Archive for the 'Perbukuan' Category

Seberapa Kalap Anda Terhadap Buku?

Secuil Cerita dari Indonesia Book Fair

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. (Charles Jones)

Kalian pernah kalap akan sesuatu hal yang kalian sukai? Entah itu hobi, belanja, atau apa saja. Kalap bukan dalam arti marah hingga lupa diri. Tapi lebih pada kalap tak kuat menahan diri atas apa yang betul-betul kita sukai. Ada yang suka otomotif, ada yang suka burung, ada yang suka pakaian, dan macam-macam lainnya.

Aku sendiri bukan tipikal orang yang suka belanja (ya iyalah!). Tapi kalo soal buku, weh, baru aku bisa kalap dalam arti sesungguhnya. Aku masih menganggap lebih baik mengenakan pakaian yang itu-itu saja ketimbang tak bisa beli buku. Masih lebih mending pakai sepatu model lama daripada tak bisa beli buku. Juga masih lebih mending pakai handphone tua, daripada tak bisa belanja buku. Tapi setelah kupikir-pikir, rupanya polanya sama saja: tergantung minat seseorang juga. Aku bisa berlebih-lebihan dalam hal buku. Sama halnya seseorang bisa berlebih-lebihan dalam soal pakaian.

Continue Reading »

Kebiasaan atau Percepatan?

kita semua harus menerima kenyataan, tapi menerima kenyataan saja adalah pekerjaan manusia yang tak mampu lagi berkembang. Karena manusia juga bisa membikin kenyataan-kenyataan baru. Kalau tak ada orang mau membikin kenyataan-kenyataan baru, maka “kemajuan” sebagai kata dan makna sepatutnya dihapuskan dari kamus umat manusia (Pramoedya Ananta Toer, Rumah Kaca, hal. 436)

Dulu aku pernah membuat kartu lebaran dengan konsep halaman depan koran harian. Isinya, meskipun bergaya koran, tetap berupa ucapan lebaran. Kenapa aku bikin seperti itu, alasannya sederhana saja: ingin lain dari yang lain. Siapa nyana, setiap teman yang menerima selalu menilai unik dan suka. Tapi sebetulnya tak ada yang tahu, bahwa aku membuat kartu tersebut dengan teknis yang sangat-sangat manual dan sederhana. Maksudnya?

Aku mengetik di Microsoft Word (atau mungkin Amipro? Lupa!), setelah itu aku print, lalu aku tempel di sebuah karton manila ukuran A2. Ditempel sesuai format halaman koran plus ditempeli foto. Begitu selesai, aku potret, jepret! Lalu aku cetak dengan ukuran 4R atau 5R. Kuperbanyak sesuai kebutuhan sebagai kartu lebaran. Tak ada yang tahu, kartu lebaran berupa foto itu kubuat dengan teknik mounting yang sangat-sangat manual. Orang hanya tahu dalam bentuk jadinya saja.

Beberapa saat sejak masa itu, bermunculan program DTP atau desktop publishing: Pagemaker. Olala!! Bahwa apa yang kubuat dengan kartu lebaran kemarin itu bisa dengan mudah di-lay out di Pagemaker. Bahkan juga di Corel. Hhh! Aku memang tidak pernah mengalami masa Quack Express, salah sebuah program DTP juga (menurut seorang kawan designer, hingga saat ini masih ada penerbit yang menggunakan Quack Express).

Continue Reading »

Blings of My Life dan Sebuah Blurb

Bagaimana kekekuatan blurb untuk sebuah buku? Tentu bisa macam-macam. Sebagai daya jual? Puja-puji? Atau sekadar ucapan selamat? Bisa macam-macam. Tergantung maksud penerbit buku yang bersangkutan. Bisa juga tergantung penulisnya.

Penulis berbobot atau sudah lagi punya nama, tetap sah-sah saja menggunakan blurb bagi bukunya. Meski boleh saja orang berpikir: sebagai penulis, namanya barangkali sudah merupakan jaminan bahwa bukunya bakal laris manis di pasaran. Tapi bagaimana dengan penulis yang baru muncul di ranah perbukuan? Apakah blurb memang dapat dianggap sebagai penguat karyanya ketika dilempar ke pasaran?

Banyak sekali kita temui penulis yang, baik namanya maupun karyanya, baru beberapa kali berseliweran, namun di cover belakang bukunya memajang nama-nama penulis besar atau orang-orang dengan kapasitas yahud. Tapi ada juga yang memajang komentar teman-temannya sendiri. Apakah itu semua dapat dijadikan tolak ukur dalam menilai sebuah karya? Jawabannya (tentu) bisa iya, bisa juga tidak.

