Archive for the 'Catatan Perjalanan' Category

Bagaimana Kalian Mendeskripsikan Liburan?

Rawian ini berangkat dari comment Goenoeng pada postingan-ku yang lalu di mana ia menulis sesuatu yang membuatku ngakak. Katanya: ternyata Penganyam Kata juga manusia… buktinya, dia butuh berlibur juga, hahaha……

Setelah ngakak aku jadi bertanya pada diri sendiri: berliburkah aku? Aku malah berpikir keras: apa definisi dari berlibur? Setiap individu pasti punya pengertian tersendiri soal liburan.

Jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri bisa diartikan berlibur bagi sebagian orang. Tapi ada juga orang yang berdiam santai di rumah, off dari pekerjaan kantor, sudah merupakan liburan tersendiri baginya. Setiap orang memang berhak mendefinisikan pengertian liburan.

Kembali ke comment Goenoeng tadi. Beberapa hari menjelang tutup tahun 2008 banyak dari temanku yang mengambil liburan. Sementara aku sendiri sebelum tutup tahun justru sedang menjemput deadline pekerjaan. Memang bukan pekerjaan kantor. Tapi meski pekerjaan pribadi tetap saja berkejaran dengan deadline toh? (DM = Deadline Man. Hehe).

Mau tidak mau, aku mesti off dari aktivitas nge-blog untuk beberapa saat. Jangankan berkunjung ke blog handai taulan, comment di blog sendiri pun tak sempat kubalas. Apa boleh buat, segalanya mesti ada skala prioritas bukan?

Continue Reading »

Seandainya Jakarta Bukan Ibukota Negara

Seperi pelancong yang pernah pergi jauh dari rumah, lebih bijak daripada yang tak pernah. Pengetahuan akan budaya lain mampu mengasah kemampuan untuk mencermati secara mendalam budaya kita, sehingga menghargainya dengan penuh cinta (Margaret Mead)

Di zaman Hindia Belanda, kota Bandung pernah disiapkan sebagai pengganti ibukota negara. Berbagai institusi vital pun mulai dihijrahkan dan dibangun di kota Bandung. Kenapa Bandung dipilih, karena relatif dekat dengan Jakarta, suasananya tenang (saat itu), berada di dataran tinggi, serta termasuk kota baru. Namun karena perang terus berkecamuk, pemindahan itu gagal.

Di zaman Orde Lama, Presiden Soekarno pernah merencanakan memindahkan ibukota nagara dari Jakarta ke Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Soekarno ingin memisahkan antara kota pusat pemerintahan dengan kota besar semacam Jakarta. Namun Soekarno keburu turun. Rencana pemindahan pun gagal.

Saat ini kita tahu sendiri seperti apa Jakarta. Kota dengan penduduk nyaris 9 juta jiwa itu menyangga beban pusat segala hiburan, bisnis, hingga pusat pemerintahan. Dan 23 juta jiwa penduduk Jabotabek nyaris beradu periuk nasi di kota yang rentan banjir itu.

Continue Reading »

Betulkah Bahasa adalah Hasil Kesepakatan?

Ada suatu perbedaan besar antara alasan-alasan yang baik dan masuk akal dengan alasan-alasan yang kedengaranya saja baik (Burton Hills)

Setelah sekian lama tak lagi menggunakan kereta api, kali ini merasakan lagi kereta api Turangga jurusan Bandung-Solo. Sebetulnya apakah masih tepat penggunaan istilah kereta api? Karena nyatanya alat trasnportasi yang berjalan di atas rel tersebut sudah tak lagi menggunakan batu bara untuk pengapian. Kereta api di Indonesia sudah menggunakan mesin diesel atau listrik. Jadinya apa istilah yang lebih tepat untuk bahasa Indonesia?

Entah siapa orang yang kali pertama menggunakan istilah kereta api. Entah sastrawan entah orang iseng. Yang jelas bukan ahli bahasa pasti. Kalau pun dia seorang ahli bahasa, pastilah ahli bahasa yang doyan iseng.

Kuperhatikan kondisi gerbong Turangga sudah tak sebagus dulu. Meski gerbong eksekutif, tapi rasanya sudah tak nyaman-nyaman amat. Baru kuingat, gerbong Turangga usianya mungkin sudah memasuki 12 atau 13 tahun sejak kali pertama kucoba (ya pantas saja!).

