orang berpikir: sebagai penulis, namanya barangkali sudah merupakan jaminan bahwa bukunya bakal laris manis di pasaran. Tapi bagaimana dengan penulis yang baru muncul di ranah perbukuan? Apakah blurb memang dapat dianggap sebagai penguat karyanya ketika dilempar ke pasaran?

Banyak sekali kita temui penulis yang, baik namanya maupun karyanya, baru beberapa kali berseliweran, namun di cover belakang bukunya memajang nama-nama penulis besar atau orang-orang dengan kapasitas yahud. Tapi ada juga yang memajang komentar teman-temannya sendiri. Apakah itu semua dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai sebuah karya? Jawabannya (tentu) bisa iya, bisa juga tidak.

Tadi malam aku baru saja mendapatkan kiriman contoh cover buku baru karya Lala yang sebentar lagi bakal terbit. Judulnya Blings of My Life. Ketika kali pertama dimintai tolong untuk menuliskan endorsement, tentu yang pertama kutanyakan adalah jenis tulisannya. Maka ketika ia kirimkan juga softcopy naskah bukunya itu, dengan cepat naskah itu kusorongkan ke harddisk laptop, dan dengan selamat mendekam selama: hampir dua minggu tanpa sempat kubaca sama sekali. Ketika setiap hari ditagih-tagih terus, baru aku tersadar, aku belum lagi menunaikan apa yang ia minta.

Continue Reading »

9 Matahari untuk Adenita

Aku terdiam. Bukan tidak tahu jawabannya, tapi menunggu waktu yang pas dan

mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan apa yang ada dalam kepalaku melalui mulutku. Sesuatu yang agak ekstrim*. 

Kebahagiaan macam apa yang tak dapat ditukar dengan mata uang negara manapun? Tentu ada banyak macam. Setiap orang pasti punya pengalaman menarik yang membanggakan. Begitu juga denganku. Setahun lalu tepat di bulan yang sama aku pernah mendapatkan kebahagiaan semacam itu. Luapan kebahagiaan yang hanya dapat diukur dengan rasa ketika mendapatkan E-mail dari Seseorang hingga sampailah pada Pagi Ini Indah Sekali…

 

2 hari lalu aku mendapatkan juga kebahagiaan semacam itu. Bangunan ceritanya memang tidak sama. Namun mendapat kabar bahwa seseorang berhasil menerbitkan buku yang ia idam-idamkan, betapa membanggakannya!

 

Siang 21 Agustus lalu tiba-tiba masuk sebuah komentar di tulisan Bagaimana Penulis Menemukan Jodohnya. Dari Adenita. Adenita? Ya. Tentu saja aku mengenal nama itu. Dan pernah menceritakan tentangnya sebagai tokoh di blog ini. 

Bukan sekali dua aku merawi tentang seseorang di mana tiba-tiba orang yang kumaksud tanpa sengaja mampir ke blog ini dan membacanya. Tentu saja ia terbalalak. Aku? Cukup cangar-cengir saja karena ketahuan (tidak ada seorang pun yang berjalan di atas bumi ini yang tak memiliki kans untuk kutulis kisah hidupnya).

Continue Reading »

200 Tahun Sejak 2008, Adakah yang Masih Mengenal Kita?

Kerap kali aku mengalami keadaan yang begitu bertepatan. Entah itu suatu keadaan, kejadian, atau peristiwa. Pada Desember 2005, untuk keperluan terbit ulang, aku baru saja selesai mengedit roman Anak Semua Bangsa, satu dari Tetralogi Pramoedya Ananta Toer, di teras samping rumahnya di desa Bojonggede, Kabupater Bogor, Jawa Barat.

 

Matahari sedang ramah. Suasana begitu sejuk, angin berkesiur menggelitiki daun-daun pepohonan yang melambai-lambai lembut minta perhatian. Ya, aku memang lebih memilih mengedit di rumah Pram di Bojonggede ketimbang di rumah Pram Utan Kayu, Jakarta. Alasannya sangat sederhana:

 

Di Jakarta sangat kota. Hiruk pikuk, panas, waktu terasa berjalan begitu bergegas, dan aku tak pernah bisa lepas dari kipas angin. Sementara di Bojong, atmosfirnya sangat pedesaan, seolah layaknya liburan. Sesekali main ke ladang yang terhampar luas di belakang rumah, menghirup udara sehat, dan yang tak kalah mengasyikan: setiap saat dapat bertemu Pram serta menyeruput kopi bersama di beranda rumah atau di ladang sembari menemaninya membakar sampah. Selain perpustakaan Pram di Utan Kayu sudah diboyong ke Bojong, untuk keperluan kerja, sudah barang tentu aku banyak menghabiskan waktu dengan tenggelam di dalamnya.

