Archive for the 'Renungan' Category

2058

Sekalipun di dunia ini engkau adalah yang paling terpelajar pada zamannya, ingatlah dunia ini dan zaman ini akan lenyap! (Rumi’s Daily Secrets, Jalaluddiin Rumi)

50 tahun dari sekarang, tak ada lagi orang yang pernah merasakan bau mesiu perang kemerdekaan.
50 tahun dari sekarang, orang yang sangat tua adalah ia yang lahir di tahun 1960-an.
50 tahun dari sekarang, orang terbelalak mengatahui siapa dalang tragedi 1965.
50 tahun dari sekarang, benda bernama kaset berpita tak ada lagi alat pemutarnya.
50 tahun dari sekarang, orang yang masih pakai Core2Duo dianggap gila.
50 tahun dari sekarang, anak remaja akan bertanya: apa itu SMS?
50 tahun dari sekarang, semua rumah di kota Bandung menggunakan AC.
50 tahun dari sekarang, orang masih sibuk berkata: prostitusi harus dihapuskan!
50 tahun dari sekarang, pertemuan fisik merupakan kejadian istimewa.
50 tahun dari sekarang, orang mulai bertanya: mengapa menikah mesti karena cinta?
50 tahun dari sekarang, menjadi presiden masih merupakan impian.
50 tahun dari sekarang, militer sama derajatnya dengan sipil.
50 tahun dari sekarang, banyak anak jarang bertemu orangtuanya.
50 tahun dari sekarang, orang sudah tidak bingung lagi menggunakan hukum kapitalis atau sosialis.

Continue Reading »

Beranikah Kita Mendefinisikan Sejarah?

Mencintai sebuah negara adalah hal yang baik. Tapi mengapa cinta itu harus berhenti di perbatasan? (Pablo Casals)

Sejatinya tulisan ini hanyalah komentarku atas tulisan Sebutan Itu di blog Imelda Coutrier Miyashita. Namun karena pikiran ini kerap semau-maunya sendiri kalau sudah bertemu dengan tema yang menarik, sehingga jari sudah di luar kendali tuannya lagi. Menggerus keyboard tanpa kenal ampun. Maka adalah merupakan kegatalan tersendiri untuk memposting tulisan yang sejatinya merupakan komentar, di blog sendiri. Bukan bermaksud hendak tidak praktis, namun sudah barang tentu akan lebih lengkap jika sebelumnya membaca tulisan Sebutan Itu tersebut di blog Imelda Coutrier Miyashita.

Menurutku sejarah tidak baku sifatnya. Dia elastis mengikuti perkembangan zaman, sejauh ditemukan fakta-fakta baru yang mendukung akan suatu hal. Meski tak bisa dinafikan: sejarah terkadang ditentukan juga oleh siapa yang menang.

Di Indonesia kita bisa lihat pada kejadian-kejadian Tragedi G30S misalnya. Atau Serangan Umum di Yogyakarta. Tiba-tiba ada tokoh atau nama yang diangkat ke permukaan. Kenapa nama itu jadi terangkat dan seolah memegang peran penting? Karena pemerintah yang berkuasa saat itu sedang pegang peran.

Jika sudah demikian, jelaslah, definisi atau cara berpikir tentang siapa yang disebut pahlawan tidaklah baku atau kaku. Setiap negara, bahkan setiap kepala bisa punya frame tersendiri tentang pahlawan.

Continue Reading »

Krisis Identitas?

I’m starting with the man in the mirror. I’m asking him to change his ways. And no message could have been any clearer. If you wanna make the world a better place, take a look at yourself, and then make a change (Man In The Mirror, Bad, Michael Jackson. Lyric by: Siedah Garret & Glen Ballard)

Seseorang bertanya padaku di YM: “Kamu pasti tidak pernah mengalami krisis identitas?” Kujawab dengan cepat pertanyaan itu: “Tidak pernah”. Meski dalam hati aku jadi berpikir: kenapa dia bisa bertanya dengan kalimat seperti itu.

Tapi seingatku, rasanya aku memang tidak pernah mengalami apa yang disebut dengan krisis identitas. Tidak, tidak berarti aku tidak pernah mengalami down, kegagalan, atau hopeless di tengah lapang kehidupan. Tentu saja pernah. Dan itu manusiawi. Tapi sampai krisis identitas?

Sebetulnya adakah orang yang betul-betul bisa mengenal dirinya hingga 100 persen? Aku ragu ada orang seperti itu. Bahkan seorang psikolog sekalipun. Nyatanya kita tetap membutuhkan orang lain untuk mengenal diri kita sendiri.

Continue Reading »

Dunia yang Serba Mungkin

You may give them your love but not your thoughts. For they have their own thoughts. You may house their bodies but not their souls, For their souls dwell in the house of tomorrow, which you cannot visit, not even in your dreams. (The Prophet, Children, Kahlil Gibran)

Kalian suka anak-anak? Kalau suka, seberapa suka? Ah, mana ada parameter mengukur kadar suka pada anak-anak? Aku tidak tahu. Beberapa orang terkadang memang sangat-sangat suka pada anak-anak. Bahkan mendedikasikan hidupnya di ranah pekerjaan yang concern terhadap anak-anak.