Tadi malam aku baru saja mendapatkan kiriman contoh cover buku baru karya Lala yang sebentar lagi bakal terbit. Judulnya Blings of My Life. Ketika kali pertama dimintai tolong untuk menuliskan endorsement, tentu yang pertama kutanyakan adalah jenis tulisannya. Maka ketika ia kirimkan juga softcopy naskah bukunya itu, dengan cepat naskah itu kusorongkan ke harddisk laptop, dan dengan selamat mendekam selama: hampir dua minggu tanpa sempat kubaca sama sekali. Ketika setiap hari ditagih-tagih terus, baru aku tersadar, aku belum lagi menunaikan apa yang ia minta.

Continue Reading »

Berapa Uang yang Anda Belanjakan untuk Buku?

Dalam sebulan, berapa uang yang Anda belanjakan untuk buku? Siapa bisa menjawab? Di bawah Rp100 ribu? Di bawah Rp500 ribu? Di bawah Rp1 juta? Atau di atas Rp1 juta? Cukup jawab dalam hati saja. 

Harga buku yang melambung tinggi diharapkan bukan menjadi penghalang minat baca masyarakat. Pemerintah diminta untuk mencari solusi dengan pengembangan sistem buku elektronik (e-Book) melalui akses internet.

 

Hal itu disampaikan Ketua Ikapi Dadi P Rahmanata di sela-sela pembacaan buku secara serentak di Balai Kota, Jalan Wastukencana, Minggu (18/5/2008). 

Begitu dua paragraf berita yang kukutip dari detikbandung.com (ngutip lagi, Na…).

Continue Reading »

Betulkah Minat Baca Masyarakat Itu Rendah?

Minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah membuat Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat dan Pemkot Bandung menggelar acara membaca buku secara serentak. Sedikitnya 10 ribu peserta yang mayoritas anak kecil membaca buku berbagai judul di Halaman Balai Kota Bandung, Jl Wastukencana, Minggu (18/5/2008).

 

Menurut Ketua Panitia Mahpudi kegiatan ini untuk menarik minat baca masyarakat yang makin hari makin rendah. Untuk itu, lanjut dia, sengaja pihak panitia membuat undian bagi peserta yaitu hadiah umroh dari Walikota Dada Rosada.

 

Begitu lah dua paragraf pertama berita detikbandung.com tentang acara Membaca Serempak dengan Peserta Terbanyak yang ditulis ‘ern’ (ngutip ya, Na, sorry. Hehe!).

 

Sampai dengan hari ini aku masih belum percaya bahwa minat baca masyarakat itu rendah. Aku malah lebih mempercayai bahwa minta baca masyarakat itu tinggi. Tinggi sekali malah. Hanya daya belinya yang memang rendah.

Continue Reading »

Membaca Serempak dengan Peserta Terbanyak

PEMECAHAN REKOR MURI:

Membaca Serempak dengan Peserta Terbanyak

dalam Rangka

PERINGATAN HARI BUKU NASIONAL 2008 TINGKAT KOTA BANDUNG

 

Plaza Balai Kota (Pemkot)

Jalan Wastu Kancana No. 2 Bandung

Minggu, 18 Mei 2008

9.00 s.d. 13.00

 

- Diselenggarakan serentak di kota-kota besar seluruh Indonesia:

   Jakarta, Bandung, Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya

- Dihadiri oleh semua lapisan masyarakat Kota Bandung:

   pelajar, ormas, parpol, pejabat pemerintahan, olahragawan,

   artis dan public figure se-Kota Bandung

- Diliput media massa: cetak dan elektronik

Continue Reading »

Aksi Simpatik Hari Buku Nasional 2008

Ikapi Jaya, Jakarta 8 Mei 2008 -  Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jaya, dengan bekerja sama dengan Perpustakaan Umum Daerah (Perpumda) DKI Jaya, akan menyelenggarakan sejumlah kegiatan berkaitan dengan Hari Buku Nasional yang jatuh tanggal 17 Mei dengan tema “Aku Bisa Karena Aku Baca”. Kegiatan-kegiatan itu berupa aksi simpatik, sumbangan buku untuk taman bacaan masyarakat, dan bengkel penulisan untuk pelajar dan mahasiswa.

 

Aksi simpatik akan berlangsung pada 16 Mei 2008 di Bunderan Hotel Indonesia Jakarta. Aksi ini akan melibatkan sekurangnya 400 orang yang mewakili kalangan penerbit, penulis, editor, pustakawan dan pekerja perbukuan. “Aksi ini ditujukan untuk menggugah kesadaran masyakarat tentang pentingnya minat baca,” kata Hikmat Kurnia, Wakil Ketua Panitia Hari Buku Nasional 2008. Dalam aksi ini, para peserta aksi akan membagikan 14.000 stiker dan 2.000 pulpen yang berisikan ajakan untuk meningkatkan minat baca.

Continue Reading »

Next Page »