 

Nah, ketika baru saja sampai di halaman terakhir buku Anak Semua Bangsa, tertulis tahun penulisan: 1975. Aku terhenyak! Itu tahun aku lahir. Pada saat aku baru lagi lahir, Pram sedang dan sudah menyelesaikan roman besarnya itu yang telah diterjemahkan ke dalam 42 bahasa di seluruh dunia. 

Aku masih lagi terpaku pada halaman terakhir buku itu. Tahun 2005 berarti sudah 30 tahun usia novel itu. Sama persis dengan usiaku pada saat itu. Tidak pernah kusangka sama sekali bahwa 30 tahun kemudian, aku mengedit karya sastrawan besar Indonesia yang berkali-kali diganjar nominasi penghargaan Nobel sastra itu. Aku tidak pernah mengira bahwa Pram menulis karya itu pada tahun 1975, sama dengan tahun lahirku. 30 tahun kemudian, 2005, aku mengedit karya itu, di 30 tahun usiaku. Aku menyebutnya sebuah keadaan yang bertepatan. Aku termasuk orang yang tidak percaya pada kebetulan. Bukan bermaksud sentimentil, tapi aku tahu: Tuhan mengirimku pada keadaan yang bertepatan seperti itu untuk juga belajar.

Continue Reading »

Cheng Ho dan Yusril Ihza Mahendra

Semalam menyaksikan tayangan Kick Andy di Metro TV. Pembicara tamunya: Yusril Ihza Mahendra, Slamet Rahardjo Djarot, Nurul Arifin, dan Betharia Sonata (selain itu aku tidak tahu. Tidak kutonton hingga tuntas).

 

Slamet Rahardjo barangkali tak perlu kubahas lagi. Sebagai orang film, ia tak perlu kuragukan lagi eksistensinya. Tapi aku tertarik pada Yusril Ihza Mahendra yang mantan menteri itu memerankan tokoh Laksamana Cheng Ho atau Zheng He dalam film Cheng Ho.

 

Film ini memang dahsyat. Kolosal. Dan dibuat oleh beberapa negara. Tak mungkin bagiku untuk tidak menyaksikannya kelak. Kenapa? Karena aku mengagumi tokoh Cheng Ho itu sendiri. Seorang Laksamana muslim utusan Kaisar Ming Chui Ti yang bertugas melakukan ekspedisi guna menjalin hubungan persahabatan dengan negara-negara di luar Tiongkok selama 28 tahun (sekitar tahun 1406 sampai tahun 1434 Masehi). 

Belum lama aku mengenal tokoh Laksamana ini. Baru sekitar tahun 2004 kalau aku tak salah ingat. Saat itu aku diminta menjadi moderator dalam diskusi bedah buku Sam Po Kong bersama Remy Sylado di Sasana Budaya Ganesha, ITB.

Continue Reading »

Ayu Utami dan Bilangan Fu

Novelis Ayu Utami akan menerbitkan karya sastra baru pada akhir Juni 2008. Diberi judul “Bilangan Fu”, novel ini mengisahkan petualangan tiga anak muda yang memburu nilai-nilai spiritualisme. Nukilan bagian awal novel ini sudah bisa dipetik dari http://www.penerbit-kpg.com/bonus/bf.pdf.

 

Di sini dikisahkan sepak terjang Yuda, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Parang Jati, seorang pemuda berjari duabelas, yang dibentuk oleh ayah angkatnya untuk menanggung duka dunia. Marja, seorang gadis bertubuh kuda teji dan berjiwa matahari. Mereka terlibat dalam segitiga cinta yang lembut, di antara pengalaman-pengalaman keras yang berawal dari kejadian gaib—orang mati yang bangkit dari kubur—menuju penyelamatan perbukitan gamping di selatan Jawa. 

Buku ini dijadwalkan beredar 30 Juni 2008 dengan harga resmi Rp55.000. Novel ini dapat dipesan sedari sekarang. Tersedia diskon 20% plus bebas ongkos kirim (DKI) untuk pemesanan sebelum 23 Juni 2008. Buku akan dikirim 30 Juni 2008. Formulir pemesanan ada di bagian belakang http://www.penerbit-kpg.com/bonus/bf.pdf.

Continue Reading »

Next Page »