Aku sendiri belum bisa seperti itu. Masih terkagum-kagum pada orang yang mau mendedikasikan hidupnya untuk memperhatikan kualitas anak-anak melalui pendidikan atau semacamnya. Nyatanya tak sekadar kepintaran untuk bisa terjun ke lapangan anak-anak. Dibutuhkan rasa. Rasa yang tak semua orang memilikinya.

Bukankah anak-anak selamanya menyenangkan? Ia hanya mau bermain dan memberi. Memberi rasa cinta yang sesungguhnya. Tak dibuat-buat. Tidak seperti orang dewasa. Hanya terkadang kita tak pernah mau belajar dari anak-anak. Merasa menjadi sesosok makhluk yang disebut: dewasa, sementara memperlakukan anak-anak sebagai makhluk dewasa dalam tubuh anak-anak.

Continue Reading »

Samsara

Tengah malamnya lewat sudah. Tiada kejutan tersisa. Aku terlunta, tanpa sarana. Saluran tuk ku bicara. (Selamat Ulang Tahun, Rectoverso, Dewi Lestari)

Sering kali aku berpikir apa yang sebetulnya bersemayam dalam kepalamu. Tak jarang aku tergeragap, tak punya sandaran, dan butuh pegangan menyaksikan apa yang telah kau bicarakan. Tak sampai dua kutemui sosok sepertimu.

Sejak kali pertama mengenalmu, aku sudah merasa: kau tak biasa. Yang terkadang membuat kawan-kawanku mengolok-olok aku karena lebih memilihmu ketimbang yang lain. Tapi nyatanya kau memang lebih gemilang lagi sederhana.

Mesti dengan cara apa untuk mengurai tentangmu. Aku tak pernah menemukan kosakata yang pas. Tak juga tesaurus bahkan kamus paling lengkap sedunia untuk mendefinisikan siapa kamu. Kau lebih mandiri ketimbang pengertian mandiri itu sendiri.

Continue Reading »

Sudah Sebegitu Miskinkah Negeri Ini?

Sulitkah menjawab pertanyaan judul di atas? Rasanya makin absurd saja. Di satu sisi kemiskinan nyata-nyata di depan mata. Untuk sebagian orang mendapatkan uang Rp10 ribu sehari bisa jadi sulitnya minta ampun. Tapi bagi anggota legislatif, juga eksekutif, yang gajinya puluhan juta sebulan (gaji saja!), mengeluarkan uang Rp10 ribu barangkali sembari tertawa saja.

Pagi ini aku mesti terhenyak ketika membuka Kompas edisi Sabtu 18 Oktober 2008. Di halaman 23 terpampang sebuah foto berita tentang ojek sepeda. Yang membuat terhenyak adalah apa yang tertulis di caption foto tersebut:

Seorang pengojek sepeda di Pasar Raya Padang mendorong kendaraannya karena muatan terlalu berat, Jum’at (17/10). Ia hanya mendapat upah Rp1.000. Sementara itu, kehilangan atau kerusakan barang selama pengangkutan menjadi tanggung jawab pengojek. Ikan teri dalam plastik yang sedang ia angkut itu harganya Rp600.000.

Wow!! Seribu perak untuk jasa angkut seperti itu! Memang di caption itu tidak disebutkan jarak angkutnya. Namun jika mengingat tenaga yang dikeluarkan serta risiko pengangkutan yang mesti menjadi tanggung jawabnya, rasanya gila juga.

Continue Reading »

Persahabatan Blogger, Ada dan Nyata

Persembahkan yang terindah bagi persahabatan. Jika ia harus tahu musim surutmu, biarlah ia mengenali pula musim pasangmu. Karena persahabatan kan kehilangan makna jika mencarinya sekadar bersama guna membunuh waktu. Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu (The Prophet, Kahlil Gibran)

Pagi tadi aku mendapatkan sebuah kiriman paket bersampul coklat. Melongok siapa pengirimnya membuatku terlonjak girang. Pasti isinya oleh-oleh dari luar negeri, batinku. Cepet-cepet kuambil cutter, membuka dengan rapi, jangan sampai ada satu sisi sampul pun yang tersayat apalagi tersobek.

Begitu sampul terbuka, isinya ternyata berupa dus biskuit coklat TamTam. Weh?! Dari luar negeri kok ngoleh-ngolehi TamTam? Hehehe. Rupanya itu hanya dus belaka. Ketika kubuka, di dalamnya bersembunyi selembar t-shirt putih bertuliskan Filipino dan manisan mangga. Aih…

Sudah jelas ini kiriman dari Kristanti Parisihni atau akrab kupanggil Mbak Tanti. Ia memang baru kembali dari Filipina dan Hongkong beberapa hari lalu. Tak menyangka sama sekali kalau aku kebagian oleh-oleh dari sana. Yang bikin ngakak, selembar kaus dan manisan mangga itu dibungkus di dalam kantung plastik laundry Hotel Manila. Haha! Ada-ada saja.

Di samping bingkisan itu, ada sepucuk surat. Ditulis di atas kertas putih meringis berlogo Manila Hotel. Manis sekali rawian tangannya. Simaklah:

Continue Reading »

Next Page »