Continue Reading »

Sudah Adakah Perpustakaan di Rumah Kalian?

Aku akan ceritakan kelak pada anakanak, tentang matahari, bulan, laut, gunung, pelangi, sawah, bau embun, dan tanah, aku ajari anakanak mengerti hijau rumput warna bunga dan suara (Tias Tatanka)

Secuil Catatan Perjalanan dari Ode Kampung 3

Ketika kaki menginjak tanah di depan gerbang Rumah Dunia, hari masih merangkak di angka 9 pagi. Tapi hawa rasanya sudah seperti siang hari saja. Gerah. Namun perasaan itu tiba-tiba lenyap ketika mulai memasuki halaman Rumah Dunia. Teduh dan bersahabat.

Ini bukanlah tulisan serius. Ini sekadar catatan kecil untuk merekam perjalanan ke Serang, tempat di mana Gola Gong dan kawan-kawan Rumah Dunia membangun semesta kebudayaan di sana. Perjalanan kali ini dalam rangka menghadiri Ode Kampung 3 (5,6,7 Desember 2008).

Rumah Dunia merupakan madrasah kebudayaan yang didirikan oleh Gola Gong dan istrinya, Tias Tatanka. Berada di komplek Hegar Alam nomor 40, di Kampung Ciloang, Serang, Banten. Sementara Ode Kampung sendiri merupakan acara tahunan Rumah Dunia, di mana Ode Kampung yang ke-3 kali ini mencoba mengusung tema Temu Komunitas Literasi se-Indonesia (Mari Kita Dukung Literasi Lokal Menuju Indonesia Membaca).

Continue Reading »

Anda Percaya Pada Pola Kebetulan?

When you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it | Ketika engkau menginginkan sesuatu, seluruh semesta raya akan membantumu untuk meraihnya (The Alchemist, Paulo Coelho)

Ketika sedang melaju kencang di jalan tol bersama travel Xtrans jurusan Bandung-Jakarta, aku sedang membaca The Celestine Prophecy karya James Redfield. Meski cukup kerap mendiskusikan soal pola kebetulan dengan beberapa kawan, aku sedang tenggelam dalam Wawasan Pertama dari cerita Manuskrip di buku tersebut: peristiwa-peristiwa kebetulan yang terjadi secara misterius.

Pola kebetulan. Aha! Kalian pernah mengalami kebetulan? Pasti pernah. Hal itu sering kali kita temui dalam keseharian kita bukan? Tapi apakah kebetulan itu sekadar kejadian semata? Adakah kebetulan memiliki makna lain di balik kejadian itu sendiri?

Ada orang yang tak percaya pada kebetulan. Tak ada kebetulan di dunia ini, begitu katanya. Dengan kata lain: tak ada kebetulan yang berdiri sendiri. Ia selalu diiringi dengan maksud-maksud lain yang barangkali belum kita tangkap maknanya saat kejadian itu berlangsung.

Continue Reading »

Seberapa Kalap Anda Terhadap Buku?

Secuil Cerita dari Indonesia Book Fair

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. (Charles Jones)

Kalian pernah kalap akan sesuatu hal yang kalian sukai? Entah itu hobi, belanja, atau apa saja. Kalap bukan dalam arti marah hingga lupa diri. Tapi lebih pada kalap tak kuat menahan diri atas apa yang betul-betul kita sukai. Ada yang suka otomotif, ada yang suka burung, ada yang suka pakaian, dan macam-macam lainnya.

Aku sendiri bukan tipikal orang yang suka belanja (ya iyalah!). Tapi kalo soal buku, weh, baru aku bisa kalap dalam arti sesungguhnya. Aku masih menganggap lebih baik mengenakan pakaian yang itu-itu saja ketimbang tak bisa beli buku. Masih lebih mending pakai sepatu model lama daripada tak bisa beli buku. Juga masih lebih mending pakai handphone tua, daripada tak bisa belanja buku. Tapi setelah kupikir-pikir, rupanya polanya sama saja: tergantung minat seseorang juga. Aku bisa berlebih-lebihan dalam hal buku. Sama halnya seseorang bisa berlebih-lebihan dalam soal pakaian.

Continue Reading »

Next Page »